Bos Bank BUMN Tewas

Mahasiswa dalam Mobil Maut Ilham Pradipta: Tak Tahu Target, Hanya Dengar Salam dari Sang Bos Besar

Editor: jonisetiawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PENCULIKAN KACAB BANK - Foto TKP temuan mayat dan CCTV penculikan. Dugaan penyebab kematian kepala cabang bank BUMN Mohammad Ilham Pradipta yang diculik mulai terjawab, Jumat (22/8/2025). Revinando Aquinas, salah satu mahasiswa jadi tersangka yang ikut terlibat penculikan Kepala Cabang Bank BUMN, begini pengakuannya.

Ya, sebuah pesan dari 'bos besar', yang disampaikan kepada Ilham dengan cara divideokan sambil menyebut nama instansi tertentu.

"Dalam order pekerjaan ini hanya ditugaskan untuk menculik dan menyampaikan suatu pesan," ujar Maksimus.

"Ketika berhasil korban di dalam, pelaku E (Eras) memvideo menyampaikan ke si korban bahwa ada salam dari bla.bla.bla, tidak perlu saya sampaikan di forum ini karena ini sangat sensitif karena menyangkut menyebut suatu instansi," lanjutnya.

Baca juga: Trik Wig Ken Terbongkar: Polisi Duga untuk Sembunyi Usai Bunuh Kacab Bank BUMN, Pelaku Jawab Jujur

Dalam video tersebut, yang hingga kini belum diungkap ke publik, pesan dari institusi yang disebut sensitif itu disampaikan langsung kepada korban. Maksimus sendiri enggan menyebut secara eksplisit instansi yang dimaksud.

"Menyampaikan bahwa ada salam dari sebuah instansi, jadi tidak itu aparat atau tidak.

Hanya memang dalam pengakuan klien saya, dia menceritakan dia dalam mobil yang dia dengar tugas ini sampai penculikan sembari memvideokan dan video ini nanti akan diserahkan kepada si bos pemberi kerja, jadi itu perintahnya," jelasnya.

Eras Mengaku Hanya Disuruh, Kuasa Hukum Minta Maaf

Pengacara Eras, Adrianus Agal, menyatakan bahwa kliennya pun hanya menjalankan perintah. Ia bahkan meminta maaf kepada keluarga korban atas kejadian ini.

"Kami memohon maaf atas peristiwa yang sudah terjadi ini. Kami berbela sungkawa," kata Adrianus.

Ia berharap agar kasus ini segera dilimpahkan ke pengadilan untuk membuktikan siapa sebenarnya dalang di balik peristiwa tragis tersebut.

"Setelah Eras menyesali dan permohonan maaf dari keluarga ini, kami berharap perkara ini segera dilimpahkan ke persidangan. Biar nanti kita bisa membuka fakta yang sebenarnya di persidangan," ujarnya.

Menurut pengakuan kliennya, perintah datang dari sosok F yang disebut sebagai oknum aparat.

"Adik kami, Eras, diminta menjemput paksa. Setelah itu ada perintah dari oknum F. Ketika korban diantar kembali, ternyata sudah tidak bernyawa," imbuh Adrianus.

TNI Tegas Membantah

Sementara itu, muncul spekulasi liar tentang kemungkinan keterlibatan aparat militer.

Halaman
123