TRIBUNTRENDS.COM - Di balik penculikan dan kematian tragis Kepala Cabang Bank BUMN, Mohamad Ilham Pradipta, muncul sisi lain yang memperlihatkan rumitnya jejaring pelaku.
Salah satu tersangka yang ikut terlibat justru mengaku tak memahami rencana besar di balik aksi kriminal ini.
Ia hanyalah "pemain cadangan" yang ditempatkan di posisi belakang, dalam arti yang sesungguhnya dan metaforis.
Adalah Revinando Aquinas, mahasiswa yang baru dua minggu menetap di Cipayung, Jakarta.
Ia masih kerabat dari RW alias Eras, salah satu eksekutor penculikan. Menurut kuasa hukumnya, Revinando tidak pernah tahu bahwa ia akan terlibat dalam penculikan yang berujung maut tersebut.
Baca juga: Kejanggalan Demi Kejanggalan: Penculikan Kacab Bank BUMN Tak Masuk Akal, Pakar Terheran-heran
"Posisi klien saya dia ada di belakang, dia di dalam mobil.
Dalam mobil itu kan tidak ditempatkan kursi belakang sebagaimana mobil seperti biasanya," ujar Maksimus Hasman, kuasa hukum Revinando.
"Gak dikasih tahu, intinya kamu di belakang. Klien saya gak ngerti apa-apa terkait dengan skenario ini," tambahnya, seperti dikutip dari YouTube Sindonews.
Dari Minimarket ke Mobil Tanpa Kursi: Titik Balik Revinando
Pertemuan pertamanya dengan sosok berinisial F, yang disebut sebagai pemberi perintah, hanya berujung pada tugas ringan membeli lakban, rokok, dan handuk di minimarket.
Namun dari sana, perlahan, kenyataan mulai terkuak di dalam mobil. Revinando mendengar sendiri isi percakapan yang menyiratkan bahwa mereka sedang melaksanakan aksi penculikan.
"Tidak dijelaskan oleh saudara terduga E (Eras) ketika awal mula mengajak pekerjaan itu.
Dia tahunya setelah beli lakban, rokok, handuk, itu ada komunikasi dalam mobil yang intinya kerjaan ini melakukan penculikan terhadap seseorang, poinnya di situ," terang Maksimus.
Misi Tak Terduga: Sampaikan Pesan, Rekam, Lalu Serahkan
Dari pengakuan Revinando, tugas kelompok ini ternyata tidak sebatas menculik. Mereka ditugaskan membawa pesan.