Usai Kecelakaan Bekasi, KAI Jelaskan Posisi Gerbong Khusus Perempuan
Penempatan gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian KRL Commuter Line kembali menjadi perhatian publik.
Penulis: Tim Konten Trends
Editor: Tim TribunTrends
TRIBUNTRENDS.COM -- Penempatan gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian KRL Commuter Line kembali menjadi perhatian publik. Hal ini mencuat setelah insiden kecelakaan antara KRL jurusan Cikarang dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Banyak yang mempertanyakan alasan gerbong khusus perempuan ditempatkan di bagian depan dan belakang rangkaian kereta. Terkait hal tersebut, penjelasan sebenarnya telah disampaikan sejak beberapa tahun lalu oleh pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Kala itu, Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek, Muhammad Nurul Fadhila, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut didasarkan pada pertimbangan operasional dan kemudahan akses bagi penumpang.
Menurut Fadhila, posisi gerbong di ujung rangkaian justru memudahkan penumpang perempuan, termasuk ibu hamil, lansia, maupun penumpang yang membawa anak kecil, untuk naik dan turun dari kereta.
“Kalau ditaruh di tengah mereka sulit untuk mencapainya. Bisa dibayangkan di Tanah Abang yang orangnya sangat ramai. Kalau yang sekarang kan lebih mudah,” kata Fadhila di Gedung Jakarta Railway Center, September 2015.
Ia juga mencontohkan bahwa di stasiun besar seperti Kota dan Tanah Abang, penumpang yang berada di gerbong ujung akan lebih cepat keluar dari kereta.
“Seperti misalnya ada yang sampai di Kota di kereta paling depan, tentu mereka akan lebih cepat turunnya,” ujarnya.
Fadhila menegaskan bahwa kebijakan tersebut telah dirancang dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk keselamatan penumpang. Bahkan, insiden kecelakaan KRL yang terjadi pada 2015 tidak mengubah kebijakan penempatan gerbong khusus perempuan.
“Karena pada saat ini direncanakan dulu tentu kita tidak menginginkan terjadinya kecelakaan,” katanya.
Sementara itu, kecelakaan terbaru di Bekasi Timur menyebabkan korban jiwa dan luka-luka. Sebanyak 15 penumpang KRL dilaporkan meninggal dunia, sementara 84 lainnya mengalami luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi.
Baca juga: Kisah Haru Penumpang KRL Bekasi, Selamatkan Anak Lewat Jendela, Ibu Meninggal
Para korban dievakuasi ke berbagai fasilitas kesehatan seperti RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, hingga RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Di sisi lain, seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang berjumlah sekitar 240 orang dilaporkan selamat dalam insiden tersebut.
Sebanyak 10 kantong jenazah korban kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Adapun sejumlah korban yang telah teridentifikasi di antaranya Anita Sari (31), Harum Anjasari (27), Nur Alimantun Citra Lestari (19), Faridha Utami (50), Fika Aknia Pratiwi (23), Ida Nuraida (48), Gita Septia Wardani (20), Fatmawati Rahmayani (29), Rinjani Novitasari (25), serta Nur Ainia Eka Rahmadhynna (32).
Kebijakan penempatan gerbong khusus perempuan ini pun kembali menjadi bahan evaluasi publik, meski pihak KAI sebelumnya telah menegaskan bahwa sistem tersebut dibuat untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus aksesibilitas penumpang. (Tribun Trends/Tribunnews Bogor)
Sumber: Tribun Bogor
| Kopdes Merah Putih Buka 30.000 Loker, Pengurus di Kepulauan Meranti Resign, Plt Kadis: Minta Digaji |
|
|---|
| Rekam Jejak Bobby Rasyidin, Baru Setahun Jabat Dirut KAI, Sendu Lihat Kecelakaan di Bekasi Timur |
|
|---|
| Keinginan Terakhir Ain Karyawan Kompas TV yang Jadi Korban KRL Bekasi, Cuti ke Tempat yang Jauh |
|
|---|
| Sosok Pham Nhat Vuong, Bos Tak Green SM, Harta Rp 609 T, Orang Terkaya ke-63 di Dunia, Asal Vietnam |
|
|---|
| Menyusuri De Tasikmadoe Heritage: Keajaiban Kecil di Pabrik Gula Karanganyar yang Jarang Diketahui |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/KRL-gerbong-khusus-perempuan.jpg)