Sementara di Jalan Sudirman, Markas Polda Metro Jaya tak luput dari amarah.
Mahasiswa dari berbagai kampus, termasuk yang membawa bendera Universitas Indonesia, menggulung barisan di depan gerbang utama.
Saat waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB, pagar besi itu roboh, dan massa menyerbu masuk sejauh 20 meter ke dalam halaman kantor kepolisian.
Mereka bukan datang membawa senjata.
Mereka datang dengan ejekan dan rokok.
"Bang rokok bang asli ini rokok," seru seorang mahasiswa sambil menyodorkan batang nikotin ke arah polisi yang hanya diam di balik tameng.
Asap rokok pun ditiupkan ke celah pelindung. Gelak tawa menyertai.
Namun bukan berarti tidak ada kekerasan. Botol-botol air mineral melayang, menghantam barisan belakang Brimob yang tampak goyah.
Baca juga: Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Affan Kurniawan ke TPU Karet Bivak, Adik Tak Henti Menangis
Pejompongan, Malam Berdarah
Semua ini bermula dari satu tragedi. Di Jalan Penjernihan, Pejompongan, Kamis malam yang lalu, Affan Kurniawan, 21 tahun, hanya ingin menyelesaikan pesanan makanannya.
Tapi malam itu berubah menjadi akhir hidupnya.
Rekan sesama ojol, Hafidz alias Ompong, melihat langsung kejadiannya.
"Dia nggak ikut demo, lagi mau nyeberang kena mobil Barracuda ngebut, jadi kelindes. Saya ada di TKP, saya lagi lihat orang tawuran. Teman-teman langsung bawa ke RS, diperjalanan nggak ketolong. Meninggal pas perjalanan," ungkap Ompong dengan suara bergetar.
Tak pernah ada yang menyangka jaket hijaunya akan menjadi kain kafan kedua. Affan, si periang, si penebar tawa di basecamp, telah pergi.
"Affan itu suka bercanda, ketawa-ketawa, itu aja sih. Saya terakhir ketemu kemarin pas mau anter food, anterin orderan," kenang Ompong lagi.