Breaking News:

Sosok

TERCORENG! Nadiem Makarim Terjerat Korupsi, Padahal Ayahnya Sosok Antikorupsi, Gulingkan Soekarno

Tercoreng! Nadiem Makarim terjerat korupsi, padahal ayahnya sosok antikorupsi di KPK, ikut gulingkan Presiden Soekarno

Tayang:
Penulis: Tim Konten Trends
Editor: Agung Santoso
Kolase Tribun News Maker/Makarim.com dan Kompas.com/Kristianto Purnomo
Sosok Nono Anwar Makarim dan putranya, Nadiem Makarim (kini tersangka korupsi proyek laptop Chromebook ) 

Tercoreng! Nadiem Makarim terjerat korupsi, padahal ayahnya sosok antikorupsi di KPK, ikut gulingkan Presiden Soekarno

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, akhirnya terseret pusaran hukum. Kejaksaan Agung resmi menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook di Kemendikbudristek periode 2019–2022 dengan nilai fantastis, mencapai Rp1,98 triliun.

Kabar itu mengejutkan publik. Sebab, nama Nadiem selama ini identik dengan sosok anak muda visioner, pendiri aplikasi transportasi daring Gojek, yang kemudian mendapat kepercayaan Presiden Joko Widodo untuk masuk ke Kabinet Indonesia Maju jilid II.

Julukan “Mas Menteri” pun melekat erat, melambangkan harapan baru dunia pendidikan Indonesia.

Namun, di balik sosok Nadiem, ada jejak panjang sejarah keluarganya yang jarang diketahui publik.

Darah politik dan hukum ternyata mengalir kuat dari sang ayah, Nono Anwar Makarim.

Nono bukanlah figur sembarangan. Ia adalah aktivis angkatan 1966 yang berada di garis depan demonstrasi menggulingkan rezim Orde Lama Soekarno.

Dari jalanan penuh gejolak itu, ia kemudian menapaki karier panjang sebagai praktisi hukum ternama sekaligus anggota DPR Gotong Royong (1967–1971) di era Orde Baru.

Pria kelahiran Pekalongan berdarah Arab itu menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia lalu melanjutkan studi ke Harvard Law School, Amerika Serikat, hingga meraih gelar Master of Law (LLM) dan doktor judicial science.

Dari kampus bergengsi itu pula lahirlah disertasinya yang monumental: “Companies and Business in Indonesia.”

Perjalanan profesional Nono semakin kokoh ketika ia mendirikan firma hukum Makarim & Taira S bersama rekannya, Frank Taira Supit, pada 1980.

Gembleng Hotman Paris Hutapea

Firma itu kemudian melahirkan banyak nama besar, salah satunya Hotman Paris Hutapea, yang sempat bekerja di sana selama 20 tahun.

Kiprah Nono tak hanya di dunia hukum. Ia dikenal sebagai penulis, kolumnis, dan pemimpin redaksi harian KAMI pada 1966–1973.

Ia juga aktif dalam berbagai yayasan, seperti Yayasan Biodiversitas Indonesia, Yayasan Bambu Indonesia, hingga Yayasan Aksara.

Halaman 1/2
Tags:
Nadiem MakarimNono Anwar MakarimChromebookKPK
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved