Amerika Serikat dan Israel Cemas Hadapi Serangan Balasan Iran: Stok Rudal Pencegat Terbatas!
Selain untuk Iran, AS juga harus punya stok rudal yang cukup di Korea Selatan dan Guam guna menangkal ancaman dari Korea Utara dan China.
Editor: Amir M
Meskipun jumlah pasti persediaan rudal pencegat AS bersifat rahasia, rentetan konflik dengan Iran dan proksi-proksinya di kawasan tersebut dilaporkan telah menguras stok sistem pertahanan udara secara signifikan.
"Salah satu tantangannya adalah Anda dapat menghabiskan (stok) ini dengan sangat cepat," ujar Kelly Grieco, peneliti senior di think tank Stimson Center, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Senin (1/2/2026).
"Kita menggunakannya lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menggantinya," tambah mantan pengajar di Air Command and Staff College tersebut.
Sejak Sabtu pagi waktu Teheran, AS dan sekutu regionalnya telah membombardir berbagai target di Iran, termasuk peluncur rudal dan lapangan udara.
Seorang pejabat senior menyatakan, serangan tersebut bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam membalas serangan.
Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon kini menghadapi dilema. Selain rudal Patriot dan SM-3, sistem pertahanan antirudal THAAD telah dikerahkan ke Israel dan Yordania.
Namun, AS juga harus mempertahankan stok yang cukup untuk sistem THAAD di Korea Selatan dan Guam guna menangkal ancaman dari Korea Utara dan China.
Becca Wasser, peneliti senior di Center for a New American Security, menyoroti tingginya tingkat penggunaan rudal jelajah Tomahawk (TLAM) oleh AS, baik di Timur Tengah maupun dalam operasi lain seperti di Nigeria.
"Dalam simulasi perang, TLAM adalah salah satu amunisi pertama yang habis dalam minggu pertama konflik AS-China," kata Wasser.
Menurutnya, Pentagon perlu melipatgandakan pengadaan dan produksi untuk menutupi kekurangan tersebut.
Israel turut alami kekurangan
Meski keterlibatan militer Israel membantu meringankan beban serangan ofensif AS, negara tersebut juga menghadapi kendala logistik serupa.
Israel dilaporkan masih kekurangan rudal pencegat Arrow 3 dan rudal balistik yang diluncurkan dari udara.
Jonathan Conricus, senior fellow di Foundation for Defense of Democracies, menilai bahwa sejauh ini volume serangan balasan Iran belum mencapai tingkat yang dikhawatirkan.
Namun, dia menekankan bahwa pada akhirnya perang ini adalah masalah kalkulasi angka.
"Ini berujung pada jumlah. Berapa banyak rudal pencegat yang kita miliki dibandingkan dengan berapa banyak peluncur yang mampu mereka (Iran) operasikan dan tembakkan," jelas mantan juru bicara IDF tersebut.
Jika perang terus berlanjut dan kebutuhan akan rudal pencegat meningkat, Pentagon kemungkinan harus mengambil keputusan sulit untuk mengakses cadangan amunisi yang tersimpan di wilayah Pasifik.
Artikel dari KOMPAS.COM
Sumber: TribunTrends.com
| Rekam Jejak Ismet Efendi, Sekda Bangkalan Tertidur saat Rapat DPRD, Disemprot Bupati: Gak Beretika |
|
|---|
| Prabowo Bakal Kembali Reshuffle Kabinet? Seskab Teddy Bocorkan: Nanti Bapak Presiden yang Ceritakan |
|
|---|
| Dulu Mobil, Gubernur Kaltim Rudy Masud Kini Rencanakan Anggaran Rumah Dinas Rp25 M, Janji Transparan |
|
|---|
| Mengintip Isi Garasi Bupati Cilacap Syamsul Auliya yang Kena OTT KPK, Satu Mobil Nyaris Rp1 Miliar! |
|
|---|
| Harta Kekayaan Syamsul Auliya Rachman, Bupati Cilacap yang Terjaring OTT KPK, Tembus Rp12 Miliar! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Donald-Trump-mengklaim-bahwa-Pemimpin-Tertinggi-Iran-Ayatollah-Ali-Khamenei.jpg)