Breaking News:

Drama MBG

Rektor Siap Bangun Dapur, Mahasiswa Siap Melawan! Pecah Kongsi di IPB Soal Program MBG

Badan Eksekutif Mahasiswa IPB menolak rencana pelibatan perguruan tinggi dalam pembangunan dapur program MBG, peringatkan kepala BGN

Tayang:
Editor: jonisetiawan
Dok. IPB University
BEM TOLAK MBG - Institut Pertanian Bogor. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM KM) IPB University secara tegas menolak rencana pelibatan perguruan tinggi dalam pembangunan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Ringkasan Berita:
  • BEM KM IPB menolak rencana pelibatan perguruan tinggi dalam pembangunan dapur MBG
  • Presiden Mahasiswa, Muhammad Abdan Rofi, mengirim surat terbuka kepada BGN agar tidak memaksakan
  • BEM IPB tengah menyiapkan langkah lanjutan dengan menyampaikan aspirasi resmi ke pihak rektorat, sebagai bentuk penolakan

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah gencarnya dorongan pemerintah agar perguruan tinggi ikut terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), suara penolakan justru muncul dari kalangan mahasiswa.

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB University secara tegas menyatakan keberatan atas rencana tersebut, menilai bahwa kampus bukanlah tempat yang tepat untuk menjalankan proyek dapur MBG.

Melalui unggahan resmi di media sosial pada Rabu (6/5/2026), BEM KM IPB melayangkan surat terbuka kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

Dalam surat itu, mereka meminta agar kebijakan tersebut tidak dipaksakan kepada institusi pendidikan tinggi.

"Kepada Kepala Badan Gizi Nasional, tolong pak, jangan terlalu memaksa," menjadi kalimat pembuka yang disampaikan Presiden Mahasiswa BEM KM IPB University, Muhammad Abdan Rofi.

Baca juga: Diterpa Isu Politik 2029, Program MBG Ditegaskan Murni untuk Rakyat: Mentan Andi Amran Buka Suara!

Dalam pernyataannya, BEM KM IPB menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sebagai lembaga moral dan intelektual, bukan sebagai alat pelaksana program yang dinilai belum matang.

"Masih ada 1.242 orang yang keracunan makan bergizi gratis. Masih ada ratusan triliun anggaran pendidikan yang direalokasi untuk makan bergizi gratis. Masih ada 1.720 SPPG yang ditutup karena tidak sesuai dengan standar operasional. Masih ada puluhan SPPG yang masih dimiliki oleh kepentingan partai politik dan oligarki," tegas Rofi.

Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang dinilai belum terselesaikan dalam implementasi program MBG.

Desakan Evaluasi Menyeluruh

BEM KM IPB juga menyoroti perlunya evaluasi besar-besaran terhadap program MBG, terutama di tengah kondisi sarana-prasarana pendidikan yang masih belum merata serta kesejahteraan guru honorer yang dinilai masih jauh dari ideal.

Selain itu, mereka menyinggung sejumlah isu anggaran yang beredar di publik, seperti penggunaan dana miliaran rupiah untuk berbagai kebutuhan pendukung program.

Menurut mereka, kondisi ini justru menunjukkan bahwa fokus pembenahan seharusnya dilakukan terlebih dahulu sebelum memperluas cakupan program hingga ke kampus.

"Dengan dalih 'Menjadi labolatorium hidup untuk pengembangan riset dan inovasi'. Sudah cukup pak. Rakyatmu sudah muak," ujarnya lagi.

DADAN HINDAYANA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dikritik BEM IPB karena dinilai terlalu memaksakan MBG masuk ke kampus.
DADAN HINDAYANA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dikritik BEM IPB karena dinilai terlalu memaksakan MBG masuk ke kampus. (Kompas.com/Fika Nurul Ulya)

Siapkan Langkah Lanjutan ke Rektorat

Tidak berhenti pada pernyataan publik, BEM KM IPB juga tengah menyusun langkah lanjutan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pihak rektorat.

"Kami sedang merancang eskalasi di internal KM IPB untuk menyampaikan ke rektorat langsung bersama keluarga mahasiswa IPB," tutur Rofi.

Halaman 1/2
Tags:
IPBMBGBGN
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved