Presiden segera memerintahkan agar kasus ini tidak hanya dicatat sebagai “insiden”, tapi diselidiki sampai ke akar.
Ia menuntut transparansi penuh dan penegakan hukum tanpa kompromi terhadap petugas-petugas yang terlibat.
“Saya sudah perintahkan agar insiden tadi malam diusut tuntas dan transparan, serta petugas-petugas yang terlibat harus bertanggung jawab,” tegasnya.
Prabowo tak berhenti di situ. Ia memberi perintah jelas kepada aparat untuk tak ragu menindak siapa pun yang bertindak di luar hukum sekeras-kerasnya.
“Seandainya mereka berbuat di luar kepatutan dan ketentuan yang berlaku, ambil tindakan sekeras-kerasnya sesuai hukum yang berlaku,” ujar Presiden dengan nada tajam.
Di tengah gejolak emosi publik, Presiden juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang.
Ia meminta rakyat untuk menahan amarah, dan tetap mempercayakan jalannya keadilan pada pemerintah yang ia pimpin.
“Saya mengimbau semua masyarakat untuk tenang dan percaya dengan pemerintah yang saya pimpin,” katanya.
Namun, nada kepemimpinan itu berganti lirih ketika Prabowo menyampaikan belasungkawa yang tulus atas wafatnya Affan.
“Saya atas nama pribadi dan pemerintah Republik Indonesia mengucapkan turut berduka cita.”
Dalam pernyataan penuh empati itu, Prabowo menyatakan bahwa pemerintah akan mengambil langkah konkret untuk memastikan keluarga Affan tidak terabaikan.
“Pemerintah akan menjamin kehidupan keluarganya dan memberi perhatian khusus, baik orang tuanya maupun adik-adik dan kakak-kakaknya,” katanya.
Baca juga: Dari Antar Pesanan ke Maut: Kronologi Ojol Terlindas Rantis, Roda Besi Brimob Hentikan Napas Affan
Affan Kurniawan meninggal dunia setelah kendaraan taktis (rantis) Brimob melindas tubuhnya di Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam.
Ia bukan peserta demo hanya seorang pemuda pekerja keras yang sedang menyeberang demi menyelesaikan pengantaran paket.
Hari itu, jasad Affan dimakamkan di TPU Karet Bivak, diiringi ratapan keluarga dan kemarahan publik yang belum juga reda.