Berita Jogja
Program 'Bule Mengajar', Cara Yogyakarta Bikin Turis Asing Betah, Dilibatkan Aktivitas Masyarakat
Program bernama 'Bule Mengajar' diinisiasi oleh Dinas Pariwisata DIY dengan tujuan meningkatkan lama tinggal wisatawan mancanegara di Kota Yogyakarta
Penulis: ninda iswara
Editor: ninda iswara
“Kita kasih uang untuk beli makanan khas Kotagede ada kipo ada kembang waru, yangko jadi mereka belanja ke Pasar Legi dan kami ajak ke Kampung wisata Purbayan,” kata dia.
Kegiatan tersebut dinilai mampu menciptakan pengalaman wisata yang lebih berkesan karena wisatawan terlibat langsung dengan aktivitas warga sehari-hari.
Lucia menyebut, program “Bule Mengajar” diharapkan dapat meningkatkan rata-rata lama tinggal wisatawan asing selama berada di Yogyakarta.
Dengan konsep wisata berbasis interaksi sosial dan budaya, para turis tidak hanya datang untuk berlibur, tetapi juga belajar memahami kehidupan masyarakat setempat.
Di sisi lain, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menilai setiap program pemerintah harus memberi manfaat nyata bagi warga, termasuk melalui sektor pariwisata.
Menurutnya, program ini bukan sekadar mendatangkan wisatawan mancanegara, melainkan membuka ruang keterlibatan langsung antara turis dan masyarakat.
“Pariwisata itu harus berdampak langsung kepada masyarakat. Wisatawan datang bukan hanya melihat-lihat, tetapi ikut berinteraksi, belajar budaya, masuk kampung, hingga berbagi ilmu. Dari situ ada dampak ekonomi, sosial, dan pemberdayaan warga,” ujar Wawan.
Melalui pendekatan tersebut, pariwisata diharapkan mampu menjadi sarana pertukaran budaya sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Baca juga: Revisi Perda KTR Yogyakarta, Ini 5 Poin Utama, Usia Minimal Beli Rokok 21 Tahun, Denda di Malioboro
Wisatawan Dilibatkan dalam Aktivitas Masyarakat
Keterlibatan wisatawan dalam kehidupan masyarakat dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi warga lokal.
Menurut Wawan, kehadiran wisatawan tidak hanya soal berkunjung, tetapi juga bagaimana mereka ikut merasakan aktivitas dan budaya di lingkungan masyarakat.
Ia menilai, semakin lama wisatawan berada di suatu daerah, maka peluang perputaran ekonomi di tingkat kampung juga akan semakin besar.
Mulai dari kuliner rumahan, produk UMKM, hingga berbagai aktivitas masyarakat dapat ikut merasakan manfaat dari kunjungan wisatawan.
“Kalau wisatawan tinggal lebih lama, mereka makan di warung warga, membeli produk UMKM, ikut aktivitas kampung, maka manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Wawan menjelaskan, pola wisata berbasis masyarakat dinilai mampu menciptakan pemerataan ekonomi yang lebih nyata.
Tidak hanya pelaku usaha besar, warga di lingkungan sekitar destinasi wisata juga bisa memperoleh keuntungan secara langsung.
Sumber: TribunTrends.com
| Program 'Bule Mengajar', Cara Yogyakarta Bikin Turis Asing Betah, Dilibatkan Aktivitas Masyarakat |
|
|---|
| Anak Korban Little Aresha Yogyakarta Diduga Tak Disuapi Bekal, Tinggi Badan Kurang dari Standar Umur |
|
|---|
| Rumah dr. Sardjito Yogyakarta Dijual, Ditawarkan ke 10 Orang, UGM Upayakan untuk Kegiatan Akademik |
|
|---|
| Menilik Lugu Murni, Kedai Jamu Legendaris di Yogyakarta, Sri Bangun yang Berusia 71 Th Setia Merawat |
|
|---|
| Teka-teki 11 Bayi di Kontrakan Bidan di Yogyakarta, Dugaan Adopsi Ilegal & Jual Beli, Diasuh Dinsos |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/bule-mengajar-yogyakarta.jpg)