Breaking News:

Berita Viral

Usai Sekolah, Anjani Menjaga Warung hingga Malam demi Bertahan Hidup

Masih duduk di bangku MTs, Anjani harus bekerja tiap hari sepulang sekolah untuk menghidupi ibunya yang sakit.

Tribun Trends/Tim Konten Trends
SISWA PEJUANG RUPIAH - Anjani Fenny Aru Selvia (16) dan Joni (13) para siswa MTs Plus Himmatun Ayat yang harus mencari nafkah sembari bersekolah. Ada yang tiap hari jaga di warung penyetan. Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Tiap Hari Siswa MTs Jaga Warung Penyetan Sepulang Sekolah, Ibu Tak Bisa Kerja dan Ayah Sudah Tiada, 

TRIBUNTRENDS.COM - Di usia yang seharusnya diisi dengan belajar dan bermain, Anjani Fenny Aru Selvia justru memikul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga. Siswi kelas IX MTs Plus Himmatun Ayat itu setiap hari harus membagi waktu antara sekolah dan bekerja menjaga warung penyetan hingga larut malam. Kisah hidupnya yang penuh perjuangan pun menyita perhatian publik setelah tersebar luas di media sosial.

Menjadi Penopang Keluarga Sejak Dini

Anjani merupakan anak tunggal. Ayahnya meninggal dunia pada 2022 setelah lama menderita sakit akibat pekerjaan berat sebagai kuli bangunan. Sementara sang ibu hingga kini masih dalam masa pemulihan pascaoperasi usus besar dan tidak mampu bekerja seperti sebelumnya. Kondisi tersebut membuat Anjani, yang baru berusia 16 tahun, harus turun tangan mencari nafkah.

Rutinitas hariannya dimulai sejak pagi. Ia berangkat sekolah pukul 07.00 WIB dan pulang sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah beristirahat sejenak, Anjani kembali beraktivitas dengan menjaga warung mulai pukul 16.30 WIB hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Kebiasaan bekerja itu sudah ia jalani sejak duduk di kelas III SD.
“Saya bilang ke tetangga saya, ‘Bu boleh enggak saya bantu jualan? Enggak apa-apa saya dibayar berapa aja’,” kenangnya.

Saat itu, kondisi kesehatan ayahnya terus menurun, sementara ibunya tak sanggup bekerja sendirian. Sejak kecil, Anjani terbiasa membantu demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca juga: Kronologi Brimob Aniaya Siswa MTs di Maluku, Korban Meninggal dengan Luka di Pelipis

Kehilangan dan Ujian Bertubi-tubi

Cobaan hidup Anjani tak berhenti di situ. Saat duduk di kelas V SD, ia harus merelakan kepergian ayahnya. Sebulan berselang, sang ibu harus menjalani operasi besar. Proses pemulihan yang panjang membuat ibunya tak lagi memiliki penghasilan tetap.
“Waktu ibu di ruang operasi itu, saya cuma bisa nangis saja. Saya mikirnya ‘ya Allah ayahku sudah meninggal, masa nanti harus ibuku juga diambil’,” tuturnya dengan suara bergetar.

Di tengah tekanan ekonomi, Anjani tetap berusaha bertahan di sekolah. Meski mengaku kesulitan membagi waktu, ia merasa terbantu dengan dukungan guru-guru. “Biasanya memang saya pendam sendiri, tapi di sini setidaknya ada yang mau dengarkan saya,” ujarnya.

Kisah serupa juga dialami Joni (bukan nama sebenarnya), siswa kelas VIII SMP yang harus bekerja serabutan sepulang sekolah. “Kadang jadi kuli bangunan, kadang bersih-bersih rumah tetangga,” katanya. Penghasilannya tak menentu, berkisar Rp10.000 hingga Rp20.000 per hari, bahkan kerap dibayar dengan makanan.

Baca juga: Kasus Siswa MTs di Kota Tual Maluku, IPW Desak Evaluasi Peran Brimob dalam Pelayanan Sipil

Peran Sekolah dan Harapan ke Depan

Kepala sekolah MTs Plus Himmatun Ayat, Achmad Alfian Hilmy, menyebut Anjani bukan satu-satunya siswa dengan kondisi demikian. Sekitar 90 persen siswa di sekolah tersebut berasal dari keluarga prasejahtera dan banyak yang menjadi tulang punggung keluarga. “Seluruh biaya sekolah gratis, dari buku hingga seragam, karena kami didukung donatur dan bantuan pemerintah,” jelasnya.

Selain pendidikan formal, pihak sekolah juga menekankan penguatan mental dan agama. Kegiatan mengaji rutin digelar untuk membangun ketahanan batin siswa. “Kami ingin anak-anak ini tetap tegar dan tidak menyerah,” katanya.

Sekolah dan yayasan berupaya memberikan dukungan moral dengan mendengarkan keluh kesah siswa. Bahkan, ada rencana menghadirkan bantuan psikologis meski masih terkendala anggaran. Harapannya, pemerintah dan masyarakat dapat lebih memberi perhatian agar anak-anak seperti Anjani tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa harus mengorbankan masa depannya.

Tribun Jatim | Ani Susanti | TribunTrends.com | Afif Muhammad

Tags:
MTspenyetansiswi SMP
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved