Breaking News:

Berita Viral

Dedi Mulyadi Semprot Oknum Suporter Persikas, Murka Momen Haru Terganggu: 'Cari Siapa Orangnya!'

Amarah Dedi Mulyadi tak terbendung. Oknum suporter Persikas kena semprot akibat ulah mereka yang tak pas saat momen haru berlangsung.

|
Editor: Suli Hanna
YouTube TribunBengkulu
KDM AMUK SUPORTER - Foto tangkapan layar berita Dedi Mulyadi semprot oknum suporter Persikas di Subang. Amarah Dedi Mulyadi tak terbendung. Oknum suporter Persikas kena semprot akibat ulah mereka yang tak pas saat momen haru berlangsung. 

TRIBUNTRENDS.COM - Amarah Dedi Mulyadi tak terbendung. Oknum suporter Persikas kena semprot akibat ulah mereka yang tak pas saat momen haru berlangsung.

Suasana forum yang semula penuh haru tiba-tiba berubah menjadi tegang.

Rabu siang (28/5/2025), di tengah sesi penuh empati ketika Dedi Mulyadi tengah membantu seorang ibu dan anak yang hidup dalam kesusahan, sekelompok suporter sepak bola justru membuat gaduh.

Tindakan mereka bukan sekadar teriakan.

Mereka mengangkat spanduk besar bertuliskan “Selamatkan Persikas”, memancing kemarahan Dedi Mulyadi yang tak bisa lagi menahan emosinya.

"Hey berhenti kamu. Duduk. Ini bukan forum Persikas, ini forum saya!" bentak Dedi lantang, suaranya menggelegar memecah suasana.

Dengan wajah memerah dan gestur tegas, Gubernur Jawa Barat itu berdiri dari kursinya, menunjuk langsung para pemuda tersebut.

Baca juga: Jam Malam Siswa di Jabar Diberlakukan Juni 2025, Dedi Mulyadi: Keluyuran di Atas 21.00 WIB Dihukum!

DEDI MULYADI NGAMUK DI SUBANG - Tampang Suporter Persikas yang Diamuk Dedi Mulyadi di Subang
DEDI MULYADI NGAMUK DI SUBANG - Tampang Suporter Persikas yang Diamuk Dedi Mulyadi di Subang (TikTok/Youtube Humas Jabar)

"Siapa kamu? Turunkan spanduknya, turunkan.

Hey jangan sok jago di sini kamu.

Gak mikir kamu! Ini bukan forum Persikas, ini forum saya dengan rakyat. Mikir kamu!" serunya, nyaris tak terbendung.

Dedi merasa tersinggung berat.

Di saat dia mencoba menyelami penderitaan rakyat, segelintir orang malah asyik mengusung agenda yang menurutnya sama sekali tak relevan.

"Punya otak kamu ngaku anak muda?

Ngaku berpendidikan? Gak punya otak!

Ini penderitaan rakyat, bukan urusan Persikas!" katanya, nadanya naik beberapa oktaf.

"Urusan Persikas itu di lapangan, bukan di sini! Dan itu bukan urusan saya!"

Tak berhenti sampai di situ, Dedi pun menantang secara terbuka.

"Siapa kamu? Maju sini! Cari siapa orangnya, bawa ke saya.

Ini bukan tempat kalian menyuarakan klub bola kalian!"

Suasana makin menegang ketika Dedi memerintahkan aparat untuk mengamankan para suporter.

"Cari. Saya tidak terima. Saya tidak terima anda. Anak muda tidak punya otak kamu!" hardiknya dengan mata tajam.

"Kalau kamu anak sekolah, saya cari kamu sekolah di mana. Kalau mahasiswa, saya cari kamu kuliah di mana!"

Satu persatu suporter diminta duduk diam.

Beberapa bahkan tampak jongkok diawasi polisi dan TNI. Spanduk mereka? Disita di tempat.

"Ambil spanduknya! Saya pikir saya takut sama kalian?!" tantang Dedi lagi, nadanya penuh api.

Setelah ledakan amarah yang cukup panjang, Dedi perlahan mulai tenang.

Namun kata-katanya masih menusuk.

"Sudah ya. Ini yang disebut orang pakai otak.

Lihat ini forum apa? Ini bukan forum Persikas!" katanya sambil menarik napas panjang.

"Kalau nyampein soal Persikas mau diambil orang, itu bukan urusan saya. Sana ke siapa!"

Dedi kemudian menjelaskan pandangannya secara lugas—bahwa Persikas bukan prioritas rakyat saat ini.

"Hey kamu, Persikas pindah kemanapun tidak akan mempengaruhi orang miskin bisa makan.

Rakyat Subang hari ini butuh jalan yang bagus, sekolah yang layak!"

Dengan penuh keyakinan, ia menambahkan:

"Itu urusan kamu, hobi kamu. Tapi jangan abaikan kebutuhan dasar masyarakat Subang!"

Dedi menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan mampu membiayai klub bola hingga ke level liga profesional.

"Ngurus sepak bola buat masuk Liga 1 atau Liga 2 itu butuh duit besar.

Pemda Subang gak akan cukup duitnya buat itu," katanya.

Spanduk yang Membakar Emosi

Foto spanduk bertuliskan “Selamatkan Persikas” pun viral di media sosial, menjadi pemicu utama amarah Dedi Mulyadi.

Aksi suporter yang mungkin awalnya hanya ingin menyuarakan keresahan, berubah menjadi bumerang ketika dilakukan di waktu dan tempat yang salah.

Dalam forum yang semestinya jadi panggung penderitaan rakyat, mereka menyelipkan suara yang menurut Dedi tak ada empatinya.

Amarah Dedi Mulyadi hari itu bukan hanya tentang bola, tapi soal ketidaksempurnaan prioritas di tengah krisis. Ia memilih berpihak pada ibu dan anak yang kelaparan, bukan pada sorak-sorai tribun.

(TribunTrends.com/ TribunnewsBogor.com/ Disempurnakan dengan bantuan AI)

Sumber: Tribun Bogor
Tags:
Dedi MulyadisuporterPersikasSubangJawa Barat
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved