TRIBUNTRENDS.COM - Dalam hiruk pikuk malam kelam yang berubah menjadi tragedi, satu suara akhirnya pecah di tengah gelombang tuntutan keadilan.
Sopir kendaraan taktis (rantis) Baracuda milik Brimob angkat bicara.
Suaranya gemetar, tapi kata-katanya tegas.
Dan justru di sanalah kepingan pertama dari kronologi maut Affan Kurniawan perlahan terkuak.
Di hadapan penyidik Divisi Propam Polri, pria yang berada di balik kemudi rantis mengaku tak pernah melihat tubuh Affan di depan mobilnya.
Ia hanya tahu bahwa malam itu adalah soal bertahan hidup, soal menyelamatkan nyawa rekan-rekan dalam kendaraan, bukan mengenali siapa yang dilindas ban kendaraan tempur.
"Saya tidak mengerti posisi orang karena saya tidak memperhatikan orang kanan kiri, (pandangan) saya ke depan," ucapnya.
Padahal, dalam video yang viral di media sosial, tubuh Affan terlihat jelas berada tepat di depan rantis. Bukan di samping. Bukan di belakang. Tapi di jalur langsung ban mobil.
Dengan suara yang terdengar menahan tekanan, sopir rantis itu mengisahkan ulang detik-detik mencekam di Pejompongan.
Massa menyerang dari segala arah. Batu, botol, hingga molotov menghujani kendaraan. Di tengah kepungan, dia memilih untuk tidak berhenti.
"Memang itu sudah nyerang. Saya gak memperhatikan, saya nyalain sirine supaya minggir, saya berupaya," ujarnya.
Dan ketika jalanan yang dilaluinya sudah tak lagi bisa dibedakan antara batu atau tubuh manusia, ia mengambil keputusan yang kini mengubah segalanya.
"Saat itu jalanan itu sudah banyak batu, saya gak ngerti apakah itu, iya gak bisa bedakan mana batu, pecahan yang tengah itu, itu saya hantam aja. Karena kalau gak saya terobos itu selesai pak udah. Massa penuh," katanya jujur.
Mobil Taktis dan Asap Perang
Mobil rantis Baracuda itu bukan kendaraan biasa.
Mercedes-Benz 4x4, dengan bodi tinggi dan lapisan pelindung kuat.
Dari dalamnya, pandangan sopir terhalang kaca gelap dan asap. Situasi sudah seperti medan perang.
"Tinggi," katanya singkat, menggambarkan posisi duduk yang membuatnya sulit menengok detail di bawah.
"Kaca saya itu kan gelap, saat itu asap penuh, kan kami habis nembak habis diserang kan. Saya pakai lampu tembak saya fokus ke depan, lurus supaya dia minggir," tambahnya.
Namun justru keputusan untuk terus memacu mobil itulah yang membawa nyawa Affan Kurniawan melayang.
Setelah insiden itu, sopir mengaku melarikan diri demi menyelamatkan rekan-rekannya di dalam mobil.
"Saya izin pak, selamat sangat bersyukur karena dalam pikiran kami, satu mobil sudah gak bisa lari, massa itu di depan itu," ujarnya.
Baca juga: Air Mata Belum Kering, Postingan Polisi Soal Tewasnya Affan Menyulut Amarah Publik: Dia yang Salah
Affan Tewas, Tujuh Brimob Diperiksa
Affan, pengemudi ojek online yang malam itu hanya mengantar makanan, bukan ikut aksi.
Namun di tengah kekacauan demonstrasi di Jakarta Pusat, tubuhnya justru menjadi korban roda besi kendaraan perang milik aparat.
Kini, tujuh anggota Brimob telah diamankan untuk diperiksa. Mereka adalah:
Kompol C
Aipda M
Bripka R
Briptu D
Bripda M
Baraka Y
Baraka J
Pemeriksaan terhadap ketujuh orang itu dilakukan oleh Biro Pengamanan Internal (Paminal) Divisi Propam Polri.
Bahkan, proses ini disiarkan secara langsung di Instagram resmi @divisipropampolri, memperlihatkan wajah-wajah mereka mengenakan kaos hijau bertuliskan “Titipan Patsus Propam Polri.”
Dalam tayangan live tersebut, lima orang tampak duduk di deretan depan, berhadapan langsung dengan para penyidik.
Dua lainnya duduk tepat di belakang. Sayangnya, suara saling bersahutan membuat isi pemeriksaan tak bisa didengar jelas oleh publik.
Hingga pukul 15.00 WIB, proses pemeriksaan masih berlangsung.
Tapi bagi masyarakat, satu pertanyaan besar masih menggantung: siapa yang benar-benar harus bertanggung jawab atas tewasnya Affan?
"Tidak Ada yang Ditutupi"
Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan dengan transparansi penuh.
"Seluruh pihak terkait akan kita proses. Tidak ada yang kita tutup-tutupi," tegasnya.
Ia juga memastikan bahwa Polri melibatkan pihak eksternal agar tak ada lagi ruang abu-abu dalam penyelidikan ini.
(TribunTrends.com/ TribunnewsBogor.com/ Disempurnakan dengan bantuan AI)