Breaking News:

Amerika Serikat dan Israel Cemas Hadapi Serangan Balasan Iran: Stok Rudal Pencegat Terbatas!

Selain untuk Iran, AS juga harus punya stok rudal yang cukup di Korea Selatan dan Guam guna menangkal ancaman dari Korea Utara dan China.

|
Editor: Amir M
via Kompas
PERANG IRAN - Presiden AS Donald Trump dan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas akibat serangan udara yang menargetkan kediamannya. 

Ringkasan Berita:
  • Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam, AS dan Israel khawatir menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran.
  • Rusia mengirim sistem pertahanan udara “Verba” untuk memperkuat Teheran, sementara China menegaskan dukungan diplomatik dan kedaulatan Iran.
  • Kehadiran kedua kekuatan besar ini menekan strategi AS dan Israel, yang kini diuji dalam logistik dan kesiapan menangkis balasan Iran.

TRIBUNTRENDS.COM - Ketegangan antara Iran dan aliansi Amerika Serikat (AS)–Israel semakin memuncak, sementara Washington dan Tel Aviv ketar-ketir menghadapi kemampuan rudal dan drone Iran.

Rusia memperkuat pertahanan udara Iran dengan pengiriman sistem “Verba”, sedangkan China memberikan dukungan diplomatik dan legitimasi global, menekankan kedaulatan Iran.

Kehadiran kedua kekuatan besar ini menambah tekanan strategis bagi AS dan Israel, yang kini diuji kapasitas logistik serta kesiapan menghadapi balasan militer Teheran.

Dilansir dari CNN, Senin (2/3/2026), secara historis, Iran kerap menekankan kedekatan kemitraan strategisnya dengan Rusia dan China.

Teheran memasok rudal dan drone untuk digunakan Rusia di Ukraina, serta pernah mengandalkan sistem pertahanan udara buatan Rusia yang dilaporkan telah rusak dan belum tergantikan.

Sementara itu, China menjadi tujuan utama ekspor minyak Iran, dengan sekitar 80 persen pasokan dikirim ke negara tersebut, di samping kepentingan Beijing terhadap stabilitas jalur perdagangan global melalui Selat Hormuz.

Namun, Moskwa dan Beijing relatif minim memberikan pernyataan, bahkan setelah wafatnya mitra mereka, yakni Ayatollah Ali Khamenei.

Pada Minggu (28/2/2026) malam, laporan mengenai percakapan telepon antara menteri luar negeri Rusia dan China hanya memuat kecaman lisan terhadap serangan Amerika dan Israel tanpa rincian langkah lebih lanjut.

Sejauh ini, tidak terlihat indikasi perubahan sikap tersebut, sehingga Iran tampak menghadapi situasi ini dengan kapasitasnya sendiri.

China bela Iran melalui legitimasi tingkat global

Meski demikian, jawabannya tidak sesederhana logika aliansi militer konvensional.

Dilansir dari Middle East Eye, Sabtu (28/2/2026), China dan Rusia kecil kemungkinan mengirim pasukan atau terlibat langsung dalam pertempuran.

Namun, menganggap sikap itu sebagai ketidakpedulian akan keliru dalam membaca dinamika persaingan kekuatan besar abad ke-21.

Dukungan Beijing dan Moskwa terhadap Iran bersifat nyata dan berlapis, bahkan dalam beberapa aspek lebih berkelanjutan dibanding intervensi militer terbuka.

Hanya saja bergerak pada dimensi strategi yang berbeda.

Di Dewan Keamanan PBB, China kerap menggunakan instrumen terkuatnya, yakni hak veto yang berlandaskan prinsip.

Halaman 1/3
Tags:
perang IranIranAmerika SerikatIsrael
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved