Breaking News:

Politik Viral

Di Mata Purbaya, Programmer Korea di Proyek Coretax Tak Ada Nilainya, Hasil Kerjanya Ecek-ecek

Purbaya kecewa karena di balik proyek besar Coretax bernilai Rp 1,2 triliun. Menkeu kritik hasil kerja Programmer asal Korea Selatan.

Editor: jonisetiawan
Kolase TribunTrends/Tiktok/Istimewa
DRAMA PROYEK CORETAX - Menteri Keuangan Purbaya kecewa karena di balik proyek besar Coretax bernilai Rp 1,2 triliun yang digadang-gadang menjadi tulang punggung sistem pajak nasional, tersimpan kisah pilu tentang kualitas kerja yang jauh dari harapan, Menkeu kritik kerja Programmer asal Korea Selatan. 
Ringkasan Berita:
  • Kode Coretax Dinilai Buruk dan Tidak Profesional
  • Purbaya Rencana Putus Kontrak dengan LG
  • Komitmen Perbaikan dan Penguatan Sistem Dalam Negeri

TRIBUNTRENDS.COM - Suasana ruang rapat Kementerian Keuangan siang itu mendadak tegang. Di hadapan para pejabat dan awak media, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap fakta yang membuat banyak orang tercengang.

Suaranya tegas, namun sarat nada kecewa karena di balik proyek besar bernilai Rp 1,2 triliun yang digadang-gadang menjadi tulang punggung sistem pajak nasional, tersimpan kisah pilu tentang kualitas kerja yang jauh dari harapan.

Proyek tersebut adalah Coretax, sistem digitalisasi perpajakan yang sejak awal diimpikan menjadi simbol reformasi besar-besaran Direktorat Jenderal Pajak.

Namun, kenyataan di lapangan berbeda jauh dari yang dibayangkan. Sistem ini sering error, lambat, bahkan gagal diakses oleh petugas pajak di berbagai daerah.

Baca juga: Kebijakan Purbaya Gegerkan Jakarta, Pramono Anung Turun Tangan, Menkeu Dapat Pembelaan

Dan kini, untuk pertama kalinya, Purbaya membongkar apa yang sebenarnya terjadi di balik layar proyek raksasa itu.

“Begitu mereka dapat source code-nya, dilihat sama orang saya. Komentarnya lucu deh.

Dia bilang, wah ini programmer tingkat baru lulusan SMA,” ungkap Purbaya sambil menggelengkan kepala di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (25/10/2025).

Ucapan itu kontan membuat ruangan riuh. Tak banyak pejabat berani berbicara sejujur itu apalagi menyentil perusahaan teknologi besar asal luar negeri. Tapi Purbaya tak menahan diri.

Ia menyebut, hasil pekerjaan konsorsium LG CNS-Qualysoft, pemenang tender proyek Coretax asal Korea Selatan, benar-benar jauh dari standar profesional.

“Jadi yang dikasih ke kita bukan orang jago-jagonya, kelihatannya. Indonesia ini sering dikibuli asing.

Begitu denger nama LG, wah langsung kagum. Tapi di bidang programming beda ya, ini bukan soal K-pop,” ujarnya dengan nada sinis.

PURBAYA KRITIK CORETAX - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa panggil hacker Indonesia terbaik gara-gara sistem keamanan siber Coretax buatan programmer Korea Selatan disebut mirip produk gagal.
PURBAYA KRITIK CORETAX - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa panggil hacker Indonesia terbaik gara-gara sistem keamanan siber Coretax buatan programmer Korea Selatan disebut mirip produk gagal. (Kolase TribunTrends/Instagram MenkeuRI)

Purbaya menuturkan, kode program Coretax yang dikerjakan konsorsium tersebut terlalu banyak bug dan cacat desain.

Akibatnya, sistem sering mengalami gangguan fatal seperti tidak bisa login, sering timeout, tampilan blank, bahkan beberapa kali salah mengarahkan pengguna ke halaman lain.

“Dari problem kritis yang sering dialami pengguna, itu sudah cukup banyak terasa,” bebernya.

Tak hanya soal kualitas, target penyelesaian proyek pun molor jauh dari rencana.

Purbaya mengungkap bahwa bagian pekerjaan yang dikerjakan LG menjadi titik paling lemah dan paling lambat diselesaikan.

“Sesuai target awal, yang di depan dan tengah bisa dibereskan. Tapi yang di bawah, yang di LG, enggak bisa.

Ya karena dasarnya memang dari sananya sudah bermasalah,” ujarnya blak-blakan.

Baca juga: Pantas Dicintai Rakyat: Begini Kesederhanaan Purbaya di Balik Kesibukan, Tak Tidur Demi Negara

Rencana Tendang Progammer Asing

Bagi mantan Ketua LPS itu, hal ini bukan sekadar masalah teknis. Ia melihatnya sebagai bentuk ketergantungan berlebihan pada pihak asing, yang justru melemahkan kemampuan bangsa sendiri.

Karena itu, ia berencana mengambil langkah tegas: memutus kontrak kerja sama dengan LG dan memperkuat tim IT dalam negeri.

“Adanya ketergantungan pada pihak asing nanti ke depan akan kita putus.

Apalagi kalau kualitasnya jelek seperti itu. Orang Indonesia punya kemampuan dan kita akan manfaatkan itu dengan serius,” tegasnya.

Meskipun banyak persoalan, Purbaya masih melihat secercah kemajuan.

Menurutnya, jika seluruh source code sistem Coretax akhirnya diserahkan penuh ke pemerintah, maka perbaikan akan bisa dilakukan lebih cepat dan efisien oleh tenaga lokal.

“Coretax memang belum sempurna, tapi kemajuannya signifikan.

Saya yakin, begitu kodenya dikasih ke kita dan kita bisa ubah sendiri, itu akan cepat diberesin,” ujarnya optimistis.

Di balik nada tegasnya, tersimpan rasa jengkel yang tak bisa disembunyikan: bagaimana mungkin proyek bernilai triliunan rupiah uang rakyat justru menghasilkan sistem yang kacau, dibuat dengan kualitas ala kadarnya dan dikerjakan oleh tenaga yang bahkan tak memenuhi standar profesional global.

Kini publik menunggu apakah langkah tegas Purbaya akan benar-benar diambil, dan apakah pemerintah berani menendang perusahaan raksasa asing dari proyek strategis nasional ini.

Satu hal pasti: kasus Coretax menjadi cermin pahit tentang bagaimana bangsa ini masih sering diperdaya oleh gemerlap nama besar asing dan bagaimana keberanian untuk berkata jujur menjadi langkah pertama menuju kemandirian teknologi yang sesungguhnya.

***

(TribunTrends/Sebagian artikel diolah dari Kompas)

Tags:
PurbayaKorea Selatanprogrammer
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved