Bukan Sekadar Boneka: Barbie Autistik Pertama Resmi Diluncurkan Mattel, Dilengkapi Aksesori Penting
Representasi Barbie autistik didesain sedikit menoleh ke samping, kebiasaan sebagian individu autistik menghindari kontak mata secara langsung.
Penulis: Sinta Manila
Editor: Sinta Manila
Ringkasan Berita:
- Barbie autistik ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan Autistic Self Advocacy Network (ASAN), sebuah organisasi advokasi autistik di Amerika Serikat.
- Mata Barbie dibuat sedikit mengarah ke samping, menggambarkan kebiasaan sebagian individu autistik yang menghindari kontak mata langsung.
- Lengan dan pergelangan tangannya fleksibel, memungkinkan gerakan berulang seperti stimming atau mengepakkan tangan, aktivitas yang sering membantu regulasi emosi dan sensorik.
TRIBUNTRENDS.COM - Mattel kembali menantang batasan lama mengenai sosok Barbie yang telah dikenal selama beberapa dekade.
Pada awal pekan ini, perusahaan mainan raksasa asal Amerika Serikat tersebut merilis Barbie autistik pertama sebagai bagian dari seri Barbie Fashionistas.
Keputusan ini hadir hanya berselang enam bulan sejak peluncuran Barbie dengan diabetes tipe 1, menegaskan bahwa Mattel semakin konsisten bergerak menuju keragaman dan inklusi dalam representasi karakter bonekanya.
Baca juga: Dari Indonesia ke Pusat Filantropi Dunia, Sri Mulyani Dipinang Yayasan Gate: Kehormatan Besar
Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari The Guardian, Mattel menyebut bahwa kehadiran Barbie autistik dirancang agar semakin banyak anak dapat melihat refleksi diri mereka pada Barbie.
Sekaligus membantu anak-anak lain memahami bahwa dunia nyata dipenuhi beragam kondisi dan perbedaan yang layak dihargai.
Dirancang Bersama Komunitas Autistik
Barbie autistik ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan Autistic Self Advocacy Network (ASAN), sebuah organisasi advokasi autistik di Amerika Serikat.
Pendekatan ini penting mengingat autisme merupakan bentuk neurodivergensi yang dialami secara berbeda oleh setiap individu.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari satu dari 100 anak di dunia diperkirakan berada dalam spektrum autisme.
Karakteristiknya beragam, mulai dari cara berkomunikasi, memproses rangsangan sensorik, hingga berinteraksi sosial.
Detail pada boneka ini mencerminkan sebagian pengalaman tersebut.
Mata Barbie dibuat sedikit mengarah ke samping, menggambarkan kebiasaan sebagian individu autistik yang menghindari kontak mata langsung.
Lengan dan pergelangan tangannya fleksibel, memungkinkan gerakan berulang seperti stimming atau mengepakkan tangan, aktivitas yang sering membantu regulasi emosi dan sensorik.
Tak hanya itu, Barbie ini dilengkapi fidget spinner untuk membantu mengurangi stres, headphone peredam bising guna mengatasi kelebihan rangsangan suara, serta tablet dengan simbol komunikasi alternatif untuk mendukung komunikasi sehari-hari.
Dari segi busana, Barbie mengenakan gaun longgar berwarna ungu dengan potongan A-line yang dirancang agar nyaman dan minim gesekan dengan kulit.
Sepatu datar melengkapi penampilan, mendukung stabilitas dan kemudahan bergerak.
Evolusi Barbie dan Isu Disabilitas
Sejak pertama kali diperkenalkan pada 1959, Barbie telah mengalami banyak perubahan. Namun, baru pada 2019 Mattel mulai menghadirkan boneka dengan disabilitas.
Kini, lini Barbie mencakup boneka tunanetra, pengguna kursi roda, penyandang Down syndrome, vitiligo, hingga alat bantu dengar.
Bahkan karakter Ken pun telah diperkenalkan dengan kaki prostetik dan kursi roda.
Jamie Cygielman, Global Head of Dolls Mattel, menyebut peluncuran Barbie autistik sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan terhadap inklusi.
“Barbie selalu berupaya merefleksikan dunia yang dilihat anak-anak dan kemungkinan yang mereka bayangkan.
Kami bangga memperkenalkan Barbie autistik pertama sebagai bagian dari upaya berkelanjutan ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa boneka ini “memperluas makna inklusi di rak mainan dan di luar itu, karena setiap anak berhak melihat dirinya di Barbie.”
Mengapa Representasi Ini Penting?
Meski secara teori siapa pun bisa membayangkan Barbie sebagai sosok autistik karena autisme tidak memiliki satu tampilan tertentu.
Kehadiran representasi yang eksplisit tetap memiliki dampak besar. Hal ini disampaikan Jolanta Lasota, CEO organisasi Ambitious about Autism.
“Representasi itu kuat, dan Barbie adalah mainan ikonik. Kami berharap banyak anak autistik merasa bangga melihat sebagian pengalaman mereka tercermin dalam boneka ini,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa anak-anak autistik sering enggan menggunakan alat bantu seperti ear defender atau mainan stim di sekolah karena takut terlihat berbeda.
Normalisasi visual melalui mainan, menurutnya, dapat membantu mengurangi stigma tersebut.
Lasota juga menekankan aspek gender.
Dengan anak perempuan tiga kali lebih jarang didiagnosis autistik dibanding anak laki-laki, Barbie ini sekaligus menyoroti pengalaman anak perempuan autistik yang kerap luput dari perhatian.
Mengubah Cara Anak Memahami Perbedaan
Ellie Middleton, penulis dan pendiri komunitas daring bagi individu neurodivergen, menilai kehadiran Barbie autistik dapat membantu mematahkan stereotip.
Ia mengaku diagnosis autistiknya terlambat karena tidak pernah melihat representasi yang terasa dekat dengan dirinya.
“Aku dan orang-orang di sekitarku tidak pernah mempertimbangkan bahwa aku mungkin autistik, karena kami tidak pernah melihat orang yang mirip denganku, bersikap seperti aku, atau memiliki kesamaan denganku yang diberi label tersebut,” paparnya.
Menurutnya, Barbie autistik mengirim pesan penting bagi anak-anak, khususnya anak perempuan: “Dia menunjukkan bahwa menjadi autistik itu tidak apa-apa, menjadi berbeda itu tidak apa-apa, dan perbedaan itu bisa dikenakan dengan bangga.”
Lewat boneka ini, Barbie tak lagi hanya soal gaya dan imajinasi, tetapi juga tentang penerimaan, empati, dan keberagaman pengalaman hidup anak-anak di dunia nyata.
***
(TribunTrends.com)
Sumber: TribunTrends.com
| Deretan Sepatu Mewah Bupati Tulungagung Gatut Sunu, Beli Pakai Uang Hasil Memeras, Harga Rp20 Jutaan |
|
|---|
| Libur Lebaran 2026 di Solo, Dari Safari Satwa hingga Romansa Kuliner Malam yang Harus Dikunjungi |
|
|---|
| Sate Buntel Solo, Menelusuri Jejak Kuliner Ikonik untuk Mudik Lebaran 2026 yang Wajib Dikunjungi |
|
|---|
| Filosofi Janur dan Maaf dalam Tradisi Lebaran Ketupat, Warisan Wali Songo yang Tak Lekang Zaman |
|
|---|
| Berburu Buah Tangan di Kota Bengawan, 5 Oleh-oleh Khas Solo yang Wajib Masuk Daftar Belanja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Representasi-Barbie-autistik-didesain-sedikit-menoleh-ke-samping.jpg)