Breaking News:

Berita Jogja

Program 'Bule Mengajar', Cara Yogyakarta Bikin Turis Asing Betah, Dilibatkan Aktivitas Masyarakat

Program bernama 'Bule Mengajar' diinisiasi oleh Dinas Pariwisata DIY dengan tujuan meningkatkan lama tinggal wisatawan mancanegara di Kota Yogyakarta

Tayang:
Penulis: ninda iswara
Editor: ninda iswara
Instagram/@bulemengajar
PROGRAM BULE MENGAJAR - Program 'Bule Mengajar', diinisiasi untuk tingkatkan lama tinggal wisatawan mancanegara di Yogyakarta 
Ringkasan Berita:
  • Program bernama 'Bule Mengajar' diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk menggaet turis asing
  • Program ini memiliki tujuan untuk meningkatkan length of stay atau lama tinggal wisatawan mancanegara di Kota Yogyakarta
  • Para wisatawan asing dilibatkan langsung dalam kegiatan masyarakat

TRIBUNTRENDS.COM - Program baru diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk menggaet turis asing.

Program baru bernama Bule Mengajar membuka pengalaman beda bagi wisatawan asing.

'Bule Mengajar' ini memiliki tujuan untuk meningkatkan length of stay atau lama tinggal wisatawan mancanegara di Kota Yogyakarta.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, menceritakan awal mula tercetusnya program ini.

Berdasarkan penuturan Lucia, program ini berawal dari permintaan Wali Kota Yogyakarta.

Mereka meminta Dinas Pariwisata untuk membuat gebrakan demi mengembangkan kawasan Kotagede.

Baca juga: Menilik Lugu Murni, Kedai Jamu Legendaris di Yogyakarta, Sri Bangun yang Berusia 71 Th Setia Merawat

Kotagede yang memiliki potensi pariwisata hingga kesenian beragam bisa menjadi destinasi baru bagi wisatawan asing.

Ada kerajinan perak hingga wisata sejarah dan religi di Kotagede.

“Saya diberi challenge untuk mengembangkan bule mengajar, supaya experience turis asing bisa menularkan budaya di daerah asal mengajar untuk bule dapat pengalaman di Indonesia,” kata Lucia dikutip dari Kompas.com.

Dengan adanya pengalaman ini, Lucia berharap para wisatawan yang berkunjung bisa menceritakan keindakan Kota Yogyakarta di negara asal mereka.

Pengalaman yang mereka dapat di Kotagede bisa disebarkan karena menyimpan banyak hal menarik, salah satunya yakni nilai sejarah terbentuknya Kerajaan Mataram Islam.

Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta juga telah berkoordinasi dengan sejumlah sekolah di kawasan Kotagede agar anak-anak dapat berinteraksi langsung dengan wisatawan asing.

“Ada semacam pengalaman untuk anak-anak supaya dia saat besar nanti bisa sampai ke negerinya bule-bulenya itu, dan tergugah belajar bahasa asing,” ujarnya.

Ajak Mengenal Budaya Langsung

Program “Bule Mengajar” tak hanya menghadirkan wisatawan mancanegara ke sekolah untuk berinteraksi dengan pelajar, tetapi juga mengajak mereka menyelami kehidupan dan budaya lokal di Yogyakarta.

Para peserta diajak merasakan pengalaman langsung mengenal tradisi masyarakat, mulai dari mengunjungi sentra kerajinan perak hingga berburu kuliner khas di pasar rakyat.

“Kita kasih uang untuk beli makanan khas Kotagede ada kipo ada kembang waru, yangko jadi mereka belanja ke Pasar Legi dan kami ajak ke Kampung wisata Purbayan,” kata dia.

Kegiatan tersebut dinilai mampu menciptakan pengalaman wisata yang lebih berkesan karena wisatawan terlibat langsung dengan aktivitas warga sehari-hari.

Lucia menyebut, program “Bule Mengajar” diharapkan dapat meningkatkan rata-rata lama tinggal wisatawan asing selama berada di Yogyakarta.

Dengan konsep wisata berbasis interaksi sosial dan budaya, para turis tidak hanya datang untuk berlibur, tetapi juga belajar memahami kehidupan masyarakat setempat.

Di sisi lain, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menilai setiap program pemerintah harus memberi manfaat nyata bagi warga, termasuk melalui sektor pariwisata.

Menurutnya, program ini bukan sekadar mendatangkan wisatawan mancanegara, melainkan membuka ruang keterlibatan langsung antara turis dan masyarakat.

“Pariwisata itu harus berdampak langsung kepada masyarakat. Wisatawan datang bukan hanya melihat-lihat, tetapi ikut berinteraksi, belajar budaya, masuk kampung, hingga berbagi ilmu. Dari situ ada dampak ekonomi, sosial, dan pemberdayaan warga,” ujar Wawan.

Melalui pendekatan tersebut, pariwisata diharapkan mampu menjadi sarana pertukaran budaya sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan.

Baca juga: Revisi Perda KTR Yogyakarta, Ini 5 Poin Utama, Usia Minimal Beli Rokok 21 Tahun, Denda di Malioboro

PROGRAM BULE MENGAJAR - Program 'Bule Mengajar', diinisiasi untuk tingkatkan lama tinggal wisatawan mancanegara di Yogyakarta
PROGRAM BULE MENGAJAR - Program 'Bule Mengajar', diinisiasi untuk tingkatkan lama tinggal wisatawan mancanegara di Yogyakarta (Instagram/@bulemengajar)

Wisatawan Dilibatkan dalam Aktivitas Masyarakat

Keterlibatan wisatawan dalam kehidupan masyarakat dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi warga lokal.

Menurut Wawan, kehadiran wisatawan tidak hanya soal berkunjung, tetapi juga bagaimana mereka ikut merasakan aktivitas dan budaya di lingkungan masyarakat.

Ia menilai, semakin lama wisatawan berada di suatu daerah, maka peluang perputaran ekonomi di tingkat kampung juga akan semakin besar.

Mulai dari kuliner rumahan, produk UMKM, hingga berbagai aktivitas masyarakat dapat ikut merasakan manfaat dari kunjungan wisatawan.

“Kalau wisatawan tinggal lebih lama, mereka makan di warung warga, membeli produk UMKM, ikut aktivitas kampung, maka manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Wawan menjelaskan, pola wisata berbasis masyarakat dinilai mampu menciptakan pemerataan ekonomi yang lebih nyata.

Tidak hanya pelaku usaha besar, warga di lingkungan sekitar destinasi wisata juga bisa memperoleh keuntungan secara langsung.

Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya menjaga identitas budaya lokal di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Yogyakarta.

Menurutnya, keterbukaan terhadap wisatawan tetap harus dibarengi dengan penghormatan terhadap aturan dan norma yang berlaku.

“Walaupun mereka tamu dan wisatawan, kita tetap harus punya prinsip. Mereka harus mengikuti aturan, budaya, dan norma yang dimiliki Yogyakarta. Jangan semuanya dibebaskan, karena identitas dan nilai budaya lokal tetap harus dijaga,” tegasnya.

Ia menilai, menjaga budaya lokal bukan berarti menutup diri terhadap wisatawan asing.

Justru, sikap tersebut menjadi bagian penting dalam mempertahankan karakter dan nilai khas Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata budaya.

(TribunTrends/Ninda)

Jangan lewatkan berita-berita TribunTrends.com tak kalah menarik lainnya di Google NewsThreads, dan Facebook

Tags:
YogyakartaBule Mengajarturis
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved