Bukan BBM, Harga Plastik Lebih Dulu Meroket Imbas Perang Iran, Pedagang Kecil Mulai Menjerit
Ternyata bukan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya langsung naik imbas perang di Timur Tengah.
Editor: Galuh Palupi
Ringkasan Berita:
- Bukan BBM, harga plastik lebih dulu naik imbas perang di Timur Tengah
- Pedagang kecil mulai menjerit gegara harga plastik meroket tajam
TRIBUNTRENDS.COM - Ternyata bukan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya langsung naik imbas perang di Timur Tengah.
Plastik menjadi produk pertama di Indonesia yang harganya meroket dampak perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.
Kenaikan ini dipicu lonjakan harga minyak dan terganggunya distribusi akibat konflik Timur Tengah, mengingat bahan baku pembuatan plastik memang berasal dari energi fosil.
Kenaikan harga plastik di tingkat pengecer bervariasi mulai dari Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu per pack.
Kenaikan ini membebani para pedagang yang membutuhkan plastik dalam menjalankan usahanya.
"Sekarang yang biasanya Rp25 ribu, sekarang Rp30 ribu, kalau biasanya Rp10 ribu jadi Rp12 ribu," kata pedagang nasi goreng, Raden Arka Wijaya di Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Napas Lega Rakyat per 1 April usai BBM Tak Jadi Naik, Menkeu: Dompet Pertamina Masih Kuat Menanggung
Karena kenaikan ini, pedagang terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk jadi modal penjualan.
Mereka ragu menaikkan harga jual karena takut ditinggal oleh pembeli.
Pun hal ini membuat keuntungan yang didapat menipis, dan membuat mereka harus putar otak untuk tetap dapat mempertahankan usahanya di tengah situasi tidak menentu.
"Ya sebenarnya lumayan memberatkan. Soalnya kan kita ambil untung dari seporsi paling Rp1.000, atau Rp500. Kalau harga plastik naik kan jadi kita susah muter modalnya," ujar Raka.
Bagi pedagang makanan kenaikan harga plastik memberatkan karena setiap harinya mereka membutuhkan kantong plastik, kebutuhan ini pun tidak bisa tergantikan dengan barang lain.
Para pedagang mencontohkan kebutuhan kantong plastik sebagai wadah bagi pembeli yang membungkus makanannya, baik kantong plastik ukuran kecil hingga berukuran sedang.
Sehingga ketika harga kantong plastik para pedagang terpaksa tetap membelinya, karena kebutuhan terhadap kantong plastik ini tidak tergantikan dengan komoditas lain.
"Karena kan lalapan harus plastik, sambel plastik, nasi dibungkus juga pakai kantong plastik, bagaimana coba? Semuanya harus plastik. Enggak mungkin kalau enggak," tutur pedagang pecel lele, Parti.
Sumber: Tribunnews.com
| Dedi Mulyadi Ajukan Dua Solusi Atasi Ledakan Ikan Sapu-sapu, Bukan Sekadar Ditangkap |
|
|---|
| 5 Pria Ditangkap Satpol PP, Jual Ikan Sapu-sapu untuk Bahan Siomay di Jakarta Pusat |
|
|---|
| Ketegangan AS-Iran Memanas, Donald Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz dan Siap Bertindak |
|
|---|
| Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Ini Kritik Pakar soal Diplomasi RI |
|
|---|
| Beda Sikap Rudy Masud dan Dedi Mulyadi Hadapi Demo, Satu Pilih Mundur Satu Turun ke Jalan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Ilustrasi-kantong-plastik-untuk-tempat-makanan.jpg)