Satu dari 39 tahanan itu adalah Malah Salman (23) dari Beit Safafa di Yerusalem Timur yang diduduki.
"Polisi (Israel) ada di rumah kami dan mencegah orang-orang menyapanya," kata ibunya pada Jumat (24/11/2023), dikutip dari Sky News.
"Putri saya lelah dan lapar. Dia belum makan sejak kemarin," tambahnya.
Pencegahan ini juga terjadi pada keluarga tahanan Palestina, Zeina Abdo di Jabal Mukaber.
Lokasi lain, Israel juga menyita sejumlah makanan dari rumah tahanan Palestina, Amani Al-Hashim di Beit Hanina, ketika keluarganya bersiap membagikan makanan.
"Suami saya dipanggil untuk diinterogasi di Pusat Investigasi Al-Maskobiyya sore ini dan teleponnya dimatikan. Kami belum menerima kabar apapun darinya," kata Sawsan Bakir, ibu dari tahanan Marah Bakir pada Jumat (24/11/2023) sore.
Baca juga: 300 Warga Palestina yang Disandera Israel Bakal Bebas, Ada Remaja 14 Tahun hingga Nenek 59 Tahun
Israel Beri Syarat sebelum Bebaskan Tahanan Palestina
Pengacara Pusat Informasi Wadi Hilweh, Muhammad Mahmoud, mengatakan keluarga tahanan diminta membawa anak perempuannya dari Al-Maskobiyya ke rumah sendirian.
"Beberapa syarat diberlakukan pada masyarakat, termasuk berjanji untuk tidak mengadakan pertemuan atau perayaan, dilarang mengibarkan bendera atau meneriakkan slogan-slogan," kata Muhammad Mahmoud kepada Al-Jazeera.
Muhammad Mahmoud mengatakan tidak menutup kemungkinan untuk mencegah mereka memberikan pernyataan pada pers.
Pembebasan sandera
Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata selama 4 hari yang dimulai pada Jumat (24/11/2023) pukul 7 pagi untuk pembebasan 50 sandera dan 150 tahanan.
Pada hari pertama, Hamas membebaskan 24 sandera yang terdiri dari 13 warga Israel, 10 warga Thailand dan 1 warga Filipina.
Sementara Israel membebaskan 39 tahanan Palestina dari penjara pada hari itu.
Pembebasan selanjutnya akan dilakukan selama tiga hari berikutnya, dengan estimasi setidaknya 10-13 sandera per hari.