Demo Buruh

Alasan Sopir Rantis saat Lindas Affan, Hanya Pikirkan Rekan di Dalam Mobil: Kita Harus Selamat

Penulis: joisetiawan
Editor: jonisetiawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

OJOL TERLINDAS RANTIS - Sopir kendaraan taktis Baracuda yang melindas Affan mengaku tak bisa membedakan batu dengan tubuh korban. Foto diolah pada Jumat, 29 Agustus 2025.

TRIBUNTRENDS.COM - Ketegangan dan harapan menyelimuti siaran langsung pemeriksaan tujuh anggota Brimob yang diduga menabrak dan melindas Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang meninggal dunia.

Pemeriksaan ini berlangsung di Biro Pamina Divpropam Polri, Jumat (29/8/2025) pukul 14.00 WIB, dan disiarkan langsung melalui akun Instagram resmi Divpropam Polri.

Lebih dari seribu mata netizen menyaksikan momen tegang itu, di mana ketujuh anggota Brimob mengenakan baju hijau tampak duduk berbaris, satu per satu dimintai keterangan tentang insiden memilukan yang terjadi saat pengamanan aksi unjuk rasa.

Dalam kesaksiannya, pengemudi kendaraan taktis itu mengaku panik luar biasa saat dikepung ratusan massa yang mengamuk.

Baca juga: Air Mata Zulkifli di Tengah Hujan, Tak Sanggup Tonton Video Affan Driver Ojol Tergilas Rantis

Ia bercerita tentang detik-detik di mana dirinya kehilangan kendali dan tidak menyadari telah menabrak pengemudi ojol.

"Saya tidak pernah sadar menabrak pengemudi Ojol," katanya dengan nada berat.

Sopir rantis itu mengatakan bahwa jalanan telah dipenuhi massa yang menyerang mobil dengan batu, botol, bahkan bom molotov.

"Itu mobil apabila saya berhentikan habis Pak, karena mereka melempar memakai batu, bom molotov, botol.

Saya sebagai driver saya harus menyelamatkan penumpang saya," ucapnya tegas.

Ia menegaskan bahwa jika berhenti, keselamatan seluruh anggota di dalam mobil akan terancam.

"Kalau saya berhenti habis pokoknya," ia ulangi dengan penuh penekanan.

Pengemudi itu mengungkapkan bahwa waktu yang dimilikinya untuk keluar dari kepungan hanyalah lima menit.

"Lima menit lewat selesai kami. Akhirnya Alhamdulillah Tuhan kasih kami jalan dan masuk kita ke jalan itu dan selamat lah kita," ujarnya penuh syukur.

OJOL TERLINDAS RANTIS - Sopir kendaraan taktis Baracuda yang melindas Affan akhirnya bersuara. Namun pengakuannya bikin publik makin geram. Foto diolah pada Jumat, 29 Agustus 2025. (Kolase TribunTrends/Istimewa)

Ia mengaku tidak mampu memikirkan hal lain selain menyelamatkan nyawa anggota yang ada di dalam mobil.

"Yang saya pikirkan manusia yang ada di dalam kendaraan harus selamat. Saya hanya berpikir seperti itu, harus segera sampai saya," bebernya.

Dalam situasi yang bagaikan perang itu, maju pun bagai mati, mundur pun sama.

"Jadi maju kami mati, mundur pun kami mati," tuturnya.

Sopir tersebut juga mengklaim bahwa ia tidak menyadari menabrak Affan, karena jalanan dipenuhi batu.

"Saya kira saya melindas batu yang berserakan di jalan," katanya polos.

Baca juga: Jeritan di Pemakaman Affan Kurniawan, Kapolda Diteraki Pembunuh!, Dilempari Botol

Sementara itu, rekan Affan yang juga driver ojol, Hafidz alias Ompong, mengungkapkan kesedihan mendalamnya.

Ia menegaskan bahwa Affan bukanlah peserta unjuk rasa, melainkan sedang mengantar pesanan makanan.

"Dia nggak ikut demo, lagi mau nyeberang kena mobil Barracuda ngebut, jadi kelindes. Saya ada di TKP, saya lagi lihat orang tawuran. Teman-teman langsung bawa ke RS, diperjalanan nggak ketolong. Meninggal pas perjalanan," kenangnya pilu di rumah duka.

Di mata rekan-rekannya, Affan dikenal sebagai sosok yang ceria dan penuh canda tawa, selalu solid bersama komunitas ojol.

"Nongkrong tergantung dapatnya di mana. Affan itu suka bercanda, ketawa-ketawa, itu aja sih. Saya terakhir ketemu kemarin pas mau anter food, anterin orderan," ujar Hafidz dengan suara bergetar.

Sosok Affan di Mata Keluarga

Meski mencoba tetap tegar, Zulkifli tak kuasa membendung air mata ketika berdiri di samping jasad putranya, Affan yang terbujur kaku di rumah duka, Jalan Cepu III, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025).

Duka begitu pekat menyelimuti raut wajahnya yang sembab, matanya merah, tubuhnya lunglai seolah kehilangan semangat hidup bersama kepergian buah hati tercintanya.

Affan, seorang pengemudi ojek online, tewas secara tragis setelah terlindas kendaraan taktis milik Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Ironisnya, saat itu Affan bukanlah bagian dari massa aksi ia hanya sedang menjalankan tugasnya, mengantar paket untuk sesuap nasi.

Baca juga: Dari Antar Pesanan ke Maut: Kronologi Ojol Terlindas Rantis, Roda Besi Brimob Hentikan Napas Affan

Di tengah kerumunan pelayat, Zulkifli sempat menarik diri, mencoba menenangkan hatinya yang berkecamuk. Dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, ia berbagi cerita kepada Warta Kota. 

Menurutnya, Affan adalah anak yang selalu patuh, tulus membantu keluarganya, dan menjadi tulang punggung ekonomi sejak putus sekolah di bangku SMP.

“Anak saya enggak pernah ikutan kayak begitu demo-demo, enggak pernah.

Cuma kerja aja dia. Itu ibaratkan anak saya yang paling bantu saya cari nafkah. Buat adiknya,” ujar Zulkifli, di rumah duka.

“Dia orangnya penurut. Tulang punggung saya,” tambahnya pelan.

AFFAN OJOL MENINGGAL - Zulkifli (54), ayah almarhum Affan Kurniawan, mengenang putranya sebagai anak baik yang suka membantu orangtua saat diminta bantuan. (Wartakota/Nuril)

Jika waktu bisa diputar ulang, Zulkifli tak pernah ingin Affan menjalani hidup berat sebagai driver ojek online.

Namun, realita memaksa mereka. Affan yang tak menamatkan pendidikan, memilih bekerja demi keluarga.

Sejak pagi hingga malam, ia mengayuh motor tanpa lelah demi rupiah.

"Dia kerja dari pagi sampai malam," katanya, dengan suara nyaris tak terdengar.

Baca juga: Malam Mencekam di Jakarta, Ojol Terlindas Rantis Brimob saat Demo, Video Amatir Viral di Medsos

Kenangan terakhir bersama putra tercinta terpatri saat mereka memanaskan motor bersama. Meski hubungan mereka dekat, Affan lebih sering membuka hati pada ibunya.

Zulkifli terakhir melihat Affan sekitar pukul 11.00 WIB, saat orderan mulai sepi tanpa tahu itu adalah pertemuan terakhir mereka.

Ia tak pernah menyangka, anak yang dikenal sopan dan pendiam itu harus meregang nyawa secara tragis, hanya karena berada di waktu dan tempat yang salah.

Affan pergi bukan karena demo, melainkan karena tanggung jawab sebagai anak sulung yang tak pernah menolak membantu, bahkan saat Zulkifli sendiri merasa sungkan untuk meminta.

“Dari dia (sebagian besar ekonomi), dia yang bantu mama. Saya juga kalau enggak punya duit, minta sama dia. Kalau namanya ojol kan kadang ada kadang enggak,” ucapnya.

“Itu keadaan saya. Pas saya susah-susah yang enggak punya uang apa. Tumpuan saya dia,” katanya sambil menunduk.

DILINDAS MOBIL BRIMOB - Tangkapan layar video viral mobil rantis Brimob Polri menabrak dan melindas pengemudi ojek online di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam. Pendapat Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel soal kasus Affan Kuniawan, drivel ojol yang tewas terlindas rantis Brimob. (Dok. Istimewa) (Gerald Leonardo Agustino/TribunJakarta)

Salah satu momen yang begitu membekas di hati Zulkifli adalah saat ia meminjam uang Rp 750.000 dari Affan untuk membayar motor.

“Udah sering saya minta sama dia. Takutnya dia enggak mau ngasih, pikiran saya gitu. Pas udah saya ngomong, ‘Dek, pinjamin ini bapak uang Rp 750.000 buat bayar motor’,” kisahnya lirih.

“(Affan bilang) ‘Ya udah mana rekeningnya?’ Dia langsung enggak ada ngomong lagi,” imbuhnya, menahan tangis.

Hari itu, tubuh Affan dibaringkan untuk terakhir kali di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Zulkifli berdiri terpaku, menyaksikan tanah merah perlahan menutupi jasad anak yang selama ini menjadi nyawanya dalam diam.

Perih tak terucap, kehilangan yang tak sanggup ia gambarkan dengan kata.

“Saya cuma minta keadilan aja,” ujarnya singkat sebelum menyalatkan jenazah anaknya.

***

(TribunTrends/Sebagian artikel tayang di WartaKota)