Drama MBG
Ironi Pengadaan 21.000 Unit Motor Listrik MBG, DPR Singgung Gaji Honorer: Selesaikan Problem Dasar
Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, kritik pengadaan motor listrik 21.000 untuk SPPG, minta BGN prioritaskan programnya dulu.
Editor: ninda iswara
Ringkasan Berita:
TRIBUNTRENDS.COM - Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, melontarkan kritik terhadap rencana pengadaan 21.000 unit motor listrik yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Kebijakan ini dinilai menimbulkan sejumlah persoalan, terutama dari sisi prioritas penggunaan anggaran negara.
Sorotan tersebut semakin menguat setelah sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut telah mencoret pengadaan tersebut dari kementeriannya.
Namun demikian, program itu tetap dilanjutkan oleh BGN, sehingga memunculkan tanda tanya di ruang publik.
Diketahui, pengadaan motor listrik dengan nilai mencapai sekitar Rp1,39 triliun itu menggunakan anggaran tahun 2025, meski barangnya baru akan diserahkan pada Mei 2026.
Baca juga: Skema Anggaran Rp 113 Miliar untuk EO, Pakai Jasa 16 Perusahaan, BGN Jabarkan Tugas dan Perannya
Kondisi ini pun memicu pertanyaan terkait mekanisme pengadaan yang dijalankan BGN, khususnya apakah sudah sesuai dengan standar tata kelola keuangan negara.
Di sisi lain, Kepala BGN Dadan Hindayana sebelumnya menegaskan bahwa pengadaan motor listrik untuk para kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan merupakan program yang dibuat secara mendadak.
Ia juga menyampaikan bahwa prosesnya dilakukan secara transparan dan tetap mengedepankan akuntabilitas dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski demikian, Pulung tetap menekankan pentingnya peninjauan ulang terhadap skala prioritas anggaran, terlebih dengan kondisi fiskal negara yang saat ini dinilai tidak dalam keadaan optimal.
Ia menilai, BGN seharusnya lebih fokus membedakan kebutuhan yang benar-benar mendesak dengan program yang tidak terlalu prioritas.
Menurutnya, kebutuhan utama di lapangan saat ini justru terletak pada peningkatan kualitas operasional dapur SPPG agar mampu menghasilkan makanan yang bersih, sehat, dan sesuai standar gizi.
“Akan jauh lebih bagus jika anggaran BGN difokuskan untuk menyelesaikan problem dasar pada dapur-dapur SPPG sehingga memiliki standar output yang maksimal. Jangan minimalis kayak sekarang,” ujar Pulung dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews, Minggu (12/4/2026).
Selain persoalan tersebut, Pulung juga menyoroti kebijakan pengadaan motor listrik yang diberikan kepada kepala SPPG, yang sekaligus berstatus sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
Menurutnya, kebijakan ini menjadi ironi di tengah kondisi lain, di mana masih banyak pemerintah daerah yang berpotensi melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pegawai PPPK akibat keterbatasan anggaran untuk membayar gaji.
Situasi serupa juga terjadi pada tenaga pendidik honorer yang masih menerima pendapatan jauh dari standar kelayakan.
“Ini ironi bangsa ini," tegas Pulung.
BGN Tak Pernah Laporkan Pengadaan Motor Listrik
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, juga mengungkapkan bahwa BGN tak pernah melaporkan rencana pengadaan motor listrik bagi Kepala SPPG tersebut.
Padahal, kata Charles, jika BGN melaporkan pengadaan motor tersebut, pihaknya pasti bakal menolaknya.
"Enggak ada (konsultasi), karena kalau disampaikan ke kami disini, pasti akan kami tolak," kata Charles di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/4/2026).
Charles juga menyinggung langkah Menkeu Purbaya yang sempat memblokir pengadaan motor listrik tersebut.
Namun, kata Charles, BGN malah tetap mengimpor motor listrik tahun ini.
"Pak Menkeu kan sudah menolak pengadaan motor ini tahun 2025, tapi ternyata tetap diadakan dan barangnya sudah hadir di Indonesia," ucapnya.
Selain itu, menurut Charles, ada kejanggalan juga terkait pengadaan motor tersebut, yakni terkait pabrik pembuatan motor listrik tersebut.
"Yang lucu lagi, tadi pagi saya sempat menonton video salah satu media, bahkan kantornya saja belum jadi, kantor distributor dari motor ini belum jadi," ucapnya.
"Dan ternyata di dalam sudah dipersiapkan akan ada satu SPPG yang akan beroperasi di sana. Jadi ini something fishy, jadi kita akan meminta penjelasan dari Pak Kepala BGN di depan," imbuhnya.
Charles pun mengatakan Komisi IX DPR akan memanggil BGN imbas pengadaan motor listrik tersebut pada Senin (13/4/2026) besok.
"Hari Senin besok kami akan mengundang BGN bersama dengan beberapa instansi lain, khusus membahas tata kelola program MBG. Ya nanti kami akan sampaikan di hari Senin," pungkasnya.
Baca juga: DPR Sebut BGN Tak Pernah Laporkan Pengadaan Motor MBG, Panggil untuk Klarifikasi: Something Fishy
Penjelasan Kepala BGN
Saat merespons video sepeda motor berlogo BGN yang viral di media sosial, Dadan menjelaskan bahwa pengadaan ribuan motor listrik itu bukan program dadakan.
Dadan menyebut, prosesnya juga secara transparan dan akuntabilitas dalam pelaksanaan Program MBG.
Dia kemudian menjelaskan awal mula pengajuan anggaran tersebut, yakni sudah direncanakan sejak 2025 lalu.
“Pengadaan motor listrik itu jadi bagian dari perencanaan anggaran tahun 2025, bukan program baru yang muncul secara tiba-tiba,” tegas dia di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Dadan mengatakan, pada akhir tahun 2025, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) telah mengajukan Surat Perintah Membayar (SPM), sehingga anggarannya masuk dalam RPATA atau Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran.
Mekanisme ini sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 84 Tahun 2025, di mana pembayaran dilakukan dalam dua tahap; termin 1 atas terselesaikannya 60 persen unit dan termin 2 untuk penyelesaian hingga 100 persen unit.
Hingga akhir masa pemberian kesempatan pada 20 Maret 2026, penyedia hanya sanggup menyelesaikan 85,01 persen atau sebanyak 21.801 unit dari 25.644 unit yang dikontrakkan.
“Sisa dana yang telah ditampung dikembalikan ke kas negara dengan penihilan RPATA bersamaan dengan pembayaran tahap 2,” ujar Dadan.
Dadan lantas mengatakan, realisasi pengadaan motor listrik mencapai 21.801 unit dari rencana awal 25.644 unit.
Seluruh unit motor yang diproduksi juga merupakan hasil karya dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 48,5 persen.
Produksi dilakukan di fasilitas manufaktur yang berlokasi di Citeureup, Jawa Barat.
“Ini adalah bagian dari upaya kami untuk tidak hanya mendukung operasional program, tetapi juga mendorong industri nasional melalui penggunaan produk dalam negeri dengan TKDN yang signifikan,” jelas Dadan.
Saat ini, seluruh kendaraan tersebut masih dalam tahap penyelesaian administrasi sebagai Barang Milik Negara (BMN) sebelum didistribusikan.
Pendistribusian akan dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan operasional di masing-masing wilayah.
“Motor listrik ini belum didistribusikan. Kami memastikan seluruh proses administrasi, termasuk pencatatan sebagai BMN, diselesaikan terlebih dahulu agar penggunaannya tertib, transparan, dan akuntabel,” tegas Dadan.
(TribunTrends/Tribunnews/Rifqah)
Jangan lewatkan berita-berita TribunTrends.com tak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook
Sumber: Tribunnews.com
| Respons UI saat BGN Minta Satu Kampus Punya Dapur MBG, Rektor: Tugas Kami Pendidikan, Bukan Masak! |
|
|---|
| Temui Massa di Hari Buruh, Prabowo Tanyakan MBG Bermanfaat atau Tidak: Indonesia Tambah Sejahtera |
|
|---|
| Pidato Berapi-api Prabowo di Hari Buruh: MBG Bermanfaat atau Tidak? |
|
|---|
| Ikuti Arahan BGN, UNHAS Jadi Kampus Pertama yang Miliki Dapur MBG, Siap Suplai Ribuan Porsi |
|
|---|
| Kepala BGN Dadan Hindayana Sebut Jurusan Gizi Kini Mendadak Diminati Gara-Gara Program MBG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Kepala-BGN-Dadan-Hindayana-menyebut-motor-listrik-MBG-yang-viral-dibeli.jpg)