Kota Mandalay, yang merupakan kota terbesar kedua di Myanmar dan terletak dekat dengan pusat gempa, mengalami kerusakan hebat.
Selain itu, kondisi operasi kemanusiaan di Myanmar sangat terhambat akibat kerusakan pada infrastruktur, dengan banyak jalan yang rusak parah.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), proses evakuasi dan bantuan kemanusiaan menjadi lebih sulit karena infrastruktur yang hancur.
Pemicu dan Alasan Banyak Korban Jiwa
Gempa ini terjadi pada kedalaman hanya 10 km yang berarti gempa tidak menyebar jauh ke dalam bumi dan energi guncangan langsung mengenai permukaan bumi dengan kekuatan penuh.
Semakin dangkal gempa terjadi, semakin besar pula dampaknya pada permukaan dan infrastruktur.
Ini adalah salah satu alasan utama mengapa kerusakan dan korban jiwa sangat tinggi.
Gempa ini disebabkan oleh aktivitas dari Sesar Besar Sagaing, sebuah sesar mendatar yang membentang sepanjang 1.500 km dan menjadi zona pertemuan antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia.
Selama bertahun-tahun, akumulasi tekanan di sepanjang sesar ini akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa besar yang sangat merusak.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), energi gempa terfokus dalam satu arah tertentu.
Hal itu menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar di beberapa lokasi meskipun jaraknya cukup jauh dari pusat gempa.
Fenomena ini, yang dikenal dengan nama efek direktivitas, pernah terlihat pada gempa Mexico City tahun 1985, di mana kerusakan parah juga terjadi jauh dari pusat gempa.
Salah satu faktor yang memperparah dampak gempa adalah kondisi tanah lunak yang ada di beberapa daerah, seperti Bangkok.
Gedung-gedung pencakar langit di kota tersebut mengalami kerusakan parah akibat getaran gempa yang merambat melalui tanah lunak dan lapisan tebal.
Hal itu menyebabkan resonansi tanah memperburuk dampak dari guncangan.
(TribunTrends.com/TribunNews.com/Liestyo)