Berita Viral
Mojtaba Khamenei Resmi Terpilih Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, Sosok yang Low Profile
Melalui pemungutan suara bulat yang digelar pada Minggu malam, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran ketiga.
Editor: Sinta Darmastri
Ringkasan Berita:
- Melalui pemungutan suara bulat yang digelar pada Minggu malam, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran ketiga
- Profil Mojtaba ditinjau secara menyeluruh sebelum akhirnya mengantongi suara bulat
- Putra kedua mendiang Ali Khamenei ini tidak pernah menduduki jabatan politik formal maupun mengikuti pemilihan umum
TRIBUNTRENDS.COM - Sebuah babak baru dalam sejarah Republik Islam Iran resmi dimulai. Di tengah guncangan konflik bersenjata yang merenggut nyawa Ayatollah Seyed Ali Khamenei akibat serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu, Majelis Ahli Iran bergerak cepat menentukan nakhoda baru.
Melalui pemungutan suara bulat yang digelar pada Minggu (8/3/2026) malam, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran ketiga. Pengumuman ini menandai suksesi krusial di saat stabilitas Timur Tengah berada di titik nadir.
Kesepakatan Bulat di Tengah Kabut Perang
Kantor berita Tasmin melaporkan bahwa penunjukan Mojtaba bukanlah keputusan yang tertunda. Meski suasana duka dan ketegangan militer masih menyelimuti negeri, Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama senior merasa memiliki kewajiban konstitusional untuk segera mengisi kekosongan kekuasaan.
"Majelis Ahli menyampaikan belasungkawa atas syahidnya Ali Khamenei dan tokoh lainnya dalam serangan AS-Israel. Lembaga tersebut sekaligus mengecam tindakan yang disebut agresi brutal terhadap Iran."
Dalam rapat tersebut, profil Mojtaba ditinjau secara menyeluruh sebelum akhirnya mengantongi suara bulat. Sebagai tindak lanjut, Majelis Ahli kini menyerukan agar rakyat Iran bersatu dan menyatakan kesetiaan penuh kepada pemimpin baru mereka.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran, Siap Balaskan Dendam Ayah, Tak Ada Kata Damai untuk AS-Israel
Sosok di Balik Layar: Berpengaruh Tanpa Jabatan Formal
Mojtaba Khamenei adalah anomali dalam politik Iran. Berbeda dengan tokoh elit lainnya, putra kedua mendiang Ali Khamenei ini tidak pernah menduduki jabatan politik formal maupun mengikuti pemilihan umum. Laporan Al Jazeera menyebutnya sebagai figur low profile yang jarang muncul di depan publik.
Ia hampir tidak pernah memberikan ceramah terbuka, khotbah Jumat, atau pidato politik yang berapi-api. Namun, jangan terkecoh oleh diamnya. Di lingkaran dalam kekuasaan, Mojtaba dikenal sebagai "tangan kanan" yang memiliki pengaruh luar biasa, terutama melalui kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Jejak Militer dan Bayang-bayang Dinasti
Kedekatan Mojtaba dengan militer bukanlah hal baru. Hubungan ini berakar sejak masa mudanya saat bertugas di Batalyon Habib pada Perang Iran-Irak tahun 1980-an. Rekan-rekan seperjuangannya kala itu kini banyak yang menduduki posisi strategis di sektor intelijen dan keamanan negara.
Namun, terpilihnya Mojtaba juga memicu perdebatan mengenai arah demokrasi di Iran. Kritikus menilai naiknya sang putra mahkota secara efektif menciptakan kembali sistem dinasti, serupa dengan Monarki Pahlavi yang digulingkan pada Revolusi 1979.
Baca juga: Anies Baswedan Sebut Serangan ke Iran Bisa Jadi Momentum untuk Keluar BoP: Nyatakan dengan Tegas
Kontroversi dan Tuduhan Kelompok Reformis
Nama Mojtaba tak lepas dari catatan merah kelompok reformis. Ia dituding terlibat di balik layar dalam menekan demonstran pada Gerakan Hijau 2009, sebuah protes massa besar-besaran yang menggugat kemenangan Mahmoud Ahmadinejad. Pasukan Basij, yang berada di bawah pengaruhnya, disebut-sebut menjadi instrumen utama dalam penindakan tersebut.
Selain isu politik, sorotan juga tertuju pada sektor ekonomi. Laporan media Barat, termasuk Bloomberg, sempat mengaitkan namanya dengan jaringan bisnis yang melibatkan aset bernilai miliaran dolar di luar negeri. Meski hingga kini, baik Mojtaba maupun pihak terkait belum pernah menanggapi tuduhan tersebut secara terbuka.
Tantangan Gelar Keagamaan
Salah satu ganjalan yang sering diperdebatkan adalah kredensial agamanya. Saat ini, Mojtaba menyandang gelar Hojatoleslam (ulama tingkat menengah), bukan Ayatollah yang merupakan syarat tradisional tertinggi.
Namun, sejarah mencatat preseden serupa:
"Ayahnya, Ali Khamenei juga bukan seorang ayatollah ketika ia menjadi pemimpin negara pada tahun 1989, dan undang-undang diubah untuk mengakomodasinya."
Langkah serupa diprediksi akan diambil untuk mengukuhkan posisi Mojtaba sebagai pemimpin spiritual dan politik tertinggi Iran di masa depan yang penuh tantangan ini.
(TribunTrends.com/Diolah dari artikel di Kompas.com)
Jangan lewatkan berita-berita TribunTrends.com tak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook
Sumber: TribunTrends.com
| Viral Pengantin Wanita di Malang Syok Ternyata Suaminya Perempuan, Pakai 'Alat' Saat Malam Pertama |
|
|---|
| DPR Usul Beli Gas 3 Kg Pakai Scan Retina Mata Imbas Harga Tembus Rp30 Ribu & Rakyat Antre Berjam-jam |
|
|---|
| Spesifikasi Sepeda Motor Listrik MBG dengan Harga 50 Juta Per Unit, Mampu Melibas Jalan Tak Merata |
|
|---|
| Deretan Kontroversi Gubernur Kaltim Rudy Masud, dari Mobil Dinas 8 M, Kini Renov Rumah Dinas 25 M |
|
|---|
| Nasib Supervisor Mie Gacoan yang Paksa Karyawan Resign, Kena Sanksi Tegas, Berujung Minta Maaf |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Mojtaba-Khamenei-sosok.jpg)