Berita Jogja
Diluncurkan Sultan HB X, Mengenal Pendidikan Khas Kejogjaan, Program Berbasis Budaya di Yogyakarta
Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan program baru bernama Pendidikan Khas Kejogjaaan (PKJ), berbasis budaya dan pembelajaran karakter.
Penulis: ninda iswara
Editor: ninda iswara
Ringkasan Berita:
- Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan program baru bernama Pendidikan Khas Kejogjaaan (PKJ)
- PKJ merupakan sebuah program pendidikan berbasis budaya yang kini resmi diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
- PKJ mempelajari pembentukan karakter dengan penanaman nilai-nilai budaya
TRIBUNTRENDS.COM - Program baru diluncurkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X bernama Pendidikan Khas Kejogjaan.
Pendidikan Khas Kejogjaaan (PKJ) kini resmi diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
PKJ merupakan sebuah program pendidikan berbasis budaya.
Program ini akan mempelajari pembentukan karakter melalui kebiasaan sehari-hari.
Hasil awal penerapannya pun dinilai positif, terlihat dari nilai karakter siswa yang mencapai 4,1 dari skala 5.
Baca juga: Dugaan Penggelapan Dana SPPG di Kulon Progo Yogyakarta, Merugi Insentif Dipotong, Polisi Selidiki
Konsep Pendidikan Khas Kejogjaan
Dalam program ini, siswa akan mempelajari pendidikan karakter dengan memasukkan nilai-nilai budaya Yogyakarta ke dalam proses belajar.
Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa menuturkan bahwa program ini akan diterapkan dalam berbagai kegiatan belajar.
Siswa akan dibiasakan dengan nilai-nilai budaya sehingga memiliki karakter yang telah dipelajari.
"Pertama, mengenai gerakan kebudayaan. Gerakan kebudayaan itu lebih ke pembiasaan atau habituasi. Jadi, tidak sekadar program, tetapi benar-benar terlaksana dan dibiasakan, sehingga akan menjadi milik karakter itu," ujar Sutrisna, dikutip dari TribunJogja.
Mengikuti Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Dalam PKJ, siswa akan belajar memahami hingga mempraktikkan nilai-nilai budaya.
PKJ mengusung konsep sesuai pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
Ada tiga tahapan dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara yakni memahami, merasakan, dan melakukan.
"Prosesnya itu, kalau menurut Ki Hadjar Dewantara 'kan ada tiga: ngerti (memahami), ngerasa (merasakan), dan ngelakoni (melakukan). Nah, pembudayaan itu mencakup tiga unsur ini. Kalau dalam bahasanya ahli pendidikan karakter, Thomas Lickona, itu juga ada tiga, sama sebenarnya dengan Ki Hadjar. Pertama adalah moral knowing (pengetahuan moral). Kedua adalah moral feeling (perasaan moral). Ketiga adalah moral action (tindakan moral), yang artinya berupa gerakan atau implementasi. Jadi, gerakan itu kalau bahasa Ki Hadjar adalah ngelakoni, sementara bahasa Lickona adalah moral action. Tidak sekadar pengetahuan," papar Sutrisna.
Siswa yang mempelajari PKJ diharapkan bisa memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, PKJ juga menggabungkan budaya dan pendidikan modern.
Sumber: TribunTrends.com
| Diluncurkan Sultan HB X, Mengenal Pendidikan Khas Kejogjaan, Program Berbasis Budaya di Yogyakarta |
|
|---|
| Dugaan Penggelapan Dana SPPG di Kulon Progo Yogyakarta, Merugi Insentif Dipotong, Polisi Selidiki |
|
|---|
| Angkringan Plataran Senopati Yogyakarta, Hasil Patungan Jukir yang Kehilangan Lahan, Sentra Kuliner |
|
|---|
| Pelari di Yogyakarta tiba-tiba Dipukul saat Ikut One Run Jogja, Pelaku Minta Maaf, Apa Motifnya? |
|
|---|
| Kembalinya Sertifikat Tanah Pelukis Kibar di Bantul Yogyakarta, 7 Karya Laku, Utang Rp400 Juta Lunas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Sri-Sultan-Hamengku-Buwono-X-luncurkan-Pendidikan-Khas-Kejogjaan.jpg)