Breaking News:

Berita Viral

Guru Diduga Lecehkan Siswi Tak Dipecat, Kepsek: Sekolah Kekurangan Guru

Kasus dugaan pelecehan oleh guru SMA di Pekanbaru jadi sorotan setelah pelaku tidak diberhentikan.

DAILY MAIL
GURU LECEHKAN MURID - Foto ilustrasi terkait kasus dugaan pelecehan seksual guru terhadap siswi SMA negeri Pekanbaru, Riau yang kini ditangani pihak kepolisian. Guru itu tak dipecat karena sekolah mengaku membutuhkannya. 

TRIBUNTRENDS.COM -Oknum Guru SMAN di Pekanbaru Tak Dipecat Usai Melecehkan Siswi, Pihak Sekolah Berdalih Kurang Tenaga Pengajar
Peristiwa memprihatinkan menimpa seorang siswi SMA Negeri di Pekanbaru, Riau. Meski diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya, oknum guru tersebut dikabarkan tidak dipecat oleh pihak sekolah dengan alasan tenaga pengajarnya masih sangat dibutuhkan.

Kasus ini awalnya diadukan ke Polda Riau, namun proses hukum selanjutnya dilimpahkan ke Polres Bengkalis. Hal ini dikarenakan tempat kejadian perkara (TKP) dugaan pelecehan tersebut berada di wilayah Kecamatan Duri, Kabupaten Bengkalis.

Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mendalami laporan tersebut.

"Iya dilakukan penyelidikan, karena dilimpahkan ke kita," kata Fahrian, Kamis (5/3/2026), melansir dari Kompas.com.
Sebagai langkah awal, kepolisian telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus ini dan memeriksa sejumlah saksi. Fahrian menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas perkara ini karena tindakan asusila di lingkungan pendidikan sama sekali tidak dapat ditoleransi.

 
Kronologi Kejadian

Korban merupakan seorang siswi kelas 2 SMA Negeri di Kota Pekanbaru berinisial PI (17). Ia melaporkan tindakan bejat gurunya, AS, kepada Cipta Gerakan Masyarakat (Germas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Riau. Pelaku diketahui merupakan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Wakil Ketua Umum Cipta Germas PPA Riau, Rika Parlina, menyatakan bahwa pihaknya kini memberikan pendampingan penuh kepada korban dan keluarganya. Rika mengaku sangat terpukul setelah melihat bukti rekaman video terkait tindakan asusila tersebut.

"Sangat miris melihat tenaga pendidik seperti itu. Kami meminta Dinas Pendidikan segera bertindak. Kasus ini juga sudah dilaporkan ke Polda Riau," kata Rika saat diwawancarai Kompas.com di Pekanbaru, Rabu (4/3/2026).
Berdasarkan keterangan korban, pelaku tidak hanya melakukan pelecehan fisik, tetapi juga sering menghubungi korban lewat telepon hingga tengah malam. Peristiwa pelecehan fisik terjadi saat kegiatan sekolah di Duri, Bengkalis. Saat itu, korban yang sedang kelelahan tertidur di dalam mobil. AS kemudian masuk dan melakukan aksi bejatnya sembari merekam kejadian tersebut.

Aksi ini terbongkar setelah seorang murid lain meminjam ponsel AS untuk keperluan dokumentasi sekolah dan menemukan video asusila tersebut.

"Kami harap pihak kepolisian dan sekolah memberikan tindakan terhadap oknum guru tersebut. Karena ini merusak dunia pendidikan," ujar Rika.
Rika juga menyayangkan sikap pihak sekolah yang dinilai kurang berempati terhadap trauma yang dialami PI.

"Kepala sekolah menyebut ini hanya khilaf dan guru tersebut merasa bersalah. Kami sesalkan karena yang dipikirkan justru kondisi gurunya, bukan trauma korban," ungkap Rika.

 
Kepala Sekolah Berdalih Kekurangan Guru

Kepala Sekolah SMA Negeri tersebut, Wan Roswita, mengakui adanya insiden tersebut. Namun, ia justru menyayangkan sikap korban yang tidak langsung melapor kepada pihak sekolah.

"Si anak tidak bicara langsung ke kami, itu yang kami sayangkan. Setelah kami tahu, barulah kami panggil orangtuanya dan siswa tersebut," ujar Wan, Rabu.
Pihak sekolah sempat melakukan mediasi antara AS dan korban. Dalam pertemuan itu, AS mengakui perbuatannya.

"Dia (AS) bilang ke saya katanya khilaf dan minta maaf. Memang si anak berat untuk memaafkan. Tapi saya bilang, jauh lebih mulia memaafkan," kata Wan.
Terkait sanksi, Wan memutuskan tidak mencopot AS dari posisinya dengan alasan sekolah sedang krisis guru Bahasa Indonesia. Meski begitu, ia mengaku sudah melaporkan hal ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Riau dan memberikan surat peringatan (SP) kepada pelaku.

"Saya tidak ada hak mencopot, karena saya ada atasan. Tapi, kejadian ini sudah saya laporkan ke Kabid SMA Dinas Pendidikan Provinsi Riau. Kalau untuk teguran, sudah kami berikan teguran dan surat peringatan tertulis. Guru tersebut janji tidak mengulangi," kata Wan.

 
Sorotan dari Jombang: Lemahnya Sistem Perlindungan Anak

Di sisi lain, kasus serupa di Jombang juga mendapat sorotan tajam dari Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI PMII). Ketua KOPRI PC PMII Jombang, Nina Fatmawati, menilai maraknya kekerasan seksual oleh pendidik adalah bukti rapuhnya sistem pengawasan di sekolah.

Halaman 1/2
Tags:
pelecehangurukepala sekolah
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved