Berita Karanganyar
Pemkab Karanganyar Siap Rombak Grojogan Sewu Jika Berhasil Diambil Alih: Pengelola Kurang Serius!
Rober Bupati Karanganyar mengusulkan agar pengelolaan Grojogan Sewu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Karanganyar
Penulis: joisetiawan
Editor: jonisetiawan
Ringkasan Berita:
- Grojogan Sewu yang dulu menjadi ikon wisata Jawa Tengah kini mengalami penurunan kunjungan signifikan
- Penurunan wisatawan berdampak pada pedagang, UMKM, jasa transportasi, dan ekonomi masyarakat
- Bupati Rober Christanto mengusulkan agar pengelolaan Grojogan Sewu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Karanganyar agar pengembangan dan inovasi wisata bisa dilakukan lebih optimal
TRIBUNTRENDS.COM - Bagi masyarakat Karanganyar maupun wisatawan yang pernah berkunjung ke lereng Gunung Lawu, nama Grojogan Sewu pernah menjadi simbol kejayaan pariwisata Jawa Tengah.
Selama puluhan tahun, air terjun setinggi puluhan meter itu menjadi tujuan favorit wisatawan dari berbagai daerah. Suara gemuruh air yang jatuh dari tebing, udara pegunungan yang sejuk, serta perjalanan menuruni ribuan anak tangga menjadi pengalaman khas yang selalu dikenang para pengunjung.
Pada masa jayanya, kawasan wisata ini nyaris tak pernah sepi. Akhir pekan dan musim liburan identik dengan antrean kendaraan, ramainya pedagang, hingga padatnya wisatawan yang hilir mudik menuju lokasi air terjun.
Namun kondisi tersebut kini berubah drastis.
Di hari-hari biasa, jumlah pengunjung bahkan disebut tidak mencapai 100 orang. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa destinasi wisata legendaris yang dahulu begitu populer kini semakin kehilangan pesonanya?
Baca juga: 5 Alasan Meredupnya Grojogan Sewu, Wisata Legendaris Karanganyar Kini Mulai Ditinggalkan
Terjebak dalam Status Kawasan Konservasi
Salah satu faktor utama yang disebut menjadi penyebab sulitnya Grojogan Sewu berkembang adalah status kawasan yang berada di bawah pengelolaan pemerintah pusat sebagai kawasan konservasi.
Kepala Disparpora Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, menilai perkembangan tren wisata saat ini bergerak sangat cepat. Wisatawan tidak lagi hanya mencari pemandangan alam, tetapi juga pengalaman baru yang interaktif dan beragam.
Sayangnya, berbagai inovasi yang kini menjadi tren di banyak destinasi wisata modern sulit diterapkan di Grojogan Sewu.
“Tren wisata berkembang cepat, tapi di sana tidak bisa mengikuti. Aktivitas seperti camping, glamping, atau inovasi lain tidak diperbolehkan,” ujar Yopi.
Akibat berbagai pembatasan tersebut, ruang kreativitas dalam pengembangan destinasi menjadi sangat terbatas. Ketika banyak tempat wisata berlomba-lomba menghadirkan konsep baru, Grojogan Sewu justru terjebak dalam format lama yang nyaris tidak berubah selama bertahun-tahun.
Harga Tiket Dinilai Kurang Kompetitif
Selain keterbatasan inovasi, harga tiket masuk juga menjadi sorotan.
Untuk menikmati keindahan Grojogan Sewu, wisatawan harus membayar sekitar Rp27.000 hingga Rp29.500 pada hari biasa. Angka tersebut dianggap cukup tinggi dibandingkan sejumlah destinasi serupa di wilayah sekitar.
Menurut Yopi, sebagian besar biaya tiket berasal dari komponen Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang harus disetorkan ke negara.
“Sekitar Rp15.000 masuk ke negara. Sementara pengelola juga sudah membayar sewa lahan,” ungkapnya.
Sumber: TribunTrends.com
| Pemkab Karanganyar Siap Rombak Grojogan Sewu Jika Berhasil Diambil Alih: Pengelola Kurang Serius! |
|
|---|
| Pertunjukan Wayang Kulit Lintas Generasi di Karanganyar, Tampilkan Kolaborasi Dalang Pria dan Wanita |
|
|---|
| BAZNAS Karanganyar Modali 50 Pemuda demi Jadi Satpam, Kucurkan Rp3,5 Juta per Kepala dari Dana Zakat |
|
|---|
| Puluhan Dalang Siap Tampil di Pendopo Karanganyar, Mainkan Lakon Semar Mbangun Kayangan, Gratis! |
|
|---|
| Tergiur Iming-iming Haji Murah, Lansia di Karanganyar Malah Kehilangan Rp100 Juta, Begini Modusnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/GEROJOGAN-SEWU-Cuma-21-Km-Dari-Karanganyar-Keindahan-Air-Terjun-Grojogan-Sewu.jpg)