Breaking News:

Wisata Kuliner

3 Kuliner Berbahan Serangga Ini Cuma Ada Gunungkidul Jogja, Bahannya Larva dan Kelelawar

3 kuliner yang bahannya serangga Ini cuma ada Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, bahannya dari larva dan kelelawar!

Editor: Agung Santoso
Kompas.com/ Markus Yuwono
Kuliner Kelelawar atau Codot Goreng di Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta.(Kompas.com/Markus Yuwono) 

3 kuliner yang bahannya serangga Ini cuma ada Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, bahannya dari larva dan kelelawar!

TRIBUNTRENDS.COM - Indonesia dikenal di seluruh dunia karena kekayaan alam dan budaya yang melimpah. Tidak hanya sebagai tempat wisata yang memukau, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi kreativitas kuliner yang tak terhitung jumlahnya. 

Keberagaman makanan di Indonesia tidak hanya menyajikan cita rasa yang menggugah selera, tetapi juga memiliki nilai budaya dan sejarah yang mendalam.

Salah satu daerah yang menarik perhatian dalam hal kuliner adalah Gunungkidul, Yogyakarta. Di sini, masyarakat dengan bijak memanfaatkan kekayaan alam di sekitar mereka untuk menciptakan makanan unik dan luar biasa, yang sering kali berbeda dari apa yang kita kenal sehari-hari.

Berikut ini adalah beberapa hidangan yang dapat dianggap ekstrem bagi banyak orang, tetapi memiliki makna tersendiri bagi masyarakat setempat. Sebuah perspektif baru yang menantang bagi mereka yang ingin memperluas cakrawala kuliner mereka.

1. Puthul Goreng: Kuliner Unik dari Hama Alam

Salah satu contoh makanan ekstrem dari Gunungkidul adalah Puthul Goreng. Puthul adalah sejenis kumbang yang sering ditemukan di dedaunan pada awal musim penghujan.

Di balik keunikannya, larva puthul dianggap sebagai hama yang berpotensi merusak tanaman pertanian warga. Oleh karena itu, masyarakat lokal mengolahnya menjadi makanan yang dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Proses pengolahan Puthul dimulai dengan pembersihan menggunakan air, kemudian sayapnya yang keras dihilangkan. Setelah dibumbui dengan bumbu bacem yang khas, Puthul kemudian digoreng hingga matang.

Meskipun terkesan ekstrem bagi orang luar, puthul yang digoreng ini tak hanya menjadi hidangan yang kaya protein, tetapi juga dijual oleh warga sekitar sebagai produk yang bernilai, dengan harga sekitar Rp 40.000 per 1.500 ml botol air mineral. Sebuah cara inovatif untuk mengelola potensi alam yang ada.

2. Kelelawar Bacem: Menggali Kearifan Lokal dalam Pengobatan Tradisional

Sementara itu, di sebuah warung di Gunungkidul, Anda dapat menemukan hidangan Kelelawar Bacem, yang dibuat dari hewan nokturnal yang biasanya sulit ditemui.

Kelelawar bacem ini memiliki cita rasa manis yang khas dan tekstur daging yang agak alot namun renyah di bagian tulangnya. Lebih dari sekedar rasa, kelelawar bacem juga dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan, seperti membantu menyembuhkan penyakit asma, diabetes, asam urat, hingga mempercepat proses penyembuhan luka.

Hidangan ini dijual dengan harga terjangkau, hanya Rp 7.000 per ekor, dan banyak yang didapatkan oleh warga lokal melalui pencarian di gua-gua sekitar kecamatan Panggang.

Bagi masyarakat setempat, kelelawar bukan hanya sumber makanan, tetapi juga bagian dari tradisi pengobatan alami yang sudah turun-temurun.

3. Tawon Goreng: Menyajikan Keberagaman Rasa dari Alam

Selain puthul dan kelelawar, masyarakat Gunungkidul juga menjadikan Tawon Goreng sebagai bagian dari menu mereka. Dalam konteks ini, tawon bukan hanya dianggap sebagai serangga yang mengganggu, melainkan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan.

Biasanya, yang diambil adalah anak tawon dari sarangnya, yang kemudian dibersihkan dan dibumbui dengan bawang putih dan garam tumbuk, atau terkadang ditambah dengan bumbu kaldu instan.

Setelah bumbu meresap, tawon goreng ini digoreng hingga matang, memberikan rasa yang gurih dan kaya.

Hidangan ini sering kali disajikan untuk konsumsi pribadi, tetapi menunjukkan bagaimana warga Gunungkidul memanfaatkan segala sesuatu yang ada di alam sekitar mereka, bahkan hal-hal yang biasa dianggap sebagai hama.

 
Kesimpulan: Menemukan Kekayaan Kuliner dalam Keberagaman dan Kearifan Lokal

Kuliner ekstrem Gunungkidul tidak hanya menawarkan pengalaman rasa yang berbeda, tetapi juga memberikan pandangan baru tentang bagaimana alam dan budaya bisa saling melengkapi. Makanan-makanan tersebut adalah bukti nyata bahwa kekayaan alam Indonesia bukan hanya sebuah potensi wisata, tetapi juga sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk keberlanjutan dan kesehatan masyarakat. Bagi banyak orang, mencicipi hidangan ini bisa menjadi cara untuk lebih memahami keberagaman kuliner Indonesia yang sarat akan nilai-nilai kearifan lokal.

Tags:
Gunung KidulJogjawisata kuliner
Berita Terkait
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved