Berita Viral

Santri di Jambi Dianiaya Senior, Telepon Ayah: 'Kalau Ayah Tak Mau Menyesal, Jemput Saya Sekarang'

Editor: jonisetiawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Rikarno ceritakan kronologi anaknya yang merupakan santri Ponpes berinisial APD yang jadi korban perundungan senior di Jambi.

TRIBUNTRENDS.COM - Kasus perundungan kembali terjadi, kali ini seorang santri berinisial APD (12) kelas 7 menjadi korban perundungan oleh dua orang seniornya  di pondok Tawakal Tri Sukses Kota Jambi.

Imbas perundungan itu APD sampai mengalami luka lebam dibagian paha, cidera dibagian kelamin.

Kondisi yang memprihatinkan membuat korban harus dilarikan ke RSUD Raden Mattaher Jambi.

Lantas, bagaimana kondisi APD saat ini?

Baca juga: Tangis Ibu Siswa MAN 1 Medan Pecah, Tak Terima Anaknya Jadi Korban Bully, Alasan Pelaku Siksa Korban

Ilustrasi penganiayaan - seorang santri di Jambi dianiaya senior. (http://www.ladbible.com)

Penganiayaan ini pertama kali terungkap setelah APD menelepon ayahnya. 

"Yah, kalau ayah tidak mau menyesal, jemput saya sekarang," kata APD dalam sambungan telepon itu.

Setelah mendengar permohonan itu, Rikarno Widi Setiawan, ayah kadung APD, langsung bergegas ke pondok pesantren. 

Sesampainya di sana, APD tampak terbaring dan terlihat kesakitan di unit kesehatan pondok (UKP).

Rikarno menerangkan, anaknya mengalami luka lebam dan cidera dibagian kelamin, karena digesek secara keras menggunakan kaki oleh seniornya.

"Prakteknya itu mulut anak saya di tutup, tangannya dipegang kakinya juga dipegang secara kuat dipaksa, terus kaki pelaku itu nendang kemaluan anak saya," kata Rikarno, Kamis (30/11/2023).

Lanjutnya, setelah selesai melakukan perbuatan tersebut korban mengalami kesakitan. 

Tak sampai disitu, pelaku justru menginjak perut korban.

"Luka lebam dikanan kiri paha, kemaluan sampai testisnya atau biji kemaluannya bengkak dan diperut juga," ujarnya.

Rikarno orang tua korban Santri Ponpes di Jambi Jadi Korban Perundungan Senior.

Rikano menyebutkan, para pelaku ini bukan teman sebaya dari anaknya. 

Pelaku merupakan senior yang sudah lulus namun mengabdi di pondok pesantren tersebut. Pelaku tersebut ialah Rosad dan Firman.

Halaman
12