Amerika Serikat dan Israel Cemas Hadapi Serangan Balasan Iran: Stok Rudal Pencegat Terbatas!
Selain untuk Iran, AS juga harus punya stok rudal yang cukup di Korea Selatan dan Guam guna menangkal ancaman dari Korea Utara dan China.
Editor: Amir M
Ringkasan Berita:
- Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam, AS dan Israel khawatir menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran.
- Rusia mengirim sistem pertahanan udara “Verba” untuk memperkuat Teheran, sementara China menegaskan dukungan diplomatik dan kedaulatan Iran.
- Kehadiran kedua kekuatan besar ini menekan strategi AS dan Israel, yang kini diuji dalam logistik dan kesiapan menangkis balasan Iran.
TRIBUNTRENDS.COM - Ketegangan antara Iran dan aliansi Amerika Serikat (AS)–Israel semakin memuncak, sementara Washington dan Tel Aviv ketar-ketir menghadapi kemampuan rudal dan drone Iran.
Rusia memperkuat pertahanan udara Iran dengan pengiriman sistem “Verba”, sedangkan China memberikan dukungan diplomatik dan legitimasi global, menekankan kedaulatan Iran.
Kehadiran kedua kekuatan besar ini menambah tekanan strategis bagi AS dan Israel, yang kini diuji kapasitas logistik serta kesiapan menghadapi balasan militer Teheran.
Dilansir dari CNN, Senin (2/3/2026), secara historis, Iran kerap menekankan kedekatan kemitraan strategisnya dengan Rusia dan China.
Teheran memasok rudal dan drone untuk digunakan Rusia di Ukraina, serta pernah mengandalkan sistem pertahanan udara buatan Rusia yang dilaporkan telah rusak dan belum tergantikan.
Sementara itu, China menjadi tujuan utama ekspor minyak Iran, dengan sekitar 80 persen pasokan dikirim ke negara tersebut, di samping kepentingan Beijing terhadap stabilitas jalur perdagangan global melalui Selat Hormuz.
Namun, Moskwa dan Beijing relatif minim memberikan pernyataan, bahkan setelah wafatnya mitra mereka, yakni Ayatollah Ali Khamenei.
Pada Minggu (28/2/2026) malam, laporan mengenai percakapan telepon antara menteri luar negeri Rusia dan China hanya memuat kecaman lisan terhadap serangan Amerika dan Israel tanpa rincian langkah lebih lanjut.
Sejauh ini, tidak terlihat indikasi perubahan sikap tersebut, sehingga Iran tampak menghadapi situasi ini dengan kapasitasnya sendiri.
China bela Iran melalui legitimasi tingkat global
Meski demikian, jawabannya tidak sesederhana logika aliansi militer konvensional.
Dilansir dari Middle East Eye, Sabtu (28/2/2026), China dan Rusia kecil kemungkinan mengirim pasukan atau terlibat langsung dalam pertempuran.
Namun, menganggap sikap itu sebagai ketidakpedulian akan keliru dalam membaca dinamika persaingan kekuatan besar abad ke-21.
Dukungan Beijing dan Moskwa terhadap Iran bersifat nyata dan berlapis, bahkan dalam beberapa aspek lebih berkelanjutan dibanding intervensi militer terbuka.
Hanya saja bergerak pada dimensi strategi yang berbeda.
Di Dewan Keamanan PBB, China kerap menggunakan instrumen terkuatnya, yakni hak veto yang berlandaskan prinsip.
Dalam pertemuan darurat bulan lalu, Duta Besar China Sun Lei menyampaikan pesan tegas kepada Washington.
“Penggunaan kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Itu hanya akan membuat masalah menjadi lebih kompleks dan sulit diatasi. Petualangan militer apa pun hanya akan mendorong kawasan ini menuju jurang yang tak terduga,” kata Sun Lei.
Ini bukan sekadar pernyataan simbolis. Sikap resmi China secara tegas menyatakan dukungan terhadap perlindungan kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran.
Dengan merujuk pada Piagam PBB dan prinsip hukum internasional, China menawarkan nilai penting bagi Teheran, yakni legitimasi di tingkat global serta narasi alternatif yang dapat mengimbangi tekanan dari negara-negara Barat.
Pasca perang 12 hari, Rusia perkuat pertahanan udara Iran
Menurut laporan Foundation for Defense of Democracies pada Kamis (26/2/2026), Iran dilaporkan berharap Rusia dapat membantu memperkuat sistem pertahanan udaranya yang melemah setelah perang dengan Israel pada Juni 2025.
Langkah tersebut semakin masif dilakukan di tengah peningkatan kehadiran militer AS terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak 2003.
Financial Times melaporkan bahwa kedua negara mencapai kesepakatan senilai 495 juta euro (sekitar Rp 9,8 triliun) untuk pengiriman sistem pertahanan udara baru “Verba” dari Rusia ke Iran.
Meski demikian, sistem tersebut dinilai kecil kemungkinan akan secara signifikan mengubah kalkulasi jika terjadi operasi militer AS terhadap Republik Islam.
Menurut laporan yang sama, Teheran secara resmi mengajukan permintaan Verba pada Juli setelah perang 12 hari dengan Israel, dan kontrak diteken pada Desember.
Dalam konflik itu serta dua serangan sebelumnya pada 2024, militer Israel menghancurkan atau merusak sejumlah sistem pertahanan udara Iran, termasuk baterai rudal permukaan-ke-udara jarak jauh S-300 buatan Rusia.
9K333 Verba dengan kode NATO SA-29 Gizmo merupakan sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) tercanggih Rusia yang diproduksi massal.
Sistem ini dilaporkan mampu menargetkan pesawat hingga jarak sekitar 6 kilometer pada ketinggian hampir 15.000 kaki, menggunakan pencari multispektral yang mencakup ultraviolet, inframerah dekat, dan inframerah tengah.
Baca juga: Kode Pesanan Pizza dari Pentagon, Tanda Situasi Genting dari Amerika Jelang Malapetaka Geopolitik
Amerika Serikat Ketar-ketir
Militer Amerika Serikat (AS) berpacu dengan waktu untuk melumpuhkan kekuatan rudal dan drone Iran.
Langkah agresif ini diambil di tengah kekhawatiran bahwa Washington akan kehabisan stok rudal pencegat untuk menangkis serangan balasan dari Teheran.
Sejumlah pejabat, mantan pejabat, dan analis menyebutkan intensitas konflik di Timur Tengah telah menguji kapasitas stok pertahanan udara AS, yang dikenal dengan istilah magazine depth.
Meskipun jumlah pasti persediaan rudal pencegat AS bersifat rahasia, rentetan konflik dengan Iran dan proksi-proksinya di kawasan tersebut dilaporkan telah menguras stok sistem pertahanan udara secara signifikan.
"Salah satu tantangannya adalah Anda dapat menghabiskan (stok) ini dengan sangat cepat," ujar Kelly Grieco, peneliti senior di think tank Stimson Center, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Senin (1/2/2026).
"Kita menggunakannya lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menggantinya," tambah mantan pengajar di Air Command and Staff College tersebut.
Sejak Sabtu pagi waktu Teheran, AS dan sekutu regionalnya telah membombardir berbagai target di Iran, termasuk peluncur rudal dan lapangan udara.
Seorang pejabat senior menyatakan, serangan tersebut bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam membalas serangan.
Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon kini menghadapi dilema. Selain rudal Patriot dan SM-3, sistem pertahanan antirudal THAAD telah dikerahkan ke Israel dan Yordania.
Namun, AS juga harus mempertahankan stok yang cukup untuk sistem THAAD di Korea Selatan dan Guam guna menangkal ancaman dari Korea Utara dan China.
Becca Wasser, peneliti senior di Center for a New American Security, menyoroti tingginya tingkat penggunaan rudal jelajah Tomahawk (TLAM) oleh AS, baik di Timur Tengah maupun dalam operasi lain seperti di Nigeria.
"Dalam simulasi perang, TLAM adalah salah satu amunisi pertama yang habis dalam minggu pertama konflik AS-China," kata Wasser.
Menurutnya, Pentagon perlu melipatgandakan pengadaan dan produksi untuk menutupi kekurangan tersebut.
Israel turut alami kekurangan
Meski keterlibatan militer Israel membantu meringankan beban serangan ofensif AS, negara tersebut juga menghadapi kendala logistik serupa.
Israel dilaporkan masih kekurangan rudal pencegat Arrow 3 dan rudal balistik yang diluncurkan dari udara.
Jonathan Conricus, senior fellow di Foundation for Defense of Democracies, menilai bahwa sejauh ini volume serangan balasan Iran belum mencapai tingkat yang dikhawatirkan.
Namun, dia menekankan bahwa pada akhirnya perang ini adalah masalah kalkulasi angka.
"Ini berujung pada jumlah. Berapa banyak rudal pencegat yang kita miliki dibandingkan dengan berapa banyak peluncur yang mampu mereka (Iran) operasikan dan tembakkan," jelas mantan juru bicara IDF tersebut.
Jika perang terus berlanjut dan kebutuhan akan rudal pencegat meningkat, Pentagon kemungkinan harus mengambil keputusan sulit untuk mengakses cadangan amunisi yang tersimpan di wilayah Pasifik.
Artikel dari KOMPAS.COM
Sumber: TribunTrends.com
| Isu Prabowo Reshuffle Kabinet Hari Ini, Daftar Nama Pejabat Diduga Diganti, Ada yang Isi Pos Baru |
|
|---|
| Gubernur Kaltim Rudy Masud Siap Audit Terbuka Rumdin Rp25 M, Janji Selektif Beli Barang & Transparan |
|
|---|
| Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Menguat, Idrus Marham Bahas Kinerja: yang Tak Produktif Harus Diganti |
|
|---|
| Tanggung Biaya Kursi Pijat, Gubernur Kaltim Rudy Masud juga Coret Nama Adik: Tiadakan Keterlibatan |
|
|---|
| Rekam Jejak Letjen Djon Afriandi, Hoaks Tampar Seskab Teddy, Raih Adhi Makayasa, Panglima Kopassus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Donald-Trump-mengklaim-bahwa-Pemimpin-Tertinggi-Iran-Ayatollah-Ali-Khamenei.jpg)