Berita Viral
Tangis Fatimah di Bantargebang: Menantu Hilang Tertimbun Longsor Sampah, Mobil dan Tas
Fatimah mengaku tak pernah membayangkan menantunya menjadi korban dalam peristiwa longsor Bantargebang.
Editor: Amir M
Ringkasan Berita:
- Fatimah menunggu dengan cemas di TPST Bantargebang, berharap menantunya, sopir truk Riki Supiadi, segera ditemukan setelah hilang akibat longsor gunungan sampah.
- Peristiwa yang terjadi Minggu (8/3/2026) itu menewaskan lima orang dan menimbun korban hingga kedalaman sekitar 10 meter.
- Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian dengan mengerahkan ratusan personel dan alat berat di lokasi.
TRIBUNTRENDS.COM – Fatimah hanya bisa menunggu dengan hati penuh cemas di TPST Bantargebang.
Air matanya sesekali jatuh saat ia berharap menantunya, seorang sopir truk yang bekerja di lokasi tersebut, segera ditemukan setelah longsor gunungan sampah terjadi.
Di tengah proses pencarian yang masih berlangsung, Fatimah hanya bisa memanjatkan harapan agar kabar tentang orang yang ia tunggu segera datang.
Seperti diketahui, gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, longsor pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Peristiwa ini bermula saat sejumlah truk sampah mengantre untuk membuang muatan di area pembuangan TPST Bantargebang pada Minggu siang.
“Pada saat truk sampah antre mau buang sampah sekitar pukul 14.30 WIB, tiba-tiba tumpukan sampah longsor sehingga sopir yang antre untuk buang sampah tertimbun longsoran sampah," ujar anggota rescue Damkar Kota Bekasi, Eko Uban saat dikonfirmasi, Minggu.
Menantu hilang di longsor Bantargebang
Fatimah (61) duduk termenung di Posko Pengaduan Orang Hilang di TPST Bantargebang, Senin (9/3/2026).
Sesekali, ia mengusap air mata yang jatuh perlahan di pipinya.
Perempuan lanjut usia itu menunggu dengan harap-harap cemas.
Ia berharap menantunya, Riki Supiadi (40), yang bekerja sebagai sopir truk di TPST Bantargebang, dapat segera ditemukan setelah longsor terjadi di area tersebut pada Minggu (8/3/2026) sore.
Fatimah mengaku tak pernah membayangkan menantunya menjadi korban dalam peristiwa nahas itu.
“Dia sopir di sini.
Mobilnya sudah ketemu, terus tasnya juga ada, uangnya ada, tapi orangnya enggak ada,” kata Fatimah dengan suara lirih, Senin.
Menurut Fatimah, Riki berangkat bekerja ke TPST Bantargebang sejak Sabtu (7/3/2026).
Sejak saat itu, keberadaannya belum diketahui.
Fatimah mengaku, kabar tentang longsor baru ia ketahui pada malam hari melalui pesan dan telepon dari keluarga.
Mendengar kabar tersebut, Fatimah langsung berangkat dari rumahnya di Bogor menuju Bantargebang tanpa banyak berpikir.
“‘Ma, Buyung kena longsor,’ katanya. Pas dengar kabar itu saya kaget banget, dan langsung berangkat ke sini.
Tadinya anak, cucu pada ikut.
Karena mereka ada yang kerja, sekolah, jadi saya suruh pulang,” tuturnya.
Fatimah masih mengingat jelas komunikasi terakhirnya dengan Riki. Percakapan itu terjadi pada malam pertama bulan puasa.
Saat itu, Riki menghubunginya hanya untuk memberi tahu nomor telepon barunya.
Sementara itu, komunikasi terakhir Riki dengan istrinya terjadi sebelum ia berangkat bekerja pada Sabtu.
Bahkan, setibanya di lokasi kerja, ia sempat melakukan panggilan video call.
“Pas waktu hari Sabtu dia sampai sini dia video call,” ujar Fatimah.
Di lingkungan keluarga, Riki akrab dipanggil Buyung.
Ia telah bekerja sebagai sopir truk di kawasan TPST Bantargebang sejak masih lajang.
“Anak saya sudah jadi sopir di sini sejak bujangan.
Kira-kira sudah 20 tahun lebih lah sampai sekarang,” ucap Fatimah.
Selama lebih dari dua dekade bekerja di kawasan pengolahan sampah terbesar di Indonesia itu, Riki dikenal sebagai sosok yang jarang mengeluhkan pekerjaannya.
Menurut Fatimah, lingkungan kerja yang sudah ia kenal sejak lama membuat Riki merasa nyaman menjalani profesinya.
“Dia tidak pernah mengeluh soal kerjaannya.
Jadi merasa amanlah ya, maka teman-temannya juga banyak di sini,” katanya.
Kini, Riki meninggalkan seorang istri dan lima anak yang masih kecil.
Anak bungsunya bahkan baru berusia dua bulan, sementara anak sulungnya masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
“Anaknya masih kecil-kecil.
Ada lima,” tutur Fatimah.
Di tengah aktivitas tim pencarian yang masih berlangsung di area longsor TPST Bantargebang, Fatimah memilih untuk melihat proses evakuasi salah satu jasad yang baru saja ditemukan oleh tim gabungan.
Meski diliputi kecemasan, Fatimah mencoba tetap berharap.
Baginya, yang terpenting adalah menantunya dapat segera ditemukan.
“Mudah-mudahan ketemu, kalau bisa selamat.
Apapun adanya, mudah-mudahan ketemu.
Itu saja yang Ibu minta,” kata Fatimah.
Baca juga: Teriakan Seorang Petugas di TPA Putri Cempo Solo, Tewas Terperosok ke Mesin Penggiling Sampah
Pencarian korban Senin pagi
Pada Senin (9/3/2026) pagi, petugas terus melakukan pencarian korban di area longsoran yang sudah dilakukan sejak Minggu.
Sebanyak 15 unit ekskavator dikerahkan untuk membuka timbunan sampah dan mempercepat proses pencarian.
Petugas menyisir area longsoran secara bertahap untuk memastikan tidak ada korban yang masih tertimbun.
"Tercatat ada 336 personel gabungan dari Basarnas lalu TNI Polri kemudian BPBD, Dinas Kesehatan, DLH, Damkar, Satpol PP dan pihak terkait (terlibat pencarian korban)," ujar Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Jakarta Akhmad Rizkiansyah kepada awak media, Senin (9/3/2026).
Selain melakukan pencarian korban, tim gabungan juga menemukan kendaraan yang sebelumnya tertimbun material longsoran sampah.
Kendaraan tersebut berada di area antrean pembuangan sampah saat longsor terjadi.
Di lokasi kejadian juga disiagakan tim dokter kepolisian dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk membantu proses identifikasi korban selama proses pencarian berlangsung.
Adapun cuaca pada Senin pagi terpantau cerah.
Kondisi tersebut membantu tim gabungan dalam mengoperasikan alat berat dan memperluas area pencarian di sekitar titik longsor.
Dugaan penyebab longsor
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut longsornya gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat dipicu oleh hujan ekstrem yang terjadi pada Minggu (8/3/2026).
Peristiwa tersebut menewaskan empat orang.
“Peristiwa longsor tersebut di zona 4A pada pukul 14.30 WIB diduga dipicu oleh hujan ekstrem pada hari Minggu,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (9/3/2026).
Longsor terjadi usai kawasan tersebut diguyur hujan deras dengan durasi lama.
Curah hujan mencapai 264 milimeter per hari.
Menurut dia, hujan yang terus menerus membuat air meresap ke dalam tumpukan sampah sehingga memicu kondisi licin.
Akhirnya terjadi pergeseran atau sliding yang menyebabkan longsor.
Akibat kejadian tersebut, jalan operasional dan Sungai Ciketing sepanjang sekitar 40 meter tertutup sampah.
Korban tertimbun sampah 10 meter
Jumlah korban tewas akibat longsor gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, berjumlah lima orang hingga Senin (9/3/2026).
Sementara itu, empat orang lainnya masih dalam pencarian oleh tim gabungan.
Penambahan jumlah korban terjadi setelah tim SAR menemukan satu jenazah korban pada Senin sekitar pukul 12.00 WIB.
Kepala Kantor SAR Jakarta Desiana Kartika Bahari mengatakan, jenazah kelima yang ditemukan berjenis kelamin laki-laki.
Namun identitas korban masih belum diketahui.
“Kami menemukan satu korban yang meninggal dunia dalam keadaan Mr. Delta.
Untuk jenis kelamin laki-laki, dan itu ada di set dua,” ujar Desiana kepada awak media, Senin.
Korban ditemukan di bawah timbunan sampah yang sebelumnya dibongkar menggunakan alat berat berupa ekskavator.
Menurut Desiana, jenazah tersebut ditemukan sekitar lima meter dari sebuah truk yang ditemukan lebih dulu pada Minggu malam.
Truk tersebut diduga milik korban yang tertimbun longsoran sampah.
“Semalam ditemukan truknya, namun tidak ada korban di dalamnya.
Sehingga kemungkinan korban yang ditemukan hari ini adalah pengemudi yang ada di truk yang kita temukan tadi malam,” kata Desiana.
Ia menjelaskan, korban ditemukan di kedalaman sekitar 10 meter dari permukaan timbunan sampah.
Setelah berhasil dievakuasi, jenazah korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian terhadap korban lain yang diduga masih tertimbun sampah.
“Masih ada empat lagi yang harus kami lakukan pencarian,” ujar Desiana.
Dengan ditemukannya satu jenazah tersebut, total korban meninggal dalam peristiwa longsor gunungan sampah di Bantargebang kini mencapai lima orang.
“Tambah satu tadi ya.
Sebelumnya empat ya tadi malam, tambah satu jadi total yang meninggal ada lima orang,” kata dia.
Baca juga: Sampah Jadi Dosa, MUI Keluarga Fatwa Baru: Buang Sampah ke Sungai, Laut, Danau Resmi Dihukumi Haram!
Daftar korban
Longsoran sampah tidak hanya menimpa sopir truk yang mengantre di lokasi.
Sejumlah warga yang berada di sekitar area pembuangan juga ikut tertimbun.
Menurut anggota rescue Damkar Kota Bekasi, Eko Uban, warga yang berada di warung di sekitar lokasi kejadian turut menjadi korban saat tumpukan sampah ambruk.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 13 orang menjadi korban yang terdiri dari sopir truk sampah, warga sekitar, hingga pemulung.
Dari total korban tersebut, lima orang ditemukan meninggal dunia, empat lainnya selamat, dan lima orang masih dinyatakan hilang.
Lima orang meninggal karena tertimbun gunungan sampah.
Mereka terdiri dari tiga sopir, satu pemulung perempuan, serta seorang perempuan berusia sekitar 60 tahun yang diketahui berjualan di sekitar lokasi.
“Jadi dua laki-laki dan dua perempuan.
Salah satunya ibu yang berjualan di sekitar lokasi, posisinya sebenarnya agak di tepi jalan, tidak langsung di area sampah, tetapi karena longsor akhirnya terdampak,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Petugas gabungan kemudian melakukan operasi pencarian terhadap para korban yang diduga masih tertimbun material sampah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya para korban.
Pramono memastikan korban yang meninggal dari Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PJLP) Dinas Lingkungan Hidup akan mendapatkan santunan dari BPJS Ketenagakerjaan.
Sementara biaya pengobatan bagi korban luka sepenuhnya ditanggung oleh Pemprov DKI Jakarta.
Selain korban meninggal, lima orang mengalami luka-luka.
Mereka sempat mendapatkan perawatan medis dan kini telah kembali ke rumah masing-masing.
Tiga Kali Longsor dalam Empat Bulan
Dalam beberapa bulan terakhir, insiden longsor di TPST Bantargebang terjadi berulang.
Pada 31 Desember 2025, gunungan sampah di lokasi yang sama juga sempat ambruk.
Saat itu, longsoran menimpa truk yang melintas hingga menyebabkan tiga kendaraan terperosok ke sungai di wilayah Sumur Batu.
Kapolsek Bantargebang Kompol Sukadi memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, meskipun proses evakuasi kendaraan sempat memerlukan alat berat.
Menurut Sukadi, salah satu penyebab kejadian tersebut adalah tingginya timbunan sampah di area pembuangan.
“Memang sampahnya sudah terlalu menggunung. Jadi harusnya dilebarkan supaya tidak longsor.
Begitu sudah diurug sampah harusnya diurug tanah lagi supaya kepadatan sampah terjaga,” ujarnya.
Insiden lain terjadi 7 November 2025, ketika longsoran sampah menimbun beberapa truk yang sedang mengantre.
Seorang sopir truk saat itu mengalami luka di bagian leher dan harus mendapatkan perawatan medis.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Kiswatiningsih mengatakan area yang longsor merupakan bagian dari fasilitas yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“TPST Bantargebang yang mengalami longsor merupakan milik Pemprov DKI Jakarta dan dikelola oleh UPT TPST Bantargebang,” ujarnya.
Dengan demikian, dalam waktu sekitar empat bulan terakhir tercatat setidaknya tiga kali longsor terjadi di lokasi yang sama.
Artikel dari KOMPAS.com
Sumber: Kompas.com
| Daftar Korban Longsor Bantargebang, Sopir Truk Sampah hingga Pemulung Perempuan |
|
|---|
| Tragedi Berulang di Bantargebang: Sampah Longsor Lagi, 5 Tewas, 3 Kali dalam 4 Bulan |
|
|---|
| Korban Longsor Sampah Bantargebang Ditemukan 10 Meter di Bawah Timbunan |
|
|---|
| Detik-detik Mencekam Gunung Sampah Bantargebang Longsor, 5 Orang Tewas, 4 Masih Hilang |
|
|---|
| Pemerintah Kaji Anggaran Program MBG di Tengah Dampak Konflik Timur Tengah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Fatimah-61-melihat-proses-evakuasi-longsor-Bantargebang-Senin-932026-Menantunya-jadi-korban.jpg)