Curhat Bos Konveksi di Pasar Senen Pernah Ditipu Caleg Gagal Menang, Ogah Bayar Atribut Rp 100 Juta
Pria bos konveksi di Pasar Senen ceritakan pengalaman pahit ditipu caleg gagal menang tak mau bayar Rp 100 juta.
Editor: Apriantiara Rahmawati Susma
TRIBUNTRENDS.COM - Di musim politik seperti saat ini, bisnis konveksi jadi salah satu bisnis yang menguntungkan dan menggiurkan.
Namun nyatanya bisnis konveksi tak selamanya berbuah manis, ada juga yang mengalami hal tak mengenakkan seperti yang dialami Syamsir (63).
Pemilik bisnis konveksi atribut partai politik di Pasarsenen ini sudah 25 tahun berbisnis, ia pernah tertipu calon legislatif (caleg) yang gagal menang pada 2019 lalu.
Yang mana kala itu, sang caleg memesan berbagai atribut kampanye kepada Syamsir, mulai dari kaus, topi, hingga bendera-bendera partai.
Namun alih-alih mendapat untung, Syamsir justru tak pernah menerima uang hasil jerih payahnya bersama para karyawan.
Baca juga: TERBARU! Hasil Survey Elektabilitas Capres-Cawapres, Diprediksi 2 Putaran, Prabowo-Gibran Melenggang
"Ada (yang tidak bayar), sekarang belum jadi caleg enggak mau bayar ada. Waktu pemilihan presiden Jokowi 2019 itu, lumayan sekitar Rp 100 juta (tertipu)," ungkap Syamsir saat ditemui WartaKotalive.com di Pasarsenen, Jakarta Pusat, Sabtu (4/11/2023).
Pria yang sudah menjalani bisnis selama lebih dari 25 tahun itu berujar, mulanya ia percaya pada caleg tersebut lantaran dia merupakan langganan lamanya.
Namun setelah seluruh atribut kampenye dikirim ke lokasinya, tak ada sepeser pun uang yang diterima Syamsir sampai batas waktu yang dijanjikan.
Ditambah lagi, ia mendengar kabar jika caleg tersebut gagal terpilih.
Walhasil, tak ada satupun barang Syamsir yang dibayarnya.
"Kami udah percaya dia bilang, 'Pak kirim sekarang', sampai sekarang duit saya enggak dibayar," kata Syamsir.
"Waktu itu pesannya lengkap, kaus, bendera, kemeja lengkap. Jadi waktu itu pemilihan terakhir ternyata kalah dia enggak bayar," lanjutnya.
Meskipun demikian, Syamsir tak mau membeberkan siapa caleg tersebut.
Dia mengaku ikhlas dan menganggap jika semua itu adalah suka dukanya dalam berwirausaha.
"Istilahnya itu lah resikonya. Dukanya itu, duit kami banyak enggak dibayar orang, ada lelahnya, tapi itulah risikonya. Yang penting anak bisa sekolah, kuliah tamat semuanya," kata Syamsir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Syamsir-63-pemilik-bisnis-konveksi-atribut-partai-politik-di-Pasarsenen.jpg)