Bukan Sekadar Boneka: Barbie Autistik Pertama Resmi Diluncurkan Mattel, Dilengkapi Aksesori Penting
Representasi Barbie autistik didesain sedikit menoleh ke samping, kebiasaan sebagian individu autistik menghindari kontak mata secara langsung.
Penulis: Sinta Manila
Editor: Sinta Manila
Sejak pertama kali diperkenalkan pada 1959, Barbie telah mengalami banyak perubahan. Namun, baru pada 2019 Mattel mulai menghadirkan boneka dengan disabilitas.
Kini, lini Barbie mencakup boneka tunanetra, pengguna kursi roda, penyandang Down syndrome, vitiligo, hingga alat bantu dengar.
Bahkan karakter Ken pun telah diperkenalkan dengan kaki prostetik dan kursi roda.
Jamie Cygielman, Global Head of Dolls Mattel, menyebut peluncuran Barbie autistik sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan terhadap inklusi.
“Barbie selalu berupaya merefleksikan dunia yang dilihat anak-anak dan kemungkinan yang mereka bayangkan.
Kami bangga memperkenalkan Barbie autistik pertama sebagai bagian dari upaya berkelanjutan ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa boneka ini “memperluas makna inklusi di rak mainan dan di luar itu, karena setiap anak berhak melihat dirinya di Barbie.”
Mengapa Representasi Ini Penting?
Meski secara teori siapa pun bisa membayangkan Barbie sebagai sosok autistik karena autisme tidak memiliki satu tampilan tertentu.
Kehadiran representasi yang eksplisit tetap memiliki dampak besar. Hal ini disampaikan Jolanta Lasota, CEO organisasi Ambitious about Autism.
“Representasi itu kuat, dan Barbie adalah mainan ikonik. Kami berharap banyak anak autistik merasa bangga melihat sebagian pengalaman mereka tercermin dalam boneka ini,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa anak-anak autistik sering enggan menggunakan alat bantu seperti ear defender atau mainan stim di sekolah karena takut terlihat berbeda.
Normalisasi visual melalui mainan, menurutnya, dapat membantu mengurangi stigma tersebut.
Lasota juga menekankan aspek gender.
Dengan anak perempuan tiga kali lebih jarang didiagnosis autistik dibanding anak laki-laki, Barbie ini sekaligus menyoroti pengalaman anak perempuan autistik yang kerap luput dari perhatian.
Mengubah Cara Anak Memahami Perbedaan
Ellie Middleton, penulis dan pendiri komunitas daring bagi individu neurodivergen, menilai kehadiran Barbie autistik dapat membantu mematahkan stereotip.
Sumber: TribunTrends.com
| Sate Buntel Solo, Menelusuri Jejak Kuliner Ikonik untuk Mudik Lebaran 2026 yang Wajib Dikunjungi |
|
|---|
| Filosofi Janur dan Maaf dalam Tradisi Lebaran Ketupat, Warisan Wali Songo yang Tak Lekang Zaman |
|
|---|
| Berburu Buah Tangan di Kota Bengawan, 5 Oleh-oleh Khas Solo yang Wajib Masuk Daftar Belanja |
|
|---|
| Menyambangi Solo? Ini 5 Rekomendasi Selat Terlezat yang Wajib Masuk Daftar Makan Siang Keluarga |
|
|---|
| Anggun dalam Balutan Peach, Gaya Lebaran Titiek Soeharto di Istana Merdeka Curi Perhatian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Representasi-Barbie-autistik-didesain-sedikit-menoleh-ke-samping.jpg)