Selebrita
Gara-gara Kritik Pandji dan Bela Gibran, Tompi Dituding Termul: Cocok Jadi Dirut Pertamina Ya?
Respon Tompi usai dituding Termul gegara kritik Pandji yang menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran saat show Mens Rea.
Editor: jonisetiawan
Ringkasan Berita:
- Tompi menegaskan bahwa menertawakan kondisi fisik, seperti mata “mengantuk” yang secara medis disebut ptosis, bukanlah bentuk kritik sehat
- Meski mengkritik bagian tertentu, Tompi mengaku menikmati dan mengapresiasi special show Mens Rea karena materi Pandji dinilai “banyak benarnya”
- Tompi disebut Termul usai kritik Pandji dan bela Gibran
TRIBUNTRENDS.COM - Polemik seputar materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono dalam special show Mens Rea terus bergulir dan memantik beragam respons dari publik.
Kali ini, sorotan datang dari dr Tompi, dokter sekaligus musisi ternama, yang angkat bicara mengenai candaan fisik yang dilontarkan Pandji terhadap Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.
Dalam pertunjukan yang telah dirilis di Netflix sejak 27 Desember 2025 itu, Pandji menyinggung ekspresi wajah Gibran yang dinilainya terlihat “mengantuk”.
Candaan tersebut kemudian memicu diskusi luas, bukan hanya soal kebebasan berekspresi, tetapi juga tentang batas etika humor di ruang publik.
Baca juga: Perjuangan Pandji Pragiwaksono Jadi Komedian Kondang, Ternyata Pernah Jadi Penonton Bayaran!
dr Tompi: Fisik Bukan Bahan Lelucon
Menanggapi polemik tersebut, dr Tompi menegaskan bahwa menertawakan kondisi fisik seseorang bukanlah bentuk humor yang sehat maupun cerdas.
Ia menilai, kritik seharusnya diarahkan pada gagasan, kebijakan, atau tindakan, bukan pada kondisi tubuh yang tidak bisa dipilih oleh seseorang.
Dalam penjelasannya, Tompi mengungkap bahwa kondisi mata yang tampak “mengantuk” seperti yang dialami Gibran dikenal dalam dunia medis sebagai ptosis.
Kondisi tersebut bisa bersifat bawaan, fungsional, atau berkaitan dengan faktor medis tertentu, sehingga tidak pantas dijadikan bahan candaan.
"Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas.
Apa yang terlihat "mengantuk" pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON," tulis Tompi, seperti dikutip dari akun Instagram miliknya.
Kritik, Satire, dan Standar Diskusi Publik
Lebih jauh, Tompi menegaskan bahwa ruang publik memang terbuka luas bagi kritik, satire, dan humor.
Namun, menurutnya, menjadikan kondisi fisik seseorang sebagai sasaran justru menunjukkan kemalasan dalam berpikir dan berdiskusi.
Ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kualitas diskursus publik agar lebih substansial dan bermakna.
"Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir.
Sumber: TribunTrends.com
| Viral Video Anak Sarwendah Memijit Giorgio Antonio, Komnas Anak Prihatin & Singgung Eksploitasi Anak |
|
|---|
| Terungkap Sosok Ayah Justin Hubner yang Tampak Gagah di Pernikahan Anaknya, Tumbuh Besar di Jakarta |
|
|---|
| Sosok Evan Marvino, Artis yang Diduga KDRT Hingga Tularkan Penyakit ke Istrinya, Akun IG Hilang |
|
|---|
| Bantah Terlibat Suap Bea Cukai, Raffi Ahmad Diminta Mundur dari Utusan Khusus Presiden: Jaga Amanah |
|
|---|
| Sosok Istri Evan Marvino yang Alami KDRT, Awalnya Fans yang Kerap DM Hingga Dinikahi, Kini Menderita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Dokter-Tompi-sebut-Pandji-malas-berpikir-usai-sempat-menyinggung-Gibran.jpg)