Sritex Dinyatakan Pailit, Tutup 1 Maret 2025, 10.669 Karyawan di PHK, Ini Perjalanan Raksasa Tekstil
Perusahaan tekstil terbesar se-Asia Tenggara, Sritex, resmi tutup 1 Maret 2025, sebanyak 10.669 karyawan di PHK.
Editor: ninda iswara
"(Karyawan) yang cuti-cuti masih ada harus dibayarkan. Kalau nanti tutup dianggap lunas enggak bisa dan kurator menyetujui dan dibayarkan," lanjutnya.
Baca juga: Baru Saja Kena PHK? Ini Tips Cari Pekerjaan Baru, Baca Doa Setelah Sholat Tahajud Agar Dimudahkan
Respons Disperinaker Sukoharjo
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Sukoharjo, Sumarno, mengonfirmasi bahwa PHK di Sritex berlaku sejak 26 Februari, dengan hari kerja terakhir bagi para karyawan jatuh pada 28 Februari 2025.
Sritex sendiri akan resmi ditutup mulai 1 Maret 2025.
"Jumlah karyawan Sritex yang terkena PHK sebanyak 8.400 orang. Urusan pesangon menjadi tanggung jawab kurator. Sedangkan jaminan hari tua, menjadi kewenangan BPJS Ketenagakerjaan,” jelas Sumarno pada Kamis.
Sritex sebelumnya dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang berdasarkan putusan perkara nomor 2/Pdt.Sus-Homologasi/2024/PN Niaga Smg.
Hakim Ketua Moch Ansor menyatakan bahwa perusahaan tersebut lalai dalam memenuhi kewajiban pembayaran kepada krediturnya, termasuk PT Indo Bharta Rayon sebagai pemohon.
Perjalanan Sritex, dari Pasar Klewer ke Kancah Global
PT Sri Rejeki Isman Tbk, yang lebih dikenal sebagai Sritex, merupakan perusahaan tekstil raksasa yang berbasis di Sukoharjo, Jawa Tengah. Perusahaan ini didirikan oleh HM Lukminto pada 1966 dengan nama UD Sri Redjeki, bermula dari usaha perdagangan kain di Pasar Klewer, Solo.
Seiring waktu, Sritex berkembang pesat. Pada 1978, perusahaan ini resmi berbentuk perseroan terbatas (PT).
Kemudian, pada 1992, Sritex mengintegrasikan empat lini produksinya—pemintalan, penenunan, sentuhan akhir, dan garmen—ke dalam satu lokasi pabrik yang diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Keberhasilan Sritex semakin terlihat pada 1994 ketika perusahaan ini mendapat kepercayaan dari NATO dan Angkatan Bersenjata Jerman untuk memproduksi seragam militer.
Tidak hanya itu, perusahaan ini juga melayani pesanan dari berbagai negara, termasuk Inggris dan Papua Nugini, serta perusahaan mode ternama seperti Guess dan H&M.
Di tengah krisis moneter 1998 yang mengguncang perekonomian Indonesia, Sritex berhasil bertahan dan bahkan melipatgandakan pertumbuhannya hingga delapan kali lipat pada awal 2000-an.
Puncaknya, pada 2013, Sritex resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham SRIL.
Ekspansi dan Diversifikasi Bisnis
Selain industri tekstil, Sritex juga berekspansi ke bisnis serat rayon melalui PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Sukoharjo. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi hingga 90 ribu ton per tahun.
Namun, perusahaan sempat menghadapi masalah lingkungan akibat limbah cair pabrik yang meresahkan warga sekitar.
Sumber: Kompas.com
| DPR Skakmat Kritik Publik dan Jamin Kinerja Nanik Deyang yang Kini Jadi Kepala BGN: Sudah Terbukti |
|
|---|
| Jawaban Jokowi Usai Namanya Disebut Nadiem Makarim dalam Sidang Korupsi: Programnya Arahan Presiden |
|
|---|
| KSP Dudung Bongkar Alasan Prabowo Sikat Habis Pimpinan BGN: Ini Uang Rakyat, Jangan Berani Korupsi |
|
|---|
| Sahroni Sebut Prabowo yang Suruh Kejagung Geledah Kantor BGN: Dananya Begitu Besar, Rawan Korupsi |
|
|---|
| Dokter di Denpasar Bali Disetrum di Mobil, Pelaku Terlilit Utang & Serang Korban Secara Spontan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/sritex-tutup-permanen-phkjd.jpg)