Affan adalah anak yang penurut, pekerja keras, dan paling banyak membantu keluarganya.
Sejak putus sekolah di SMP, Affan memutuskan untuk mengayuh hidup dengan menjadi driver ojek online, sama seperti sang ayah.
“Dia kerja dari pagi sampai malam. Tulang punggung saya,” kata Zulkifli dengan suara bergetar.
Kenangan terakhir bersamanya sederhana, namun kini terasa seperti emas hanya momen memanaskan motor bersama.
Kini Zulkifli hanya bisa mengingat wajah anaknya yang terbujur kaku di RSCM. Ia bahkan tak sanggup menonton video memilukan yang viral di media sosial.
“Saya enggak berani lihat. Enggak pernah buka itu,” akunya.
Bagi keluarga ini, Affan bukan hanya anak, tapi harapan. Ia yang membantu bayar cicilan, memberi tanpa diminta.
“Pas saya susah-susah, enggak punya uang, tumpuan saya dia,” ujarnya.
“Saya bilang, ‘Dek, pinjamin bapak Rp 750.000 buat bayar motor’. Dia langsung jawab, ‘Ya udah, mana rekeningnya?’ Dia enggak ngomong apa-apa lagi.”
Kini, semua tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah luka, dan secercah harapan akan keadilan.
“Saya cuma minta keadilan aja,” ucapnya sebelum menyolatkan jenazah sang putra.
***
(TribunTrends/Wartakota)