Breaking News:

Berita Viral

Mengajar di Kelas, Bertahan di Kehidupan: Kisah Nini Guru SMA Jual Pastel Demi Empat Anak

Di balik ketegasan di kelas, seorang guru SMA berjuang hidupkan empat anak dengan menjual pastel beruntung Rp200.

Tayang:
Tribun Trends/Tim Konten Trends
GURU HONORER JUALAN - Nini Kurmala R guru SMA menjajakan pastel kepada murid-murid di SMA Negeri 5 Bukittinggi, Sumatera Barat sebagai upaya menambah penghasilan di sela aktivitas mengajar. Untung yang didapat Rp 200. 

TRIBUNTRENDS.COM - Peran Nini Kurmala R di ruang kelas dikenal tegas dan disiplin. Di depan papan tulis SMA Negeri 5 Bukittinggi, ia mengajarkan struktur teks argumentasi dengan suara mantap, memastikan murid-muridnya tetap fokus belajar. Namun, di balik sikap profesional itu, Nini tengah menghadapi pergulatan hidup yang tidak mudah. Statusnya sebagai guru honorer belum juga pasti, honor sering terlambat, dan ia harus menjalani hari-hari sebagai orang tua tunggal bagi empat anaknya.

Mengajar Sambil Menopang Hidup

Setiap pagi, Nini melangkah masuk gerbang sekolah dengan dua tanggung jawab di tangan. Map berisi RPP dan catatan pelajaran berada di tangan kanan, sementara di tangan kiri tergenggam kantong plastik hitam berisi ratusan pastel goreng. Itulah bekal tambahan yang ia andalkan untuk menyambung hidup. Pastel-pastel itu biasanya disimpan rapi di balik meja guru hingga bel istirahat berbunyi. Saat itulah Nini mulai menawarkan dagangannya kepada rekan guru, pegawai sekolah, atau murid yang mampir.

“Pastel, Bu…,” ucapnya lirih. Dari setiap pastel yang terjual, ia hanya mendapat keuntungan Rp 200. Jika seluruhnya laku, uang sekitar Rp 40.000 bisa ia bawa pulang. Separuhnya langsung habis untuk biaya penitipan anak bungsunya yang baru berusia dua tahun. Sisanya digunakan untuk kebutuhan harian sederhana, seperti ongkos pulang dan bahan makanan pokok.

Baca juga: Perjuangan Bu Nini Bertahan Hidup sebagai Guru Honorer Tanpa Suami, Rela Jual Pastel di Sekolahan

Perjalanan Panjang Seorang Pendidik

Nini lahir dan besar di Bukittinggi. Ia menyelesaikan pendidikan di Universitas Negeri Padang, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Karier mengajarnya dimulai di Tanjungpinang, di sebuah SMP swasta, tempat ia merasakan kebanggaan saat muridnya meraih nilai sempurna pada Ujian Nasional. Prestasi itu bahkan mengantarkannya mendapat penghargaan dari wali kota setempat.

Namun perjalanan hidup membawanya berpindah-pindah mengikuti suami, hingga akhirnya kembali ke kampung halaman. Di Bukittinggi, Nini mengajar di bimbingan belajar dan sempat menjadi honorer di sekolah negeri. Masalah administrasi membuat NUPTK-nya tak kunjung terbit, memaksanya meninggalkan sekolah formal untuk sementara waktu. Baru pada 2022, ia kembali mengajar di SMA Negeri 5 Bukittinggi, awalnya untuk menggantikan guru yang wafat. Jam mengajarnya penuh, setara guru PNS, tetapi status kepegawaiannya tetap menggantung.

Baca juga: Mengabdi Tanpa Upah, Kisah Musa Guru Ngaji yang Bertahan Hidup dari Jaga Sapi dan Warung Kecil

Bertahan Setelah Kehilangan

Penghasilan Nini sebagai honorer dihitung per jam, sekitar Rp 1,9 juta per bulan, itu pun kerap terlambat. Saat suaminya masih bekerja, ekonomi keluarga terasa lebih stabil. Namun dua tahun terakhir, suaminya terkena PHK. Mereka mencoba berbagai usaha, dari warung kelontong hingga berjualan makanan kaki lima. Sempat merasakan ramai pembeli saat menjual mi goreng, usaha itu kembali goyah setelah mereka harus pindah lokasi.

Pada awal Januari 2026, cobaan berat datang. Suami Nini jatuh sakit dan meninggal dunia hanya dua hari sebelum ulang tahunnya. “Sekarang saya kehilangan tempat sandaran,” tutur Nini sambil menahan tangis. Sejak itu, ia harus melanjutkan hidup seorang diri, mengandalkan gaji honorer dan hasil jualan pastel di sekolah.

Meski lelah dan khawatir dengan masa depan, Nini tetap berdiri tegak di kelas. Ia dikenal galak, tetapi murid-muridnya patuh dan menghormatinya. “Untuk mengajar, semua orang mungkin bisa. Mendidik itu yang susah,” katanya. Kalimat itu menjadi pegangan Nini, sembari terus berjuang agar dapur tetap mengepul dan pendidikan anak-anaknya tak terputus.

Tribun Jatim | Ani Susanti | TribunTrends.com | Afif Muhammad

Tags:
guruSMABukittinggi
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved