Berita Viral
Wisuda di Kendari Jadi Viral, Mahasiswi Dilabrak Istri Sah dan Karangan Bunga Sindiran Muncul
Wisuda di Kendari menjadi viral setelah seorang mahasiswi dilabrak oleh istri sah, sementara karangan bunga bertuliskan sindiran muncul di lokasi.
Editor: Tim TribunTrends
Wisuda di Kendari menjadi viral setelah seorang mahasiswi dilabrak oleh istri sah, sementara karangan bunga bertuliskan sindiran muncul di lokasi.
TRBUNTRENDS.COM - Kejadian viral di media sosial muncul saat acara wisuda di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Seorang mahasiswi tiba-tiba mendapat karangan bunga bertuliskan “pelakor” yang membuat suasana menjadi heboh.
Wisudawati tersebut berasal dari salah satu perguruan tinggi swasta ternama di ibu kota Provinsi Sultra.
Video dan foto kejadian itu kemudian tersebar luas di berbagai akun media sosial.
Dalam video terlihat karangan bunga itu dipajang di depan hotel berbintang yang menjadi lokasi wisuda.
Dua karangan bunga menampilkan kata tudingan “pelakor” disertai nama dan foto wisudawati yang dituding.
Satu karangan bunga lainnya berisi ucapan “Selamat dan Sukses Sarjana Magister Managemen” yang sudah diplesetkan artinya, sementara karangan lain menulis “Turut Berduka Cita” dengan kalimat bernada sindiran.
Tak hanya karangan bunga, dalam video viral itu terlihat sosok istri berinisial RSK melabrak TA saat prosesi wisuda.
Wisudawati TA berjalan di bagian belakang ballroom setelah menerima ijazah, dan wanita tersebut terus membuntuti sembari merekamnya.
“Kasihannya ini pelakor, tidak ada malunya ini perempuan, ih ngerinya ini pelakor dia wisuda, da ambil suaminya orang,” katanya.
Wanita itupun menarik sang wisudawati yang juga mencoba terus berjalan tanpa mempedulikannya.
Baca juga: Viral Pria Jalan Kaki Puluhan Kilometer Cari Keluarga Korban Banjir di Tapanuli Tengah Berbuah Manis
“Ih kenapa ini saya tidak tahu,” ujar sang wisudawan saat ditarik oleh sang wanita dari belakang.
Sempat terjadi keributan antarkedua wanita di bagian belakang kursi wisudawan, sebelum akhirnya dilerai tetamu lainnya.
Saat dihubungi wartawan TribunnewsSultra.com, RSK, menuding TA sudah menjalin asmara dengan suaminya selama 4 tahun.
Dari hubungan tersebut keduanya pun disebutkan sudah dikaruniai seorang anak.
“Kurang lebih empat sampai lima tahun mereka berhubungan, tapi ini perempuan sering mi ditinggalkan, tapi datang lagi menjadi pelakor,” kata RSK .
“Ada buku nikah palsu mereka beli, mereka berzina tanpa status,” jelasnya menambahkan.
RSK mengungkap dirinya menikah dengan sang suami yang merupakan sosok penambang sejak tahun 2006.
Meskipun sempat bercerai tahun 2024, keduanya kembali rujuk dan menikah resmi pada tahun 2025.
“Saya menikah dengan suamiku tahun 2006, kami sempat cerai tahun 2024, namun kami kembali menikah resmi tahun 2025,” ujarnya.
TribunnewsSultra.com masih mencoba menghubungi TA yang kabarnya akan memberikan keterangan resmi terkait viralnya foto dan video tersebut.
Salah satu rekan TR membenarkan kejadian itu.
TR yang tidak terima dengan perlakuan RSK bahkan berencana melaporkannya ke pihak kepolisian.
“Sudah resmi cerai tapi istrinya tidak terima diceraikan. Sehingga istri pertama marah dan memviralkan istri kedua. Makanya mau melapor,” katanya.
Apa Kata Ahli Linguistik soal "Pelakor"?
Belakangan ini, masyarakat Indonesia dibombardir cerita-cerita mengenai “pelakor” (perebut (le)laki orang), sebutan bagi perempuan yang dianggap bertanggung jawab merusak hubungan pernikahan sepasang suami istri.
Kita terpapar cerita-cerita ini hampir setiap hari, baik di media sosial atau di saluran media tradisional. Banyak orang mengekspresikan kebencian mereka terhadap “pelakor” di media sosial.
Meski pernyataan yang netral dan cukup reflektif ada, sikap yang menunjukkan kebencian lebih mudah ditemukan, setidaknya di Instagram, platform media sosial berbasis gambar dan teks yang sering digunakan orang untuk berbagi berita. Ujaran kebencian ini umumnya ditujukan pada perempuan tertuduh, dengan digunakannya istilah “pelakor”.
Baca juga: Virgoun Langsung Amankan Anak-Anak Usai Dugaan Perselingkuhan Inara Rusli Viral di Media Sosial
Sebagai peneliti linguistik saya ingin mengangkat satu masalah dari penggunaan istilah “pelakor” dalam percakapan mengenai perselingkuhan, yakni istilah ini digunakan untuk menyalahkan dan mempermalukan perempuan dan sama-sekali tidak menyalahkan laki-laki yang melakukan perselingkuhan.
Dalam konteks ini, istilah pelakor perlu dianalisis secara kritis.
Retorika yang timpang
Retorika pelakor timpang karena menempatkan perempuan sebagai “perebut”, seorang pelaku yang aktif dalam kegiatan perselingkuhan, dan menempatkan sang laki-laki seolah-olah sebagai pelaku yang tidak berdaya (barang yang dicuri, tak berkuasa).
Terlebih, secara sosiolinguistik, istilah ini sangat berpihak pada laki-laki, karena seringkali muncul dalam wacana keseharian tanpa istilah pendamping untuk laki-laki dalam hubungan tersebut.
Dalam kebanyakan tulisan yang saya telusuri untuk pencarian data mengenai peredaran istilah pelakor, secara umum ia digunakan sendiri, atau sang laki-laki secara terang-terangan absen dalam cerita tersebut.
Secara kebahasaan, istilah ini meminggirkan perempuan. Lebih dari itu, istilah ini menunjukkan fenomena sosial-budaya yang lebih besar.
Kerapnya istilah ini digunakan dalam cerita di media sosial dan dalam pemberitaan tanpa didampingi istilah yang sepadan untuk pelaku laki-laki menunjukkan bahwa istilah ini seksis.
Penggunaan istilah tersebut sendirian—tidak dibarengi dengan penggunaan istilah untuk si lelaki tak setia—menunjukkan kecenderungan masyarakat kita yang hanya menyalahkan perempuan dalam sebuah perselingkuhan, meski jelas dibutuhkan dua orang untuk itu.
Kita perlu ingat fakta bahwa (setidaknya) ada dua pihak yang terlibat perselingkuhan.
Kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menyalahkan pelakor seorang menunjukkan bias negatif kita terhadap perempuan, dan pada saat yang sama mengglorifikasi laki-laki. Dalam kasus perselingkuhan, tampaknya masyarakat Indonesia masih menerapkan bias jender.
Jika perselingkuhan terjadi, kesalahan ditimpakan pada perempuan, baik dalam peran perempuan sebagai korban (istri yang dikhianati—yang seringkali dianggap “gagal” mengurus suami) atau kepada perempuan lain, yang dianggap merebut.
Dengan kata lain, kecenderungan kita untuk berteriak pelakor tanpa menyebut-nyebut sang lelaki, menggambarkan kekerasan terhadap perempuan dan persepsi yang buruk terhadap perempuan.
Memasukkan kembali peran laki-laki
Jika digunakan sendirian, istilah “pelakor” menghapus peran laki-laki dalam aksi kolaboratif perselingkuhan. Penggunaan istilah ini dalam isolasi tidak hanya mengerdilkan “daya pikir” sang laki-laki (seakan-akan ia hanya bisa “diculik” oleh perempuan lain tersebut karena ia tidak bisa menggunakan otaknya untuk mengevaluasi apa yang ia lakukan), tapi juga menghilangkan agensinya sebagai manusia yang bebas dan berdaya.
Sang laki-laki bukanlah barang yang dicuri. Ia sama-sama bertanggung jawab dalam situasi ini dan seharusnya secara linguistik dan retorik tidak dihilangkan dalam narasi.
Baca juga: Viral! Kades Saefudin Memohon, ‘Jangan Tahan Saya’ Setelah Dugaan Korupsi Dana Desa
Maka, jika kita masih perlu memberi label pada perempuan yang melakukan perselingkuhan dengan laki-laki yang sudah memiliki pasangan dengan istilah pelakor, marilah kita gunakan bersama-sama dengan “letise” (lelaki tidak setia) karena kedua pihak berkolaborasi dalam perselingkuhan.
Mari gunakan istilah pelakor dan letise bersama-sama, jika di antara kita berkukuh untuk memberi label.
Sebenarnya “Wanita Idaman Lain (WIL)” masih jauh lebih netral, yang secara pragmatik menyiratkan “kesertaan” lelaki dalam wacana perselingkuhan.
Pada titik itu, saya mempertanyakan kecenderungan kita untuk menghakimi masalah pribadi orang lain ketika kita hanya memiliki informasi yang terbatas mengenai kasus tersebut dan orang-orang yang terlibat.
Bisa jadi alasan hadirnya istilah pelakor hanya karena beberapa dari kita merasakan kebutuhan yang kuat untuk menghakimi orang lain, dan secara tidak adil pula.
TribunnewsSultra.com | Annisa Nurdiassa | TribunTrends.com | Surya Rafi
Sumber: TribunTrends.com
| Siapa Diyah Kusumastuti? Sosoknya Viral Usai Daycare Little Aresha Jogja Digerebek Aniaya Balita |
|
|---|
| Eks Karyawan Bongkar Kejamnya Daycare Little Aresha Jogja, Nekat Lapor Polisi Meski Ijazah Ditahan |
|
|---|
| Dikira Tempat Aman, Daycare di Jogja Diduga Ikat dan Aniaya Anak-anak, Berujung Digerebek Polisi |
|
|---|
| Pelayan Warteg Diajak Pria Nigeria ke India Sebulan Usai Kerap Ditransfer, Petugas Imigrasi Curiga |
|
|---|
| Langkah Hoho Alkaf Usai Mobil Mewahnya Dibakar Musuh, Ungkap Alasan Tolak Bantuan Pasca-Teror |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Wisuda-di-Kendari-menjadi-viral-b.jpg)