Breaking News:

Berita Kriminal

Malangnya Siswi SMP di Sultra, Dianiaya 3 Orang di Kebun Jambu Gegara Tak Tahu Arti Kata Ladies

Seorang siswi SMP berinisial NHR (14) di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, dianiaya oleh tiga orang gegara tidak tahu arti kata ladies.

Editor: jonisetiawan
freepik.com
Ilustrasi gadis SMP di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, dianiaya oleh tiga orang di kebun jambu. 

TRIBUNTRENDS.COM - Malangnya nasib seorang siswi SMP di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, dia dianiaya oleh tiga orang pada Jumat (1/12/2023).

Dalam video yang beredar, siswi berinisial NHR (14) yang masih mengenakan seragam sekolah tampak dianiaya oleh tiga orang di sebuah kebun jambu mete.

Aksi penganiayaan itu diduga direkam oleh salah satu pelaku dan diunggah ke media sosial.

Hingga pada akhirnya video penganiayaan itu viral di media sosial dan beredar secara luas.

Baca juga: Tangis Ibu Siswa MAN 1 Medan Pecah, Tak Terima Anaknya Jadi Korban Bully, Alasan Pelaku Siksa Korban

Ilustrasi penganiayaan,
Ilustrasi penganiayaan, seorang siswi SMP di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, dia dianiaya oleh tiga orang (shutterstock)

Anggota Satreskrim Polres Buton Tengah yang melakukan patroli cyber berhasil menemukan video tersebut dan melacak identitas ketiga pelaku beserta korban.

Para pelaku berinisial SMR (16), WM (15), dan KL (15), semuanya merupakan warga Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah.

Kasat Reskrim Polres Buton Tengah, Iptu Narton, menyampaikan bahwa kejadian tersebut terjadi pada hari Kamis (30/11/2023) di desa Oengkolaki, Kecamatan Mawasangka.

Menurut Narton, peristiwa ini berawal saat korban sedang antre untuk membeli minyak tanah.

Saat itulah, korban bertanya kepada teman lelakinya tentang arti kata "ladies," yang kemudian menjadi pemicu dari kejadian tragis tersebut.

“Korban bertanya (ke teman lelakinya) apakah ladies itu sama dengan l*nte.

Kata tersebut kemudian didengar oleh perempuan lain dan disampaikan kepada ketiga pelaku sehingga terjadi penganiayaan,” ujarnya.

Ketiga pelaku saat ini diamankan di Satreskrim Polres Buton Tengah.

Ketiganya terancam pasal pasal 170 ayat (1) KUHP atau Pasal 80 ayat (1) Jo pasal 76 c tentang perlindungan anak dengan ancaman 5 tahun penjara.

Sementara itu baru-baru ini juga viral kasus perundungan di Jambi.

Seorang santri berinisial APD (12) kelas 7 menjadi korban perundungan oleh dua orang seniornya  di pondok Tawakal Tri Sukses Kota Jambi.

Imbas perundungan itu APD sampai mengalami luka lebam dibagian paha, cidera dibagian kelamin.

Kondisi yang memprihatinkan membuat korban harus dilarikan ke RSUD Raden Mattaher Jambi.

Lantas, bagaimana kondisi APD saat ini?

Baca juga: Tangis Ibu Siswa MAN 1 Medan Pecah, Tak Terima Anaknya Jadi Korban Bully, Alasan Pelaku Siksa Korban

Ilustrasi penganiayaan - seorang santri di Jambi dianiaya senior.
Ilustrasi penganiayaan - seorang santri di Jambi dianiaya senior. (//www.ladbible.com)

Penganiayaan ini pertama kali terungkap setelah APD menelepon ayahnya. 

"Yah, kalau ayah tidak mau menyesal, jemput saya sekarang," kata APD dalam sambungan telepon itu.

Setelah mendengar permohonan itu, Rikarno Widi Setiawan, ayah kadung APD, langsung bergegas ke pondok pesantren. 

Sesampainya di sana, APD tampak terbaring dan terlihat kesakitan di unit kesehatan pondok (UKP).

Rikarno menerangkan, anaknya mengalami luka lebam dan cidera dibagian kelamin, karena digesek secara keras menggunakan kaki oleh seniornya.

"Prakteknya itu mulut anak saya di tutup, tangannya dipegang kakinya juga dipegang secara kuat dipaksa, terus kaki pelaku itu nendang kemaluan anak saya," kata Rikarno, Kamis (30/11/2023).

Lanjutnya, setelah selesai melakukan perbuatan tersebut korban mengalami kesakitan. 

Tak sampai disitu, pelaku justru menginjak perut korban.

"Luka lebam dikanan kiri paha, kemaluan sampai testisnya atau biji kemaluannya bengkak dan diperut juga," ujarnya.

Rikarno orang tua korban Santri Ponpes di Jambi Jadi Korban Perundungan Senior.
Rikarno orang tua korban Santri Ponpes di Jambi Jadi Korban Perundungan Senior.

Rikano menyebutkan, para pelaku ini bukan teman sebaya dari anaknya. 

Pelaku merupakan senior yang sudah lulus namun mengabdi di pondok pesantren tersebut. Pelaku tersebut ialah Rosad dan Firman.

"Pelaku sudah lulus sekolah SMA, sedangkan anak saya masih kelas 7 SMP," sebutnya.

Baca juga: Lagi-lagi Viral Aksi Perundungan, Siswa SMP di Agam Dipukul Beramai-ramai, Pembully: Hantam ke Sawah

Dia menerangkan, kondisi terkini korban sudah mulai membaik dan sudah bisa buang air besar, karena selama 3 hari korban tidak bisa buang air besar dan buang angin. 

Korban mendapatkan perawatan secara intensif.

"Allhamdulilah sudah membaik dan sudah keluar, sekarang di rumah sakit Bhayangkara untuk melakukan visum," terangnya.

Menurut Rikano warga Sungai Bahar, kabupaten Muaro Jambi sang anak harus dibawah ke psikolog karena secara sikis sang anak terganggu.

APD, santri di Jambi yang disiksa senior.
APD, santri di Jambi yang disiksa senior.

Bukan Pertama Kali Terjadi

Dia menjelaskan, anaknya bukan kali ini saja menjadi korban bully. 

Pertama kali korban mendapatkan perlakuan bully pada bulan September di asrama putra, mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan seperti didorong dan dijepit ke lemari besi.

"Pada bulan 9 pertama kali, sampai urat saraf dibelakang ini terjepit hingga bahu belakang bengkak tapi pelaku berbeda dan dilain tempat," jelasnya.

"Sudah sering mendapatkan perlakuan itu, cuma pihak pondok berpesan kepada murid bahwa menceritakan ke orang tua yang bagus-bagus saja yang jelek tidak usah," tambahnya.

Pada September lalu, korban sempat ditanya soal kenyamanan ketika belajar di pondok pesantren tersebut. Namun, korban terdiam hingga menangis kepada orang tuanya. 

Setelah itu orang tua korban juga bertemu kepada guru sebanyak 4 guru dan 2 pamong.

"Meraka bilang ditindaklanjuti, tapi kenapa urat saraf anak saya kejepit itu pada September dan sangat saya sayangkan. 

Bahkan bukti saya bawa anak untuk urut saya sampaikan dan kirim tapi tidak direspon," ujarnya.

Baca juga: Minta Diskon Tapi Tak Diberi, Pria di Bali Aniaya Karyawan Toko, Nasibnya Pilu, Sempat Berniat Damai

Menurutnya, pihak pesantren tidak mengetahui langsung didepan mata saat kejadian perundungan tersebut.

Namun, setelah kasus ini mencuat baru pihak pondok pesantren menghubungi orang tua korban.

"Allhamdulilah udah ada itikad baik dengan menjenguk korban di rumah sakit. 

Kita sempat ngobrol mediasi ada itikad baik. Tapi saya jawab saya sedang fokus penyembuhan anak," tandasnya.

***

Sebagian artikel ini diolah dari Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Tags:
siswi SMPSulawesi Tenggarakebundianiaya
Berita Terkait
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved