Breaking News:

Berita Viral

Wisuda di Kendari Jadi Viral, Mahasiswi Dilabrak Istri Sah dan Karangan Bunga Sindiran Muncul

Wisuda di Kendari menjadi viral setelah seorang mahasiswi dilabrak oleh istri sah, sementara karangan bunga bertuliskan sindiran muncul di lokasi.

Youtube Tribunnews Sultra Official
Wisuda di Kendari menjadi viral setelah seorang mahasiswi dilabrak oleh istri sah, sementara karangan bunga bertuliskan sindiran muncul di lokasi. 

“Kurang lebih empat sampai lima tahun mereka berhubungan, tapi ini perempuan sering mi ditinggalkan, tapi datang lagi menjadi pelakor,” kata RSK .

“Ada buku nikah palsu mereka beli, mereka berzina tanpa status,” jelasnya menambahkan.

RSK mengungkap dirinya menikah dengan sang suami yang merupakan sosok penambang sejak tahun 2006.

Meskipun sempat bercerai tahun 2024, keduanya kembali rujuk dan menikah resmi pada tahun 2025.

“Saya menikah dengan suamiku tahun 2006, kami sempat cerai tahun 2024, namun kami kembali menikah resmi tahun 2025,” ujarnya.

TribunnewsSultra.com masih mencoba menghubungi TA yang kabarnya akan memberikan keterangan resmi terkait viralnya foto dan video tersebut.

Salah satu rekan TR membenarkan kejadian itu.

TR yang tidak terima dengan perlakuan RSK bahkan berencana melaporkannya ke pihak kepolisian.

“Sudah resmi cerai tapi istrinya tidak terima diceraikan. Sehingga istri pertama marah dan memviralkan istri kedua. Makanya mau melapor,” katanya.

Apa Kata Ahli Linguistik soal "Pelakor"?

Belakangan ini, masyarakat Indonesia dibombardir cerita-cerita mengenai “pelakor” (perebut (le)laki orang), sebutan bagi perempuan yang dianggap bertanggung jawab merusak hubungan pernikahan sepasang suami istri.

Kita terpapar cerita-cerita ini hampir setiap hari, baik di media sosial atau di saluran media tradisional. Banyak orang mengekspresikan kebencian mereka terhadap “pelakor” di media sosial.

Meski pernyataan yang netral dan cukup reflektif ada, sikap yang menunjukkan kebencian lebih mudah ditemukan, setidaknya di Instagram, platform media sosial berbasis gambar dan teks yang sering digunakan orang untuk berbagi berita. Ujaran kebencian ini umumnya ditujukan pada perempuan tertuduh, dengan digunakannya istilah “pelakor”.

Baca juga: Virgoun Langsung Amankan Anak-Anak Usai Dugaan Perselingkuhan Inara Rusli Viral di Media Sosial

Sebagai peneliti linguistik saya ingin mengangkat satu masalah dari penggunaan istilah “pelakor” dalam percakapan mengenai perselingkuhan, yakni istilah ini digunakan untuk menyalahkan dan mempermalukan perempuan dan sama-sekali tidak menyalahkan laki-laki yang melakukan perselingkuhan.

Dalam konteks ini, istilah pelakor perlu dianalisis secara kritis.

Retorika yang timpang

Retorika pelakor timpang karena menempatkan perempuan sebagai “perebut”, seorang pelaku yang aktif dalam kegiatan perselingkuhan, dan menempatkan sang laki-laki seolah-olah sebagai pelaku yang tidak berdaya (barang yang dicuri, tak berkuasa).

Halaman 2/3
Tags:
KendaripelakorSulawesi Tenggara
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved