Breaking News:

Berita Viral

Kisah Haru Edi Rasidi, Dorong Gerobak Siomay Sejauh 130 KM: Ini Demi Bertemu Keluarga

Seorang pedagang siomay yang memilih cara tak biasa untuk pulang ke kampung halamannya, berjalan kaki dari Cilacap menuju Pemalang dorong gerobak.

Tayang:
Editor: Sinta Darmastri
TribunJateng/Permata Putra Sejati
MUDIK DORONG GEROBAK - Seorang pedagang siomay yang memilih cara tak biasa untuk pulang ke kampung halamannya, berjalan kaki dari Cilacap menuju Pemalang dorong gerobak. 

Ringkasan Berita:
  • Seorang pedagang siomay yang memilih cara tak biasa untuk pulang ke kampung halamannya, berjalan kaki dari Cilacap menuju Pemalang dorong gerobak
  • Perjalanan fisik sejauh lebih dari 130 kilometer ini bukan sekadar upaya menghemat ongkos, melainkan sebuah misi spiritual untuk menunaikan janji yang pernah ia ucapkan
  • Edi mengaku hanya membawa uang saku sebesar Rp40 ribu di dompetnya

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah hiruk-pikuk arus mudik, terselip sebuah kisah perjuangan yang menggetarkan hati. Adalah Edi Rasidi (50), seorang pedagang siomay yang memilih cara tak biasa untuk pulang ke kampung halamannya, berjalan kaki dari Cilacap menuju Pemalang, Jawa Tengah, sambil mendorong gerobak dagangannya.

Perjalanan fisik sejauh lebih dari 130 kilometer ini bukan sekadar upaya menghemat ongkos, melainkan sebuah misi spiritual untuk menunaikan janji yang pernah ia ucapkan.

Pesan Menyentuh di Balik Gerobak Siomay

Sepanjang jalur utama, orang-orang akan melihat sebuah pemandangan kontras. Sebuah gerobak siomay sederhana melaju pelan, dihiasi tulisan menyentuh hati dalam bahasa Jawa: "Aja Ngeluh Ora Due Duit, Mudik Mlaku Taklakoni, Demi Njlaluk Pangapura, Negara Makmur Go Kasab Angel Temen, Demi Sungkem Nyong Mudik Mlaku Cilacap - Pemalang."

Pesan tersebut seolah merangkum kegelisahan sekaligus keteguhan hati Edi. Saat ditemui di Masjid Darul Najah, Purbalingga, Edi menceritakan tujuannya.

"Saya perjalanan dari Sampang Cilacap tujuan Pemalang," kata Edy, Selasa (17/3/2026).

Keputusan membawa gerobak pun bukan tanpa alasan. Ia berencana melanjutkan usahanya di kampung halaman.

"Saya menggunakan gerobak, jalan kaki. Tujuannya gerobak ini mau dibawa pulang ke kampung buat jualan juga di sana," ujarnya.

Baca juga: Wanita Ditinggal di Minimarket Saat Mudik, Barang Berharga Dibawa Teman

Menunaikan Nazar Usai Keajaiban Kesembuhan

Langkah kaki Edi digerakkan oleh peristiwa kelam dua tahun silam. Akibat kecelakaan motor yang cukup parah, lututnya sempat terlepas dan membuatnya kehilangan kemampuan berjalan. Di tengah keputusasaan itulah, sebuah doa terucap.

"Nazar itu karena saya dulu pernah kecelakaan di kaki. Dengkul saya sempat lepas karena terkilir. Waktu itu satu kaki tidak bisa jalan," tutur dia.

Kini, setelah pulih sepenuhnya, Edi tak mau mengingkari janjinya. Ia bertekad pulang ke rumah dengan kekuatannya sendiri sebagai bentuk syukur atas kesembuhannya.

Baca juga: Jelang Arus Mudik Lebaran 2026, 38 Ruas Jalan di Klaten Diperbaiki

Hanya Berbekal Rp40 Ribu dan Tekad Baja

Edi memulai perjalanannya pada Senin (16/3/2026) pagi. Jika menggunakan motor, jarak tersebut sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu 3 jam saja. Namun, bagi Edi, perjalanannya adalah sebuah maraton kesabaran.

"Kalau jalan kaki saya perkirakan empat hari empat malam," ujarnya.

Sangat mengejutkan, Edi mengaku hanya membawa uang saku sebesar Rp40 ribu di dompetnya. Namun, ia percaya bahwa kebaikan akan selalu menemaninya di jalan. Benar saja, bantuan dari orang asing tak henti mengalir selama ia menapaki aspal.

"Alhamdulillah ada yang support di pinggir jalan. Ada sekira satu sampai tiga orang yang langsung membantu," ungkapnya bersyukur.

Baca juga: Pedagang Burjo di Semarang Ikut Mudik Gratis, Bisa Pulang ke Kuningan Tanpa Biaya

Menantang Tanjakan Ekstrem Demi Keluarga

Halaman 1/2
Tags:
gerobaksiomaykeluargalebaran
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved