Kunci Jawaban
Permasalahan Apa yang Pernah Anda Hadapi? Kunci Jawaban Studi Kasus PPG 2025 Kelas 1 SD
Berikut ini 5 studi kasus PPG 2025 kelas 1 SD yang dapat Anda jadikan sebagai referensi pengerjaan selengkapnya.
Editor: Amir M
TRIBUNTRENDS.COM - 'Permasalahan apa yang pernah Anda hadapi?'
Bapak/ibu guru yang mengikuti Uji Kompetensi Peserta Pendidikan Profesi Guru (UKPPPG) 2025 akan menemukan pertanyaan di atas sebagai pemantik untuk membuat studi kasus PPG 2025 kelas 1 SD maksimal 500 kata berdasarkan pengalaman nyata.
Berikut ini 5 studi kasus PPG 2025 kelas 1 SD yang dapat Anda jadikan sebagai referensi pengerjaan selengkapnya.
1. Studi Kasus PPG 2025 I
Mengatasi Rendahnya Kemandirian Siswa
- Permasalahan apa yang pernah Anda hadapi?
Siswa kelas 1 saya sangat bergantung pada instruksi guru untuk tugas sederhana, seperti mengeluarkan buku atau pensil. Mereka sering menunggu arahan berulang, membuat proses transisi kelas lambat.
- Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?
- Visualisasi Instruksi: Saya membuat kartu visual langkah-langkah rutinitas harian (misalnya, "Keluarkan Buku") yang ditempel di depan kelas.
- Modelisasi dan Latihan: Saya memodelkan langsung setiap tugas baru, lalu siswa menirukannya secara berulang. Ini penerapan Ing Ngarsa Sung Tuladha.
- Tanggung Jawab Bergilir: Saya memberikan tugas-tugas kecil secara bergiliran (misalnya, "Penjaga Pintu" atau "Pembagi Kertas") untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan kemandirian.
- Menunda Bantuan Langsung: Ketika siswa meminta bantuan, saya bertanya, "Apa yang sudah kamu coba?" atau "Coba lihat kartu instruksi kita." Saya hanya memberi petunjuk, bukan melakukan tugasnya. Ini adalah contoh Tut Wuri Handayani dalam mendorong kemandirian.
- Apresiasi Kemandirian: Setiap kemajuan kecil dalam kemandirian selalu saya puji secara spesifik.
- Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?
Kemandirian siswa meningkat signifikan. Transisi antaraktivitas lebih cepat, dan ketergantungan pada saya berkurang. Kelas menjadi lebih efisien, dan siswa tampak lebih percaya diri serta inisiatif.
- Pengalaman berharga apa yang bisa Anda petik ketika menyelesaikan permasalahan tersebut?
Kemandirian adalah keterampilan yang harus dilatih secara sistematis. Instruksi yang jelas, visual, dan berulang sangat krusial. Memberikan kesempatan siswa untuk "melakukan" sendiri dan menunda bantuan langsung sangat efektif. Pemberian tanggung jawab kecil juga membangun kemandirian dan kepemilikan.
2. Studi Kasus PPG 2025 II
Siswa Sulit Memegang Pensil dan Menulis
- Permasalahan apa yang pernah Anda hadapi?
Beberapa siswa belum bisa memegang pensil dengan benar dan menulis huruf dengan rapi. Saat menulis, mereka cepat lelah dan hasil tulisannya tidak terbaca.
- Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?
Saya memasukkan kegiatan motorik halus ke dalam pembelajaran seperti menjiplak bentuk, menjumput benda kecil, dan menggambar pola menggunakan jari. Saya juga memberi contoh cara memegang pensil yang benar, serta menggunakan kertas bergaris besar untuk latihan menulis.
- Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?
Perlahan siswa mampu memegang pensil lebih baik dan tulisan mereka mulai rapi. Mereka menjadi lebih percaya diri saat mengerjakan tugas yang melibatkan keterampilan menulis.
- Pengalaman berharga apa yang bisa Anda petik ketika menyelesaikan permasalahan tersebut?
Kesiapan fisik dan motorik anak sangat berpengaruh terhadap keterampilan akademik dasar. Guru kelas 1 harus memperhatikan perkembangan motorik sebelum menuntut capaian kognitif.
3. Studi Kasus PPG 2025 III
Siswa Tidak Bisa Membaca Saat Masuk Kelas 1
- Permasalahan apa yang pernah Anda hadapi?
Permasalahan yang pernah saya hadapi adalah dalam proses pembelajaran beberapa siswa belum tuntas dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan. Keterampilan membaca dan menulis permulaan membutuhkan latihan dalam membaca dan menulis huruf, suku kata, kata, dan kalimat yang benar.
Ketika siswa belum memiliki keterampilan membaca dan menulis permulaan, siswa tersebut mengalami banyak kesulitan dalam tugas belajarnya. Beberapa siswa tersebut juga mengganggu siswa lainnya dalam mengerjakan tugas belajar.
- Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?
Upaya yang saya lakukan dalam menyelesaikan masalah ini adalah melakukan tes awal untuk melihat kemampuan awal siswa yaitu keterampilan membaca dan menulis permulaan.
Saya juga menerapkan metode eja dimana siswa diharuskan untuk mengetahui setiap lambang huruf kemudian menyusunnya menjadi kata. Apabila tidak diulang terus-menerus maka siswa akan lupa dengan bentuk dan bunyi huruf.
Saya juga menerapkan metode SAS yaitu suatu pendekatan cerita yang disertai dengan gambar, yang didalamnya terkandung unsur analitik. Metode ini membuat anak mudah mengikuti prosedur dan akan dapat cepat membaca pada kesempatan berikutnya.
- Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?
Hasil dari upaya tersebut adalah siswa terlihat senang dan menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa perlahan dapat meningkatkan kemampuan membaca menulis permulaan. Keterampilan membaca dan menulis permulaan membutuhkan latihan siswa dalam membaca dan menyusun huruf, suku kata, kata, dan kalimat yang benar.
Melalui latihan membaca menulis permulaan, siswa dapat membaca dan menulis huruf, suku kata, kata dan kalimat sederhana dengan tepat. Tipe minat belajar yang berbeda juga perlu membutuhkan cara pengajaran yang berbeda. Oleh karena itu, dibutuhkan metode pembelajaran yang cocok yaitu metode eja dan metode SAS.
- Pengalaman berharga apa yang bisa Anda petik ketika menyelesaikan permasalahan tersebut?
Pengalaman berharga yang bisa saya petik ketika menyelesaikan permasalahan tersebut, dalam menentukan tes awal seperti apa yang harus saya lakukan untuk mengetahui kemampuan awal membaca dan menulis permulaan.
Kemudian saya membuat buku profiling siswa untuk menentukan metode apa yang diterapkan seperti metode eja dan metode SAS. Saya harus meluangkan waktu lebih banyak untuk menyusun rancangan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
4. Studi Kasus PPG 2025 IV
Siswa Sering Menangis dan Tidak Mau Berpisah dari Orang Tua
- Permasalahan apa yang pernah Anda hadapi?
Beberapa siswa baru kelas 1 sering menangis saat diantar ke sekolah, bahkan menolak masuk kelas. Mereka tampak cemas dan tidak nyaman berpisah dari orang tua.
- Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?
Saya membangun komunikasi intensif dengan orang tua dan membuat kegiatan transisi yang menyenangkan di pagi hari seperti bernyanyi, bermain peran, atau membaca cerita bersama. Saya juga memberi siswa tanggung jawab kecil seperti "penjaga buku" atau "asisten guru" agar mereka merasa penting dan betah di kelas.
- Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?
Setelah satu bulan, suasana kelas menjadi lebih hangat. Anak-anak yang awalnya menangis mulai tersenyum, bahkan sudah bisa masuk sendiri ke kelas tanpa didampingi. Mereka lebih nyaman berinteraksi dengan teman dan guru.
- Pengalaman berharga apa yang bisa Anda petik ketika menyelesaikan permasalahan tersebut?
Saya menyadari bahwa pendekatan emosional sangat penting di awal masa sekolah. Rasa aman dan nyaman akan menumbuhkan semangat belajar siswa. Guru harus menjadi figur yang menyenangkan dan bisa dipercaya oleh anak.
5. Studi Kasus PPG 2025 V
Mengatasi Sulitnya Beradaptasi dan Berinteraksi Sosial pada Siswa Kelas 1 SD
- Permasalahan apa yang pernah Anda hadapi?
Ada satu siswa yang sangat pemalu dan cemas di awal sekolah. Ia sering menangis saat ditinggal orang tua, menunduk di kelas, jarang merespons, dan menyendiri saat istirahat. Ini menghambat partisipasinya dalam kegiatan sosial.
- Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?
Pendekatan Personal & Empati: Setiap pagi, saya menyambutnya dengan hangat, menanyakan kabarnya singkat tanpa memaksanya bicara. Saya ingin ia merasa aman.
- Membangun Jembatan dengan Orang Tua: Saya menghubungi orang tua untuk memahami kebiasaan siswa tersebutdan menyepakati strategi, seperti ritual perpisahan pagi yang positif.
- Strategi "Buddy System": Saya memilih dua siswa ramah untuk menjadi "sahabat" siswa tersebut, meminta mereka mengajaknya bermain atau menemani di kelompok, sesuai prinsip Tut Wuri Handayani.
- Permainan Kooperatif: Saya merancang aktivitas yang minim tekanan verbal, misalnya mewarnai gambar besar bersama, di mana ia hanya membantu memegang krayon. Perlahan, saya memberinya peran kecil.
- Pujian Positif: Saya selalu memuji setiap kemajuan kecil siswa tersebutsecara spesifik.
- Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?
Dalam sebulan, tangisan siswa tersebutberkurang drastis. Ia mulai tersenyum, berani merespons (meski belum lisan), dan bergabung dalam kelompok. Komunikasi dengan orang tua membaik. Siswa tersebut terlihat lebih nyaman dan mulai menikmati sekolah.
- Pengalaman berharga apa yang bisa Anda petik ketika menyelesaikan permasalahan tersebut?
Kesabaran dan pendekatan individual sangat penting. Menciptakan rasa aman adalah fondasi utama. Kolaborasi dengan orang tua mutlak dilakukan dengan empati, bukan penghakiman. Dukungan bertahap jauh lebih efektif daripada pemaksaan.
(Sonora.ID/ Gema Buana Dwi Saputra)
Artikel ini telah tayang di Sonora.ID
Sumber: Tribunnews.com
Contoh Jawaban Ayo Bercerita Halaman 51 Pancasila Kelas 4 SD |
![]() |
---|
PPKn Kelas 4 Halaman 41–42: Jawaban Aktivitas Diskusi Nilai Pancasila |
![]() |
---|
Jawaban Aktivitas Mengamati Gambar, Pendidikan Pancasila Kelas 4 Halaman 42 |
![]() |
---|
Lembar Aktivitas 8 Ekonomi Kelas 11: Jawaban Soal Menghitung SHU Halaman 30–31 |
![]() |
---|
Jawaban Mari Berpikir Kritis Matematika Kelas 11 Halaman 26 Kurikulum Merdeka |
![]() |
---|