Selebrita
Alasan Pilu Aurelie Moeremans Mengapa Baru Sekarang Berani Bicara Soal Grooming Lewat Broken Strings
Terungkap sudah mengapa Aurelie baru berani speak up tentang grooming lewat buku Broken Strings, singgung pola pikir masyarakat.
Editor: jonisetiawan
Ringkasan Berita:
- Melalui Broken Strings, Aurelie bersyukur karena masyarakat Indonesia kini lebih sadar soal grooming, relasi kuasa, dan menunjukkan empati
- Buku ini menjadi medium Aurelie membongkar pengalaman pahitnya sebagai korban grooming di usia 15 tahun
- Aurelie menilai meningkatnya rasa aman bagi penyintas untuk berbicara adalah indikator kemajuan sosial
TRIBUNTRENDS.COM - Keberanian Aurelie Moeremans menyuarakan luka masa lalunya bukan sekadar pengakuan personal, melainkan cermin perubahan zaman.
Melalui buku Broken Strings, Aurelie membuka pengalaman pahitnya sebagai korban grooming di usia 15 tahun sebuah cerita yang dahulu nyaris tak mendapat ruang, namun kini perlahan menemukan tempatnya di tengah kesadaran publik.
Alih-alih hanya berfokus pada luka, Aurelie justru mengaku bersyukur melihat bagaimana masyarakat Indonesia mulai berubah dalam menyikapi suara para penyintas.
Baca juga: Langkah Misterius Roby Tremonti saat Dituding Sebagai Sosok Bobby di Kisah Aurelie: Minta Wejangan
Refleksi atas Masa Lalu yang Sunyi
Dalam unggahan Instagram story yang dikutip pada Senin (12/1/2026), Aurelie mengenang masa ketika ia pertama kali mencoba bersuara di usia yang masih sangat muda.
Saat itu, respons publik terasa jauh berbeda dibanding hari ini.
“Aku bersyukur dan senang banget lihat bagaimana Indonesia sudah berkembang.
Waktu aku masih sangat muda dan pertama kali coba speak up, respons masyarakat jauh berbeda dengan sekarang,” tulis Aurelie.
Ia mengingat betul bagaimana suara korban kala itu sering kali disalahkan, dipelintir, bahkan diabaikan.
Banyak isu krusial terkait kekerasan, manipulasi, dan relasi kuasa yang luput dari perhatian, seolah tak layak untuk dibahas secara terbuka.
Perubahan yang Kini Terasa Nyata
Seiring berjalannya waktu, Aurelie melihat adanya pergeseran besar dalam cara masyarakat memahami isu grooming dan relasi kuasa.
Kesadaran publik dinilainya semakin tumbuh, dan empati mulai menggantikan penghakiman.
“Lebih banyak kesadaran tentang grooming. Lebih paham soal relasi kuasa. Lebih banyak empati, lebih sedikit penghakiman,” lanjutnya.
Bagi Aurelie, perubahan ini bukan hal kecil. Ini adalah tanda bahwa suara para penyintas kini mulai benar-benar didengar.
Broken Strings, Ruang Membuka Luka yang Lama Terkunci
Buku Broken Strings menjadi medium bagi Aurelie untuk membongkar pengalaman yang selama ini ia simpan rapat.
Di dalamnya, ia mengisahkan bagaimana relasi yang timpang, manipulasi emosional, serta tekanan sosial dapat membungkam korban dalam waktu yang sangat lama.
Melalui narasi tersebut, Aurelie ingin menunjukkan bahwa trauma tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh dari situasi yang kompleks dan sering kali tak terlihat oleh orang luar.
Baca juga: Roby Tremonti Manfaatkan Isu Trauma Aurelie Moeremans Demi Cuan, Buka Jasa Endorse: Langsung DM Aja
Syukur di Tengah Jalan yang Panjang
Aurelie menyadari bahwa perubahan tidak datang secara instan. Jalan menuju kesadaran kolektif masih panjang dan penuh tantangan.
Namun, ia tetap mensyukuri kenyataan bahwa kini ia hidup di masa ketika cerita seperti miliknya akhirnya mendapat ruang.
“Walaupun jalannya panjang, dan datangnya tidak cepat, aku tetap bersyukur bisa hidup di masa di mana cerita seperti ini akhirnya didengar dengan lebih utuh,” ungkapnya.
Rasa Aman untuk Bersuara sebagai Tanda Kemajuan
Lebih dari sekadar pengakuan, Aurelie menegaskan bahwa rasa aman untuk berbicara adalah indikator penting dari kemajuan sebuah masyarakat.
Menurutnya, ketika seseorang mulai merasa didukung untuk bersuara, itu berarti ada langkah ke arah yang benar.
“Kalau hari ini kamu merasa sedikit lebih aman untuk bersuara, berarti kita sedang berjalan ke arah yang benar,” kata Aurelie.
Baca juga: Aurelie Moeremans Menangis Tahu PDF Broken Strings Dijual Oknum: Buku Ini Aku Kasih Gratis!
Harapan untuk Para Penyintas Lain
Melalui Broken Strings, Aurelie berharap semakin banyak korban grooming dan kekerasan dalam relasi kuasa berani menyuarakan pengalaman mereka.
Ia ingin para penyintas mendapat dukungan dan empati, bukan penghakiman.
Atas dasar itulah, Aurelie memilih untuk menggratiskan buku Broken Strings, agar kisah dan pesan pemulihan di dalamnya dapat diakses oleh siapa pun tanpa hambatan.
Baginya, berbagi cerita bukan tentang membuka luka lama, melainkan tentang membuka jalan agar luka serupa tak lagi terulang.
***
(TribunTrends/Sebagian artikel diolah dari Kompas)
Jangan lewatkan berita-berita TribunTrends.com tak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook
Sumber: TribunTrends.com
| 'Ngapain Saya Bikin Drama Kayak Gitu?' Reaksi Ahmad Dhani Soal IG Hilang, Kini Akan Gunakan Pers |
|
|---|
| Ahmad Dhani Ngamuk Pakai Akun Dewa 19! Hilangnya IG Pribadi Jadi Pemicu Bongkar Borok Maia Estianty |
|
|---|
| Kronologi Lengkap Nenek di Pekanbaru Dibunuh Mantan Menantu, Barang Berharga Korban Digondol |
|
|---|
| Dua Konten Jule yang Dianggap Tidak Pantas Oleh Na Dae Hoon, Salah Satunya Anak Diberi Kosmetik |
|
|---|
| Video Lawas Ayah Ahmad Dhani, Akui Anaknya Nakal, Puji Maia Estianty, Tak Suka Mulan: Tingkah Over |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/BUKU-BROKEN-STRINGS-Isi-Broken-Strings-yang-ditulis-Aurelie-Moeremans.jpg)