Breaking News:

Persatuan Jurnalis Rusia Tuduh YouTube Lakukan Blokir & Sensor, 2 Kanal Hilang, Singgung Norma Hukum

Dua kanal hilang, Persatuan Jurnalis Rusia tuduh YouTube lakukan pemblokiran, dua kanal hilang dan singgung soal norma hukum

Penulis: Nafis Abdulhakim
Editor: Suli Hanna
businessinsider.com
Ilustrasi pengguna YouTube. 

TRIBUNTRENDS.COM - Dua kanal hilang, Persatuan Jurnalis Rusia tuduh YouTube lakukan pemblokiran.

Selain itu mereka menuduh pihak YouTube juga melakukan 'penyensoran'.

Mereka kemudian bersuara untuk melakukan tindakan tertentu atas apa yang dilakukan YouTube.

Dilansir dari AFP via Kompas.com, Jumat (25/3/2022), muncul peningkatan kekhawatiran yang menyebut perusahaan asal Amerika Serikat itu mungkin mengikuti sejumlah larangan atas platform yang akhir-akhir ini bergerak begitu cepat di Rusia.

"Moderasi yang bias dan sensor terbuka oleh platform digital harus memiliki konsekuensi sesuai dengan norma hukum Rusia," kata kepala Persatuan Jurnalis Rusia Vladimir Solovyev seperti dikutip kantor berita Interfax.

Baca juga: SOSOK Reporter Rusia yang Tewas di Kyiv, Perjalanan Karier Jurnalis Oksana Baulina Disorot

Baca juga: Terlalu Suka McDonalds, Pria Ini Rantai Dirinya di Pintu Gerai McD di Rusia Supaya Tidak Tutup

Ilustrasi YouTube
Ilustrasi YouTube (pixabay)

"Kami mendesak pihak berwenang Rusia untuk bereaksi terhadap situasi ini dan mengambil tindakan yang tepat terhadap Google dan layanan hosting video YouTube," lanjutnya.

Selain itu, menurut Solovyev, serikat pekerja akan mengajukan permintaan yang relevan dengan beberapa elemen pemerintah.

Di antaranya jaksa Rusia, kementerian luar negeri, dan regulator media negara tersebut.

Ada dua kanal yang dihapus oleh YouTube, TNT dna NTV dari platform-nya.

Dua kanal tersebut milik perusahaan induk media terbesar rusia dna anak perusahaan raksasa energi negara Gazprom.

Kedua kanal tersebut dihapus secara terpisah.

"Keputusan YouTube untuk memblokir saluran dengan jutaan pelanggan benar-benar mengejutkan," kata Gazprom-Media di Telegram.

Mereka mengatakan, tindakan YouTube tersebut 'bias secara politik dan melanggar kepentingan pemirsa'.

Grup media milik negara Rossiya Segodnya mengatakan, kantor beritanya Spuntnik juga telah dilarang penyiarannya di Uni Eropa.

Halaman
123
Tags:
Rusia
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved