Soeharto juga tidak punya jejak mentereng dalam dunia pergerakan nasional (bandingkan dengan Soekarno, misalnya).
Lewat bukunya yang berjudul Young Soeharto: The Making of a Soldier 1921-1945, David Jenkins mencoba menyoroti masa muda Presiden Ke-2 RI itu.
Buku itu dikatapengantari oleh Indonesias kenamaan, Ben Anderson.
"Bagaimana dan mengapa orang seperti Soeharto bisa naik ke kekuasaan dan bertahan selama itu?" tanya Ben dalam pengantar buku tersebut.
Sebagai informasi, buku Young Soeharto adalah buku pertama dari trilogi biografi Soeharto yang ditulis jurnalis Australia yang pernah bertugas di Indonesia itu.
Dan bukan kali ini saja Jenkins menulis tentang Soeharto.
Bahkan buku sebelumnya yang berjudul Soeharto and His Generals membuat Jenkins sempat dilarang masuk Indonesia hingga tahun 1993.
Tapi berkat jasa Jenderal Soemitro, dia bisa kembali bekerja di Indonesia hingga 15 tahun kemudian.
Politikus Australia, Gareth Evans menggambarkan Soeharto dengan dua kata: multi dualisme.
Menurutnya, Soeharto adalah sosok pemimpin dan negarawan yang berwawasan ke depan, tapi di sisi lain dia adalah seorang diktator.
Soeharto murah senyum dan sederhana, tapi kejam.
Soeharto menyayangi menteri-menterinya yang bisa bekerja, tapi korup. Soeharto bisa membangun ekonomi, tapi mematikan demokrasi.
Menurut Jenkins, Soeharto adalah sosok yang berhasil melesat walau perjalanan hidupnya penuh dengan pergulatan, bahkan sejak bayi.
Ayahnya bernama Karterejo, seorang pengatur pengairan desa, ibunya Sukirah yang adalah istri kedua Karterejo.
Ketika usia Soeharto belum 40 hari, ibunya meninggalkannya.