Keluarga Cendana

Kisah Masa Kecil Soeharto, Diasingkan Orangtua, Dulu Isunya Anak Bangsawan Dititip ke Orang Biasa

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Masa kecil Soeharto masih jadi misteri, dulu rumornya anak Ningrat yang dititipkan ke orang biasa.

TRIBUNTRENDS.COM - Kehidupan pribadi mantan Presiden Indonesia Soeharto memang selalu menarik untuk dikulik.

Hingga kini masa kecil Soeharto masih meninggalkan misteri.

Dulunya beredar isu Soeharto merupakan anak seorang Ningrat yang dititipkan ke orang biasa.

Semasa kecilnya hidup Soeharto jauh dari kemewahan, ia bahkan sempat diasingkan oleh orangtuanya.

Baca juga: Inilah Bisnis yang Dikelola Anak Soeharto hingga Sekarang, Kekayaan Siapa yang Paling Banyak?

Soeharto kecil hidup susah (Kolase Tribun Medan)

Menurut New World Encyclopedia, Ada catatan standar dan apokrif tentang tahun-tahun awal dan kehidupan keluarganya, banyak yang sarat dengan makna politik.

Orang tua Soeharto, ibunya Sukirah dan ayahnya Kertosudiro, adalah etnis Jawa dan kelas petani, tinggal di daerah tanpa listrik atau air ledeng.

Pernikahan ayahnya Kertosudiro dengan Sukirah merupakan pernikahan keduanya, di mana sebelumnya dia sudah memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya.

Pernikahan Kertosudiro dengan Sukirah diyakini berakhir dengan perceraian di awal kehidupan Soeharto, kedua orang tuanya kemudian menikah lagi.

Dalam catatan lain, dikutip dari ABC News, Soeharto lahir tahun 1021 di sebuah gubuk bambu di Hindia Belanda dengan memiliki 11 saudara tiri.

Soeharto diasingkan oleh kedua orang tuanya dalam jangka waktu yang lama.

Ia kemudian berpindah-pindah ke beberapa rumah tangga di sebagian masa awal kehidupannya.

Pernikahan bibi dari pihak ayahnya dengan seorang pejabat rendahan di Jawa bernama Prawirowiharjo, yang membesarkan Soeharto sebagai anaknya sendiri.

Menurut catatan penulis biografi Elson (2001) ia telah menjadi sosok ayah dan teladan bagi Soeharto, serta sebuah rumah di Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.

Tempat di mana ia menerima sebagian besar pendidikan dasarnya.

Soeharto tinggal di asrama seorang dukun atau seorang ahli spiritual mistik Jawa dan seorang tabib.

Sebuah pengalaman yang sangat mempengaruhi Soeharto yang kemudian membuatnya menjadi presiden.

Tidak adanya dokumentasi resmi dan aspek-aspek tertentu dari kehidupan awal Soeharto yang tidak sesuai dengan kehidupan seorang petani Jawa.

Seperti misalnya, Soeharto menerima pendidikan sejak usia dini, telah menimbulkan beberapa rumor bahwa Soeharto adalah anak haram dari seorang kaya.

Rumor yang termasuk anak bangsawan Yogyakarta atau saudagar Tionghoa Indonesia yang kaya.

Menurut penulis biografi Soeharto, Robert E. Elson, percaya bahwa rumor semacam itu tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan, mengingat banyak informasi yang diberikan Suharto tentang asal usulnya diwarnai dengan makna politik. 

Baca juga: Pabrik Uang Bambang Trihatmodjo, Mayangsari Diomeli Anak Soeharto Kalau Tak Habiskan Rp 10 Juta/hari

Seperti dicatat oleh Elson (2001) dan yang lainnya, pola asuh Soeharto berbeda dengan tokoh Nasionalis terkemuka di Indonesia seperti Soekarno.

Karena ia diyakini tidak begitu tertarik pada anti-kolonialisme, atau permasalahan politik di luar lingkungan terdekatnya.

Berbeda dengan Soekarno, ia juga buta huruf dalam bahasa Belanda atau bahasa-bahasa Eropa lainnya.

Namun, dia akan belajar bahasa Belanda setelah dilantik menjadi militer Belanda pada tahun 1940.

Soeharto Kecil Kesal Dipanggil 'Den Bagus'

Berbicara tentang Soeharto adalah berbicara tentang pradoks. Bagaimana tidak, dibanding tokoh-tokoh pergerakan lainnya, Pemuda Kemusuk, Bantul, itu tidak ada apa-apanya.

Dia tidak berdarah biru, juga bukan lulusan sekolah elite lebih-lebih luar negeri.

Soeharto, bagaimanapun juga, adalah sosok yang unik.

Mengutip Kompas.ID, "Dia sendiri sering menyebut dirinya sebagai anak petani. Anak Desa Kemusuk yang memantik mimpi jutaan anak Indonesia pada masanya untuk meraih masa depan yang lebih cerah, apa pun latar belakangnya."

Soeharto lahir pada 1921 dalam kondisi miskin di tengah penjajahan Belanda lalu dilanjutkan Jepang dan perang kemerdekaan.

Soeharto juga tidak punya jejak mentereng dalam dunia pergerakan nasional (bandingkan dengan Soekarno, misalnya).

Lewat bukunya yang berjudul Young Soeharto: The Making of a Soldier 1921-1945, David Jenkins mencoba menyoroti masa muda Presiden Ke-2 RI itu.

Buku itu dikatapengantari oleh Indonesias kenamaan, Ben Anderson.

"Bagaimana dan mengapa orang seperti Soeharto bisa naik ke kekuasaan dan bertahan selama itu?" tanya Ben dalam pengantar buku tersebut.

Sebagai informasi, buku Young Soeharto adalah buku pertama dari trilogi biografi Soeharto yang ditulis jurnalis Australia yang pernah bertugas di Indonesia itu.

Dan bukan kali ini saja Jenkins menulis tentang Soeharto.

Bahkan buku sebelumnya yang berjudul Soeharto and His Generals membuat Jenkins sempat dilarang masuk Indonesia hingga tahun 1993.

Tapi berkat jasa Jenderal Soemitro, dia bisa kembali bekerja di Indonesia hingga 15 tahun kemudian.

Politikus Australia, Gareth Evans menggambarkan Soeharto dengan dua kata: multi dualisme.

Menurutnya, Soeharto adalah sosok pemimpin dan negarawan yang berwawasan ke depan, tapi di sisi lain dia adalah seorang diktator.

Soeharto murah senyum dan sederhana, tapi kejam.

Soeharto menyayangi menteri-menterinya yang bisa bekerja, tapi korup. Soeharto bisa membangun ekonomi, tapi mematikan demokrasi.

Menurut Jenkins, Soeharto adalah sosok yang berhasil melesat walau perjalanan hidupnya penuh dengan pergulatan, bahkan sejak bayi.

Ayahnya bernama Karterejo, seorang pengatur pengairan desa, ibunya Sukirah yang adalah istri kedua Karterejo.

Ketika usia Soeharto belum 40 hari, ibunya meninggalkannya.

Konon katanya, Sukirah yang stres setelah melahirkan Soeharto menghilang.

Seminggu kemudian, dia ditemukan di atas rumah dalan keadaan sudah lemas.

Kelak di kemudian hari, persoalan ini menjadi semacam desas-desus di kalangan para elite hingga puluhan tahun kemudian.

Muncul rumor jika ayah dan ibunya tidak harmonis karena sejak awal Sukirah telah hamil dengan bangsawan tapi dibuang ke desa dan dinikahi Kertorejo.

Tapi isu dibantah oleh Soeharto, dia menegashkan bahwa dirinya bukan berdarah biru.

Bertahun-tahun kemudian, Soeharto lantas menjelaskan kedekatan hubungan ibunya dengan bangswan di Yogyakarta.

Baca juga: Sosok Haryo Putra Wibowo Cicit Soeharto yang Jenius, Usia 18 Raih Gelar Master, Anak Ari Sigit

Dia ingat, saat sering dikatai Den Bagus tahi mabhul (tahi kering) oleh teman-teman sepermainan kelereng.

Dengan kata lain, ia diejek sebagai sisa buangan priyayi. Saat itu Soeharto berusia delapan tahun dan ia masih ingat ejekan itu.

Tak pelak, Soeharto kesal dengan panggilan tersebut karena dia merasa berasal dari keluarga miskin.

Baginya, panggilan itu tak lebih dari sekadar hinaan bagi dirinya. "Sudah miskin, saya juga masih menghadapi hinaan ini,” tulis Jenkins mengutip Soeharto.

Begitulah masa kecil Soeharto yang jauh dari hidup mewah karena orangtuanya hanyalah orang desa yang miskin dan tak punya darah biru.

TribunTrends/Intisari

Tags: