Berita Viral
Orang Tua Petani, Warda Raih Predikat Lulusan Terbaik dan Mengabdi hingga Indonesia Timur
Kerja keras orang tua Warda yang tiap hari ke sawah akhirnya terbayar. Anak petani ini sukses jadi lulusan terbaik UIN Walisongo.
Penulis: Tim Konten Trends
Editor: Tim TribunTrends
TRIBUNTRENDS.COM - Keringat orang tua Warda Rida Lailatul Mukarromah yang setiap hari bekerja di sawah akhirnya terbayar lunas. Uang hasil bertani itulah yang menjadi penopang utama Warda menempuh pendidikan hingga meraih gelar sarjana dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik.
Momen penuh haru itu terjadi pada Sabtu (7/2/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. Tangis bahagia pecah ketika nama Warda diumumkan sebagai wisudawati terbaik di tengah prosesi pengukuhan 1.277 lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.
Di antara ribuan wisudawan tersebut, Warda Rida Lailatul Mukarromah tampil menonjol sebagai lulusan terbaik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Ia berhasil mengungguli 211 wisudawan strata satu (S1) di fakultasnya dengan catatan akademik dan nonakademik yang gemilang.
Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo dikenal sebagai fakultas yang berfokus pada pengembangan keilmuan dakwah, komunikasi, pengembangan masyarakat, hingga manajemen haji dan umrah. Fakultas ini menaungi sejumlah program studi, di antaranya Komunikasi dan Penyiaran Islam, Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Manajemen Dakwah, Pengembangan Masyarakat Islam, serta Manajemen Haji dan Umrah, dengan akreditasi baik hingga unggul.
Baca juga: Prestasi Anak SD Akhiri Hidup di NTT, Selalu Masuk 10 Besar, Semester Lalu Pecah Rekor Nilai Terbaik
Berdasarkan data Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Walisongo Agustus 2025, FDK menerima sekitar 495 mahasiswa baru dalam satu angkatan. Sementara itu, UIN Walisongo secara keseluruhan diperkirakan memiliki sekitar 20 ribu mahasiswa aktif dari berbagai fakultas.
Bagi Warda, predikat lulusan terbaik bukan sekadar gelar. Di balik selempang penghargaan tersebut tersimpan kisah panjang perjuangan seorang anak petani yang bertekad memutus rantai keterbatasan pendidikan di keluarganya. Ia menjadi orang pertama dalam garis keturunannya yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana.
“Motivator terbesar saya adalah orang tua. Mengingat kerja keras mereka setiap hari di sawah membuat saya tidak punya alasan untuk menyerah,” ujar Warda, lulusan Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI).
“Gelar ini adalah bukti bahwa proses panjang yang kami jalani bersama tidak sia-sia,” tambahnya.
Selama masa studi, Warda tidak hanya unggul di ruang kelas. Ia juga aktif menulis karya ilmiah. Salah satu artikelnya berjudul Nilai-Nilai Bimbingan dan Konseling Pranikah dalam Buku Wonderful Journeys for a Marriage karya Cahyadi Takariawan. Penelitian tersebut mengangkat isu tingginya angka perceraian di Indonesia dan menekankan pentingnya kesiapan mental serta spiritual sebelum membangun rumah tangga.
Baca juga: Jejak Prestasi Muh. Farhan Gunawan, Sosok Co-Pilot Berbakat di Balik Tragedi Pesawat ATR 42-500
Pengalaman berharga lainnya diperoleh Warda saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Misi Khusus di Fakfak, Papua Barat. Di wilayah Indonesia paling timur itu, ia merasakan langsung makna pengabdian sekaligus belajar tentang keberagaman dan nilai kemanusiaan.
“Papua memberi saya keluarga baru. Stigma negatif yang selama ini sering terdengar justru patah oleh keramahan dan rasa kemanusiaan yang sangat kuat. Itu pengalaman paling berharga selama saya kuliah,” kenangnya.
Selain akademik dan pengabdian, Warda juga aktif dalam berbagai organisasi. Ia tercatat pernah bergabung di Dewan Mahasiswa (DEMA) FDK, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Relawan Kesejahteraan Sosial, hingga yayasan kemanusiaan Langkah Baik Indonesia.
Menurutnya, aktivitas organisasi tidak menjadi penghambat prestasi, justru menjadi ruang belajar tambahan. “Organisasi itu melatih tanggung jawab dan kepemimpinan. Kuncinya hanya manajemen waktu dan konsistensi,” tegasnya.
Meski demikian, Warda mengakui perjalanan studinya tidak selalu mudah. Rasa lelah dan ingin menyerah pernah menghampiri. Namun ia selalu teringat pesan Imam Syafi’i tentang pahitnya kebodohan jika tidak sanggup menahan lelahnya belajar.
Saat ditanya apa yang ingin ia sampaikan kepada dirinya di masa awal kuliah, Warda menjawab singkat namun penuh makna, “Untungnya kamu tidak menyerah.”
Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Warda berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister atau terjun ke dunia profesional untuk terus mengembangkan kapasitas dirinya. Ia berharap UIN Walisongo terus melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kemanusiaan yang kuat.
Sumber: TribunTrends.com
| Amsal Sitepu Tolak Ganti Rugi Uang Usai Mendekam 131 Hari: Negara Harus Bayar dengan Kebijakan |
|
|---|
| Sosok Ida Hamidah, Kepala Samsat Bandung yang Dinonaktifkan Dedi Mulyadi Usai Langgar Aturan Pajak |
|
|---|
| Dedi Mulyadi Ngamuk! Kepala Samsat Soekarno-Hatta Dicopot Usai Abaikan Aturan Bayar Pajak Tanpa KTP |
|
|---|
| Purbaya Tak Tahu Bagaimana Program Pengadaan Motor MBG Bisa Lolos, Kepala BGN Buat Klarifikasi |
|
|---|
| Kabar Ahmad Husein Pembela Bupati Sudewo, Tersungkur di Ring Tinju, Sampai Ditandu & Pasang Oksigen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Aliya-Fitrahani-mahasiswa-IAIN-Kudus-berprestasi-yang-lulus-dengan-IPK-393.jpg)