Dalam berbagai sesi live streaming, Tse tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga memperagakan cara memasak dan menyajikan sosis, menambahkan sentuhan personal yang memperkuat keterlibatan konsumen.
“Rekan-rekan kerja saya tahu bahwa saya adalah orang yang sangat perfeksionis.
Dan saya tidak akan mengubah sifat itu karena kami harus konsisten dengan komitmen terhadap produk dan merek kami,” ujarnya dalam sebuah acara internal perusahaan pada akhir Maret lalu.
Ia menegaskan, “Kami tidak akan pernah menurunkan standar kualitas makanan kami.”
Sebetulnya, ini bukanlah langkah pertama Tse di dunia bisnis. Pada awal 2000-an, ia mendirikan sebuah studio pascaproduksi di Hong Kong yang berhasil merebut pangsa pasar signifikan dalam industri periklanan video di kota tersebut.
Ia bahkan pernah menjadi pembicara tamu di Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong pada tahun 2012, sebelum akhirnya menjual studio tersebut pada tahun 2016.
Baca juga: Daftar Kontroversi Tasyi Athasyia soal Review Makanan, Bika Ambon hingga Mie Goreng Bau Kalajengking
Keberhasilan lini sosis miliknya menuai banyak pujian di media sosial. Banyak netizen menyampaikan testimoni positif.
“Jujur saja, rasanya enak dan aman. Saya pasti akan beli lagi,” tulis seorang pengguna internet.
“Saya terharu saat dia bilang bukan ingin membangun merek senilai 10 miliar yuan, tapi merek yang mampu bertahan hingga 100 tahun,” komentar pengguna lain.
Dengan kombinasi ketenaran, integritas, dan ketekunan, Nicholas Tse telah menunjukkan bahwa transformasi dari bintang hiburan menjadi pengusaha sukses bukanlah hal yang mustahil.
Ia bukan hanya menjual produk, tetapi juga membangun kepercayaan, gaya hidup, dan merek yang berakar pada prinsip kualitas dan inovasi.
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)