Breaking News:

Berita Viral

Kronologi Guru SD di Jambi Tendang Perut Murid, Kini Dipolisikan, Pernah Ditegur karena Sering Kasar

Inilah kronologi guru  SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi menendang perut murid hingga dipolisikan orangtua korban.

Tayang:
Editor: Dika Pradana
YouTube Tribun
GURU TENDANG MURID,- Kronologi guru SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi menendang perut murid hingga dipolisikan orangtua korban. 

TRIBUNTRENDS.COM - Inilah kronologi guru  SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi menendang perut murid hingga dipolisikan orangtua korban yang tak terima anaknya mendapatkan tindakan semena-mena.

Dalam kasus ini, kepala sekolah SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi akhirnya buka suara terkait aksi kekerasan yang dilakukan guru berinisial M tersebut.

Kekerasan yang dilakukan oleh seorang guru di SDN 253 Bangko, Jambi, menghebohkan publik setelah seorang siswa bernama MH (13) diduga ditendang oleh guru PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan) berinisial M.

Baca juga: Truk Ugal-Ugalan di Cipondoh, Tabrak Mobil dan Motor, Kabur Sejauh 11 KM, Sopir Dihajar Tak Berdaya

Kejadian ini bermula pada Kamis (13/2/2025) pagi, ketika MH secara tidak sengaja menjatuhkan papan tulis saat mengikuti pelajaran.

Menanggapi insiden tersebut, guru M tiba-tiba menendang perut MH hingga anak tersebut terjatuh terduduk di lantai kelas.

Orangtua korban tak terima dengan aksi guru M terhadap MH.

GURU TENDANG MURID,- Kronologi guru SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi menendang perut murid hingga dipolisikan orangtua korban. (ILUSTRASI)
GURU TENDANG MURID,- Kronologi guru SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi menendang perut murid hingga dipolisikan orangtua korban. (ILUSTRASI) (TribunMedan)

Kronologi Kejadian: Papan Tulis Jatuh Menyebabkan Kekerasan Fisik

Menurut orang tua MH, LM, insiden ini dimulai saat anaknya, MH, sedang mengikuti pelajaran PJOK.

“Saat papan tulis terjatuh, oknum guru itu langsung menendang anak saya di bagian perut hingga jatuh terduduk di lantai kelas,” ungkap LM kepada wartawan.

Setelah kejadian tersebut, LM merasa terpanggil untuk melaporkan insiden kekerasan ini ke pihak berwajib.

Kepada pihak sekolah, LM menceritakan kejadian tersebut, dan sang kepala sekolah, Susmarni, memberikan dukungan penuh untuk melaporkan kejadian ini kepada polisi.

“Kepala sekolah mendukung penuh secara pribadi jika saya melaporkan kejadian dugaan kekerasan oknum guru ini kepada polisi,” tambah LM.

Bahkan, menurut LM, kepala sekolah juga menyebut bahwa oknum guru tersebut memiliki kebiasaan kasar dalam mendidik siswa dan telah beberapa kali ditegur.

Respon Orang Tua dan Tindakan Hukum yang Diambil

LM mengatakan bahwa ia dan pihak UPT PPA Dinas Sosial Kabupaten Merangin segera melaporkan kasus ini ke Polres Merangin.

“Saya sudah membuat laporan dugaan kekerasan anak saya ini kepada Polres Merangin. Alhamdulilah pihak PPA merespons positif dan menanggapi secara cepat terhadap anak saya,” ujarnya.

Pihak UPT PPA juga telah memberikan pendampingan dengan melakukan visum terhadap korban dan memberikan konseling psikologis pada hari yang sama.

Orang tua MH menegaskan bahwa mereka tidak masalah jika anak mereka ditegur atau dihukum oleh guru jika memang salah.

Namun, ia menekankan bahwa kekerasan fisik, terutama di area tubuh yang vital seperti perut, dada, dan kepala, tidak dapat diterima.

“Memang itu kewajiban guru untuk mendidik siswanya, tapi ini sudah mengarah kepada perut." ucap LM.

"Namanya perut, dada, dan kepala itu kan gak boleh karena ada organ penting dari tubuh manusia,” tegas LM.

GURU TENDANG MURID,- Kronologi guru SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi menendang perut murid hingga dipolisikan orangtua korban.
GURU TENDANG MURID,- Kronologi guru SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi menendang perut murid hingga dipolisikan orangtua korban. (YouTube Tribun)

Klarifikasi dari Guru M: Pembelaan Diri dan Penjelasan Versi Tersangka

Sementara itu, pihak sekolah telah memanggil oknum guru M untuk dimintai keterangan.

Dalam penjelasannya, guru M mengungkapkan bahwa kejadian tersebut bermula saat ada kegiatan senam di kelas. 

Menurut M, setelah papan tulis pertama kali jatuh, dia berusaha memperbaikinya. 

Namun, ketika siswa yang sama kembali menjatuhkan papan tulis, M merasa perlu untuk menahan papan tersebut dengan kedua tangan karena bebannya yang cukup berat. Dia kemudian mengaku mendorong siswa tersebut dengan kaki agar papan tulis tidak menimpanya.

"Setelah saya perbaiki, siswa yang sama kembali menjatuhkan papan tulis. Untuk menghindari papan tulis yang jatuh, saya menahannya dengan kedua tangan, karena bebannya cukup berat.

Lalu saya mendorong siswa itu dengan kaki agar tidak tertimpa papan tulis,” terang M. 

Dia menambahkan bahwa setelah kejadian tersebut, situasi kelas kembali normal dan seluruh siswa melanjutkan senam di luar kelas.

Namun, penjelasan guru M ini tidak mengubah fakta bahwa kekerasan fisik terhadap siswa, terutama dengan menggunakan kekuatan tubuh seperti menendang, tetap menjadi masalah serius.

Pihak sekolah pun mengonfirmasi bahwa laporan tersebut telah diterima dan akan ditindaklanjuti sesuai dengan aturan yang berlaku.

GURU TENDANG MURID,- Kronologi guru SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi menendang perut murid hingga dipolisikan orangtua korban. Pelaku dilaporkan (ILUSTRASI)
GURU TENDANG MURID,- Kronologi guru SDN 253 Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi menendang perut murid hingga dipolisikan orangtua korban. Pelaku dilaporkan (ILUSTRASI) (Istimewa)

Dukungan Pihak Sekolah dan Proses Lanjutan

Kepala SDN 253 Bangko, Susmarni, mengungkapkan bahwa meskipun insiden ini terjadi di bawah pengawasan pihak sekolah, pihaknya berkomitmen untuk bersikap adil dalam menyelesaikan masalah ini.

“Kami tidak boleh sepihak dalam menyelesaikan masalah ini." ucap Sumarni.

"Kami harus adil, baik dari pihak orang tua siswa maupun oknum guru,” kata Susmarni. 

Meskipun begitu, Susmarni menyatakan bahwa permasalahan ini sudah dilaporkan ke UPTD PPA Dinas Sosial dan pihaknya akan mematuhi proses hukum yang berlaku.

Pentingnya Penanganan Kekerasan di Lingkungan Pendidikan

Kasus kekerasan ini menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap perilaku pengajaran di sekolah, terutama di dalam lingkungan yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak.

Kekerasan fisik dari guru kepada siswa tidak hanya merugikan siswa secara fisik tetapi juga berdampak pada perkembangan mental dan emosional mereka.

Oleh karena itu, setiap tindakan kekerasan perlu segera ditindaklanjuti oleh pihak berwajib, dan sekolah harus berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi para peserta didik.

(TribunTrends.com/TribunNews.com/Nina Yuniar)

Sumber: Tribunnews.com
Tags:
guru SDJambiorangtua
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved